Jakarta – Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono menilai perjanjian dagang RI-AS bisa menyelamatkan Indonesia dari karakteristik Presiden Donald Trump yang bermental penindas.
Menurutnya, tidak ada negara yang aman dari ketidakstabilan kebijakan Amerika Serikat.
Karena itu, kata Riandy, langkah pemerintah meneken dokumen perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS merupakan upaya untuk mengamankan posisi Indonesia.
“Kalau kita nggak bisa mukul bullying, kita masuk geng itu paling nggak. Saya pikir itu jawabannya,” ujarnya saat media briefing di kantor CSIS, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026, dilansir Tempo.co.
Riandy menilai tidak ada manfaat ekonomi yang dihasilkan dari perjanjian dagang tersebut. Dokumen perjanjian ART, tambah dia, sebenarnya bukan masalah tarif, melainkan soal bagaimana AS membela kepentingan komersial dan keamanan negaranya.
Baca juga: Perjanjian Dagang RI-AS Dinilai Ancam Hak Ekonomi Perusahaan Pers Indonesia
Riandy menjelaskan, 1.819 produk Indonesia yang berhasil mendapatkan tarif nol persen, hanya mencakup sekira dua persen dari total ekspor Indonesia.
“Jadi dari seluruh ekspor kita ke Amerika itu cuma 24 persen yang mendapat tambahan nol persen. Perlu dicatat, ekspor kita ke Amerika itu cuma 10 persen, jadi total akses pasar yang kita amankan dari total trade kita cuma dua persen,” ujarnya.
Poin lain yang disorot Riandy adalah produk tekstil yang mendapatkan tarif nol persen dengan mekanisme tariff rate quota. Melalui skema itu, besaran kuota bebas tarif ditentukan berdasarkan seberapa banyak produk ekspor yang menggunakan bahan baku asal AS.
Masalahnya, kata Riandy, sebagian besar bahan baku tekstil yang digunakan di Indonesia seperti kapas dan man-made fiber diimpor dari Cina.
Bahan baku kapas yang diimpor dari AS hanya sekitar 8,6 persen. Sedangkan dari Cina mencapai 29,4 persen. Kemudian, bahan baku man-made fiber dari AS hanya mencakup 0,3 persen. Sedangkan dari Cina mencapai 65,1 persen. Terlebih lagi, bahan baku dari AS harganya lebih mahal.
“Untuk menggunakan bahan baku dari Amerika akan ada disrupsi yang cukup besar dari rantai pasok.”
Baca juga: Sorot Kesepakatan Dagang RI-AS, Waketum MUI: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian dagang resiprokal alias Agreement of Reciprocal Trade (ART) di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat pagi, 20 Februari 2026, waktu Indonesia. Penandatanganan ini sekaligus meresmikan pengenaan tarif produk Indonesia ke AS menjadi 19 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tujuan dan visi ART adalah untuk mewujudkan kemakmuran, mendukung rantai pasok yang kuat, dan menghormati kedaulatan dari dua negara.
“Jadi saya garis bawahi, menghormati kedaulatan dari masing-masing negara. Itu menjadi bagian dari perjanjian yang ditandatangani,” kata Airlangga dalam konferensi pers pada Jumat, 20 Februari 2026.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy