Lupa Berutang Kepada Siapa? Ini Solusinya Menurut Islam

Ilustrasi utang. Foto: Pixabay.com
Ilustrasi utang. Foto: Pixabay.com

Islam mengajarkan, hukum membayar utang adalah wajib yang tidak boleh ditunda bila sudah mendapatkan rezeki. Melalaikan membayar utang merupakan dosa besar dan mendapatkan ancaman serius dari Allah SWT.

Namun, adakalanya seseorang lupa kepada siapa saja dia berutang. Lantas apa hukumnya dalam Islam ketika kita ingin menunaikan utang tapi tidak tahu harus membayar ke siapa?

Dikutip dari NU Online, utang-piutang merupakan hak adami yang memang harus diselesaikan segera sebelum dituntut di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik itu harga diri ataupun ‎perkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari yang mana dinar dan ‎dirham sudah tidak berlaku. Jika dia ‎memiliki amal saleh maka akan diambil dari pahala amalan salehnya sebanyak kezalimannya, dan ‎jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminya kemudian dibebankan kepadanya.“ (HR Al-Bukhari).

Lantas, bagaimana cara kita meminta halal ketika tidak tahu kepada siapa kita berutang?

Untuk hal ini perlu kiranya kita menyimak penjelasan Imam Al-Ghazali terkait tobat dari hak adami berupa harta benda yang ada di kitab Minhajul ‘Abidin dengan penjelasan syarahnya, kitab Sirajut Thalibin karya ulama Nusantara Syekh Ihasan Jampes. Imam Ghazali berkata: “Adapun dosa yang berkaitan dengan harta, maka engkau harus mengembalikannya kepada pemiliknya jika mungkin dilakukan”.

Yang dimaksud dengan dosa berkaitan dengan harta tersebut menurut Syekh Ihsan mencakup mengambil harta orang dengan tanpa hak atau yang dikenal dengan istilah ghashab (termasuk pula tidak membayar utang), mengkhianati seseorang, mengambil keuntungan dengan cara menipu, menutupi aib ketika menjual barang, atau mengurangi upah seseorang dari yang seharusnya.

Hak adami berupa harta akibat beberapa praktik tersebut wajib dikembalikan kepada pemilikinya. Lalu bagaimana jika tidak mungkin dilakukan? Imam Al-Ghazali melanjutkan: “Jika engkau tidak sanggup mengembalikan karena ketiadaan harta tersebut dan karena fakir tidak memiliki penggantinya, maka harus kamu meminta kerelaannya pada yang bersangkutan. Jika hal tersebut masih tidak sanggup kamu lakukan karena yang bersangkutan tidak diketahui keberadaannya atau karena dia sudah wafat, maka sedekahlah untuk yang bersangkutan jika mungkin”.

Menurut Syekh Ihsan Jampes sedekah tersebut diniatkan untuk mengganti harta yang menjadi tanggungan hak adami dari pemiliknya. Jadi bukan sedekah atas nama dirinya sendiri.

Jika hal itu masih tidak mungkin dilakukan, solusi terakhir dari Imam Al-Ghazali adalah sebagai berikut: “Kalau itu pun tidak mungkin dilakukan, maka perbanyaklah berbuat baik dan memohonlah kepada Allah dengan kerendahan dan sepenuh hati agar di hari Kiamat kelak yang bersangkutan merelakan haknya yang ada padamu”.

Syekh Ihsan Jampes mempertegas maksud dari Imam Al-Ghazali: “Perbanyaklah kebaikan sampai kebaikan tersebut meluap melebihi untuk diletakkan di timbangan para penuntut yang hartanya ada pada dirimu. Hendaklah kebaikanmu tersebut sebanyak dan sebanding dengan kezhalimanmu”.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hak adami yang berkaitan dengan harta adalah hal yang sangat berat tuntutannya kelak di hari kiamat. Karena itu, kita harus berusaha untuk mencari tahu dan mengingat kepada siapa saja kita berutang. Itulah kenapa dalam surat Al-Baqarah ayat 282 Allah memerintahkan kita untuk selalu mencatat transaksi utang-piutang.

Jika masih belum ketemu namun kita mengetahui nominal utangnya, maka kita dapat bersedekah sejumlah nominal tersebut atas nama pemberi utang. Jika ternyata kita tidak mampu karena kondisi keuangan kita yang tidak mencukupi, maka minimal memperbanyak kebaikan sekiranya kelak cukup untuk menutupi tuntutan pemberi utang. Wallahu a’lam.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy