Pj. Wali Kota Lhokseumawe A. Hanan belajar menganyam tikar setelah ia membuka Pelatihan Pembinaan Pelaku UMKM Perajin Anyaman Tikar Tradisional Aceh, di Balai Musala Gampong Jambo Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Selasa (2/4/2024). Foto: Istimewa

A. Hanan dengan wajah berhias senyum sekonyong-konyong duduk di dekat seorang emak. Penjabat Wali Kota Lhokseumawe itu meminta sang emak mengajarinya menganyam tikar. Emak tersebut menyanggupi dengan cekatan. Tangan si emak bergerak lincah memandu Hanan menganyam tikar berbahan baku pandan.

Ny. Ainal Mardhiah, istri Hanan segera bergabung. Pj. Ketua Tim Penggerak PKK Lhokseumawe itu duduk di sisi kiri Hanan. Ainal mengamati dengan saksama gerakan tangan Hanan belajar menganyam. Di belakang mereka, Kepala Bank Aceh Syariah Lhokseumawe, Taufik Saleh, Asisten II Sekda Lhokseumawe, Tgk. H. Anwar, Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah M. Rizal, Camat Blang Mangat Safriadi, dan sejumlah orang lainnya menjadi saksi Hanan menganyam tikar tradisional Aceh. Para saksi tersebut mengumbar senyum. Semuanya riang gembira.

Nyoe neu tarek bek keundo (Begini ditarik agar tidak kendur),” kata sang emak sambil memandu Hanan menganyam tikar.

Hanan menuruti arahan si emak. “Nyan meunan (Begitu cara menganyam yang benar),” ucap emak memuji Hanan.

Hanan terpikat menganyam tikar setelah ia membuka Pelatihan Pembinaan Pelaku UMKM Perajin Anyaman Tikar Tradisional Aceh, di Balai Musala Gampong Jambo Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Selasa, 2 April 2024. Pelatihan difasilitasi Bank Aceh Syariah Lhokseumawe itu berlangsung dua hari, diikuti 20 perajin anyaman tikar tradisional Aceh. Kegiatan tersebut bertajuk, “Melalui pelatihan kerajinan anyaman tikar dari bahan baku pandan akan menghasilkan produk-produk kreatif dan inovatif sebagai produk warisan budaya kearifan lokal Aceh”.

Pelatihan ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Lhokseumawe. “Kegiatan ini upaya memberdayakan ekonomi masyarakat sekaligus menggali potensi dimiliki masyarakat di sini. Kita berharap ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik dengan pola-pola pelatihan dan (perajin) diedukasi dengan model kekinian. Jadi, tidak monoton seperti zaman dulu, perlu dimodifikasi dengan desain modern dan lebih diminati generasi sekarang,” ujar Hanan.

Hanan berharap para perajin anyaman tikar itu tidak hanya orang tua-tua, namun diikutsertakan yang muda sebagai pewaris budaya Aceh. Diharapkan peserta pelatihan tersebut mampu meningkatkan eksistensi budaya yang telah diwariskan turun temurun.

“Tikar bukan sekadar sebuah produk, tapi juga cermin dari kearifan lokal dan identitas budaya Aceh yang perlu dijaga dengan baik. Melalui pelatihan ini, kita berharap dapat menginspirasi para perajin untuk tidak hanya melanjutkan tradisi, tetapi juga mengembangkannya dengan kreativitas dan inovasi baru,” tutur Hanan.

Menurut Hanan, salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah promosi dan pemasaran produk secara online. Sehingga produk anyaman tikar khas Lhokseumawe dapat dijangkau lebih banyak orang.

“Pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan perajin, tetapi juga untuk membuka wawasan tentang potensi pemasaran digital. Dengan cara ini, kita dapat memperluas pasar dan mendukung keberlangsungan usaha para perajin,” kata Hanan.

Selain itu, Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM berencana membuka galeri untuk Dekranasda Lhokseumawe. “Salah satu potensi ada di Guest House (Wisma Tamu Kota Lhokseumawe), bisa kita tempatkan semua produk di sana sebagai sampel. Setiap tamu bisa melihat Lhokseumawe memiliki potensi, dan bisa dibeli langsung dari desa penghasil,” tutur Pj. Wali Kota itu.

Hanan optimis usaha anyaman tikar tradisonal ini akan berkembang. “Apalagi Kepala Bank Aceh Lhokseumawe juga membuka kesempatan kepada ibu-ibu (perajin anyaman tikar) mendapatkan skema dana KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan mendapatkan modal dari perbankan, usaha ini bisa digerakkan lebih baik ke depan,” ujarnya.

Saat membuka pelatihan itu, Hanan secara khusus memesan beberapa helai tika duek (tikar dari anyaman daun pandan untuk alas tempat duduk). “Untuk keluarga saya, tika duek mohon dibuat dengan motif love,” ucap Hanan.

Kepala Bank Aceh Syariah Lhokseumawe, Taufik Saleh, menjelaskan setiap Kantor Cabang Bank Aceh melakukan pelatihan UMKM, terutama usaha-usaha ikonik dan identik dengan suatu daerah. “Kita memilih Desa Jambo Mesjid, karena produk anyaman tikar ini wajib dilestarikan supaya bisa terus berkesinambungan,” tuturnya.

Menurut Taufik, tujuan pelatihan diikuti 20 ibu-ibu warga Jambo Mesjid itu untuk meningkatkan taraf hidup mereka, melestarikan budaya daerah, dan menghasilkan produk yang menjadi ciri khas Lhokseumawe.

Bank Aceh juga membuka akses permodalan. “Ada pembiayaan KUR Syariah. Silakan ibu-ibu mengakses untuk pembiayaan KUR, sampai Rp10 juta tidak ada agunan. Kita siap, mulai dari pelatihan sampai permodalan Bank Aceh membuka diri,” tegas Taufik.

Untuk pemasaran produk tersebut, Taufik mengharapkan peran Pemko Lhokseumawe. “Bank Aceh setiap tahun juga rutin membuat pameran UMKM. Setiap daerah dapat membawa kerajinan daerahnya untuk dipromosikan pada pameran itu,” ujarnya.

Produk kerajinan warga Jambo Mesjid tidak hanya tikar biasa. Hasil anyaman emak-emak di desa itu menjadi berbagai inovasi. Mulai dari kotak tisu, kotak keranjang serbaguna, hingga tikar yang bisa disesuaikan untuk kebutuhan rumah makan atau restoran mengusung konsep lesehan.

Ada pula produk kain syal. “Nyoe (ini) motif Lhokseumawe?” tanya Hanan saat melihat beberapa helai kain syal hasil karya warga Jambo Mesjid.

“Iya,” ucap seorang perempuan paruh baya.

Hanan dan istrinya tampak mengagumi produk-produk hasil kerajinan masyarakat tersebut. Keduanya betah berlama-lama di Balai Musala Gampong Jambo Mesjid. Pj. Wali Kota itu duduk sejajar bersama rakyat belajar menganyam tikar.[]

Sumber: portalsatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *