Gaza – Saat para pemimpin dunia berkumpul di Washington untuk pertemuan perdana Dewan Perdamaian (BoP) kontroversial bentukan Presiden AS Donald Trump, yang menjanjikan miliaran dolar untuk rekonstruksi Gaza, suasana Ramadan di Jalur Gaza tetap mencekam.
Para pengungsi yang menjalani puasa di tenda-tenda darurat karena rumah mereka hancur akibat serangan pasukan zionis mengatakan suasananya tak jauh berbeda dengan dua Ramadan sebelumnya.
“Tidak ada perbedaan nyata antara Ramadan sekarang dan Ramadan selama perang [sejak Oktober 2023]. Satu-satunya perbedaan, sebagian pembunuhan dan pertumpahan darah telah berhenti,” ujar Ziad Dhair, pengungsi dari Gaza utara yang kini tinggal di kamp Nuseirat, dikutip dari Middle East Eye, Senin, 23 Februari 2026.
Bagi Dhair, Ramadan tahun ini ditandai dengan ketidakhadiran orang-orang terdekatnya.
“Kami kehilangan kebersamaan dengan orang-orang yang kami cintai. Tidak ada seorang pun yang tersisa untukku hari ini. Aku masih mengungsi dari Gaza utara, dan aku tidak punya saudara atau teman di sini. Semua temanku telah gugur sebagai martir, hanya satu yang tersisa. Dari keluargaku, orang-orang terkasih telah gugur sebagai martir.”
Lebih dari 72 ribu warga Palestina tewas dalam pemboman Israel sejak Oktober 2023.
Meskipun pemboman skala besar relatif menurun, serangan Israel belum sepenuhnya berhenti. Selama dua hari pertama Ramadan 2026, militer zionis membunuh dua warga Palestina dan melukai empat lainnya di seluruh Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak perjanjian gencatan senjata Oktober 2025, sedikitnya 603 warga Palestina meninggal dunia dan 1.618 lainnya terluka.
Sebagian besar korban jiwa berjatuhan akibat pemboman dan penembakan di dekat “garis kuning”, zona terlarang militer yang diberlakukan Israel di Gaza utara dan timur.
Sejak Oktober, pasukan Israel secara bertahap mendorong garis itu ke arah barat, menguasai sekira 58 persen wilayah Gaza dan mencaplok lebih banyak permukiman. Akibatnya, puluhan ribu warga Palestina tidak dapat mengakses rumah mereka.
Bagi banyak keluarga, gencatan senjata telah mengubah intensitas serangan tetapi tidak mengubah realitas kesedihan.
“Selama Ramadan, sebelum perang dimulai pada tahun 2023, kami biasa memasang dekorasi, membeli makanan dan hidangan penutup, serta menonton serial Ramadan. Sekarang, semua itu tidak ada lagi,” lanjut Dhair.
“Kehidupan kami sederhana di dalam tenda, dan kami hampir tidak bisa menemukan teman untuk mengucapkan Ramadan Mubarak. Dulu kami saling mengundang untuk berbuka puasa. Sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan.”
Dhair menambahkan ia masih dilarang kembali ke lingkungannya.
“Perang belum berhenti. Saya bahkan tidak bisa sampai ke rumah saya. Saya tidak bisa melihatnya karena terletak di daerah yang dilarang kami masuki dan masih berada di bawah pendudukan.”
Umm Mohammed Abu Qamar, warga Jabalia di Gaza utara, berhasil melewati Ramadan dua tahun terakhir di rumahnya di tengah serangan Israel yang begitu masif ke wilayah itu.
Namun tahun ini, ia terpaksa menjalankan ibadah bulan suci di tenda darurat di Gaza tengah, jauh dari rumah dan komunitas yang pernah dikenalnya.
“Hari pertama Ramadan terasa sedih karena saya tidak menghabiskannya di rumah,” kata wanita berusia 50 tahun itu.
“Saya menghabiskan dua Ramadan terakhir di rumah saya di Jabalia, meskipun kami harus memasang lembaran seng sebagai pengganti dinding yang hancur. Hari ini, saya berada di tenda. Saya rindu rumah saya, saya rindu Jabalia. Saya sangat ingin kembali dan menghirup aroma tanahnya.”
Meskipun beberapa bagian Jabalia masih dapat diakses, sebagian besar penduduk belum kembali, baik karena lingkungan tempat tinggal mereka hancur total atau karena serangan Israel yang terus berlanjut di daerah tersebut.
Di samping kesedihan mendalam akibat pengungsian, Abu Qamar menjalani Ramadan tahun ini tanpa dua saudara perempuannya dan dua menantunya yang tewas dalam serangan Israel.
“Pada hari pertama Ramadan, pikiran saya tertuju pada mereka, terutama kakak perempuan saya yang membesarkan saya. Saya selalu menganggapnya seperti seorang ibu. Adik perempuan saya adalah sahabat saya. Kami biasa berkumpul dan saling mengundang untuk berbuka puasa,” ceritanya.
“Ramadan kali ini terasa berbeda karena acara kumpul-kumpul sudah tidak ada. Dulu kami biasa berbuka puasa bersama. Sekarang, kedua putri saya tidak memiliki suami. Putri bungsu saya berusia 19 tahun, dan yang lainnya 24 tahun. Salah satu suami mereka adalah seorang jurnalis, dan yang lainnya bekerja sebagai koki di pabrik kue.”
Baca juga: Pertemuan Perdana ‘Dewan Omong Kosong BoP’ Dinilai Hanya Untungkan Israel
Fouad Hijazi, warga Kota Gaza, mengaku tak kuasa menahan air mata saat pengumuman hilal Ramadan telah terlihat.
“Saya merindukan ayah dan saudara laki-laki saya, yang telah gugur sebagai syuhada, serta sekitar 20 teman saya. Selama Ramadan, kami biasa berbelanja dan berbuka puasa bersama.”
Selama dua tahun terakhir, warga Gaza menjalankan Ramadan di tengah kelaparan yang dipaksakan Israel.
Pasukan Israel sebelumnya membunuh ratusan warga Palestina yang menunggu bantuan di Kota Gaza, dalam peristiwa yang dijuluki sebagai “pembantaian tepung”.
Ramadan tahun ini, pasar-pasar di Gaza menyerupai suasana sebelum perang, dengan rak-rak dipenuhi barang dagangan. Namun bagi banyak orang di Gaza, harga barang-barang itu sebagian besar masih di luar jangkauan mereka.
“Saya sudah menganggur selama dua setengah tahun. Saya tidak mampu membeli barang dengan harga saat ini, bahkan ketika barang tersedia. Jadi kami bergantung pada dapur umum,” kata Hijazi.
Ia menambahkan, banyak keluarga masih kesulitan memperoleh gas untuk memasak.
Meski perjanjian gencatan senjata menjanjikan masuknya sekitar 1.500 truk gas pada akhir Januari, hanya 307 truk yang benar-benar tiba membawa 6.458 ton gas, setara sekitar 20 persen kebutuhan Gaza, menurut Otoritas Perminyakan Umum Gaza.
Akibatnya, banyak keluarga terpaksa bergantung pada kayu bakar untuk memasak selama Ramadan, sama seperti saat perang.
“Kami menghabiskan hari untuk mengisi air dan mengumpulkan kayu bakar. Kami menerima makanan dari dapur umum menjelang tengah hari, jadi saat waktu berbuka puasa tiba, makanan sudah dingin, dan kami harus menyalakan api untuk menghangatkannya.”
Situasi saat ini, tambah Hijazi, lebih sulit daripada kelaparan yang mereka alami selama Ramadan dua tahun terakhir.
“Selama masa kelaparan, barang-barang kebutuhan pokok benar-benar tidak ada. Sekarang barang ada tetapi kami tidak mampu membelinya. Kami telah menghabiskan semua uang untuk mengungsi, membeli tenda, dan berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Saat Ramadan tiba, kami sama sekali tidak siap.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy