Medan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Kali ini giliran 84 siswa SMPN 1 Laguboti di Kabupaten Toba, Sumut, mengalami keracunan usai menyantap menu dari pemerintah tersebut pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Mereka kemudian dibawa ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sebuah video beredar di X memperlihatkan kegaduhan di Puskesmas Laguboti ketika para siswa mendapatkan perawatan intensif.
Para siswa terlihat didampingi keluarga mereka masing-masing. Sementara di luar rumah sakit, beberapa unit ambulans terlihat membawa korban. Ada juga korban yang harus duduk di kursi roda.
Kepala Dinas Kesehatan Toba Freddi Seventry Sibarani menyebutkan menu MBG yang disajikan berupa ikan mujair asam manis, tempe, sayur pokcoy, dan buah semangka.
Dari temuan awal, buah semangka yang disajikan agak berlendir. Siswa yang keracunan, kata dia, mengalami gejala mual, muntah, pusing, mulas, nyeri ulu hati dan sesak.
Baca juga: Celoteh Pigai Soal Keracunan Massal MBG: Bukan Pelanggaran HAM, Kesalahan Masak
“Dengan gejala mual, muntah, pusing, mulas, nyeri ulu hati dan sesak, setelah menerima MBG dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Pardomuan Nauli Laguboti,” ucapnya dilansir detik.com, Kamis, 16 Oktober 2025.
SPPG Pardomuan Nauli yang menyalurkan MBG itu untuk sementara dihentikan.
Selain 84 siswa, tambah Freddi, dua petugas SPPG tersebut juga ikut keracunan. Freddi merinci, 49 orang di antaranya masih dirawat di rumah sakit, sedangkan sisanya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan.
“RS (rumah sakit) Porsea siswa 28 orang, RS HKBP Balige siswa 19 orang dan karyawan SPPG 2 orang. Saat ini sebagian sudah siswa yang sudah stabil dipulangkan dan yang masih belum stabil masih diobservasi.”
Sementara itu, tulis Mistar.id, usai insiden keracunan, para orang tua siswa mendatangi Puskesmas Laguboti. Bahkan, sempat muncul ancaman akan membakar dapur umum MBG karena kecewa dan khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka.
Hari ini, pihak sekolah mengundang para orang tua korban ke sekolah, untuk meredam potensi kemarahan yang sempat memuncak.
Baca juga: Keracunan Massal MBG Terjadi Lagi, Istana Minta Maaf
Dalam pertemuan tersebut, para orang tua meminta kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas insiden keracunan tersebut. Mereka mengaku kecewa karena SPPG tidak hadir.
Kepala SMPN 1 Laguboti Pahala Hutapea mengaku tidak bisa memberikan keterangan rinci terkait insiden tersebut. Menurutnya sekolah selama ini hanya ingin memberikan yang terbaik untuk siswa melalui program MBG.
“Sesungguhnya pihak dapur umum yang seharusnya menjelaskan insiden ini, namun mereka tidak hadir dalam pertemuan.”
Salah satu orang tua siswa, Harapan Pangaribuan, menyampaikan kekecewaannya terhadap program MBG, terutama kepada penyedia makanan. Ia menilai program yang seharusnya menyehatkan justru membahayakan nyawa anak-anak.
“Hentikan saja program MBG ini. Kami sebagai orang tua sudah trauma. Anak kami menjadi korban. Sampai kapan pun saya tidak akan percaya lagi kepada pihak penyedia makanan,” ucapnya.
Ia juga mengkritik pelayanan di Rumah Sakit HKBP Balige, yang menurutnya tidak tanggap saat anaknya dirujuk dari Puskesmas Laguboti.
“Saat anak saya dirujuk, bukannya langsung ditangani, malah ditanya soal BPJS. Padahal ini program pemerintah. Harusnya penanganannya langsung, tanpa harus mempertanyakan administrasi terlebih dahulu!”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy