Jakarta – Menjadi kaya bukan soal menumpuk harta, melainkan soal keberdayaan dan kemandirian. Hal inilah yang ditekankan Wakil Ketua Umum MUI, K.H. Cholil Nafis, saat membuka acara Upgrading Dakwah Training of Trainer (ToT) di Gedung LPPI, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, 23 April 2026.
Di hadapan ratusan dai dan daiyah se-Jabodetabek, Kiai Cholil mendorong perubahan pola pikir (mindset) besar-besaran. Menurutnya, para pendakwah harus memiliki mentalitas kaya agar bisa menjadi teladan bagi jamaahnya dalam hal kemandirian ekonomi.
“Kalau sudah ada keinginan punya mindset bahwa memberi itu lebih utama, dan kaya itu adalah kebutuhan kita dengan niat untuk kita bisa lebih mandiri, tentu akan lebih baik,” ujar Kiai Cholil, dilansir MUI Digital pada Jumat (24/4).
Meski begitu, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini memberikan catatan penting: keinginan menjadi kaya semata-mata harus diniatkan untuk ibadah. Ia memperingatkan para dai agar tidak terjebak dalam rasa cinta berlebihan terhadap harta.
Sebaliknya, Kiai Cholil menilai mentalitas “meminta-minta” justru akan membunuh produktivitas seseorang. “Ketika ingin memberi, orang tersebut harus lebih produktif dalam hidupnya,” tegasnya.
Acara yang digelar Komisi Dakwah MUI berkolaborasi dengan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia ini membekali para peserta dengan lima materi strategis. Mulai dari prinsip dasar syariah, gaya hidup halal, keuangan syariah, bisnis dalam Islam, hingga praktik implementasinya di lapangan.
Dengan bekal ini, para dai diharapkan tidak hanya mahir dalam urusan fikih, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi umat secara nyata.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy