Banda Aceh – Kelompok marginal kerap menjadi komoditas pada pesta demokrasi, baik Pemilu maupun Pilkada.
“Karena itu, sosialisasi ini menjadi penting untuk mempertemukan perwakilan kelompok rentan dengan penyelenggara Pilkada, supaya mereka bisa menyampaikan secara langsung apa saja kendala yang dihadapi pada momen-momen demokrasi,” ujar perwakilan Koalisi Aspirasi Aceh, Norma Susanti saat Sosialisasi Tahapan Pilkada Serentak 2024 untuk Kelompok Marginal Aceh di Oreon Hall Aceh Besar, Kamis dikutip Jumat, 16 Agustus 2024.
Masyarakat marginal, kata Norma, merupakan individu atau kelompok yang secara sistematis terpinggirkan atau mengalami diskriminasi akibat berbagai faktor.
Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah perempuan, kelompok muda, disabilitas, lansia, masyarakat adat, kelompok urban dan miskin kota hingga kelompok minoritas agama, suku, maupun etnis.
Sosialisasi selama dua hari, Rabu-Kamis, 14-15 Agustus 2024, itu digelar Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dan Koalisi Aspirasi Aceh.
Para peserta berjumlah 200 orang berasal dari puluhan organisasi atau komunitas masyarakat. Pada hari pertama sosialisasi digelar untuk kelompok muda dan hari kedua bagi kelompok dewasa.
Hadir sebagai narasumber, Ketua Divisi Sosialisasi KIP Aceh Hendra Darmawan, serta Bayu Satria dan Syahrul mewakili Koalisi Aspirasi Aceh.
Menurut Norma, sosialisasi itu bagian dari advokasi bersama gerakan masyarakat sipil Aceh agar Pilkada 2024 bisa berlangsung secara inklusi.
Sebelumnya, kata dia, Koalisi Aspirasi telah beraudiensi dengan sejumlah komisioner KIP Aceh untuk menyerahkan kertas kebijakan sebagai perpanjangan suara dari kelompok marginal di Aceh.
Koalisi Aspirasi terbentuk beberapa bulan lalu melalui ruang pelatihan yang difasilitasi Setara Institute dan fokus pada upaya menginklusifkan Pilkada Serentak 2024 di Aceh.
“Kita ingin semua lapisan masyarakat terlibat dan memiliki akses pada informasi Pilkada ini,” ujar Norma dikutip Jumat, 16 Agustus 2024.
Sementara itu, Hendra Dermawan menjelaskan beberapa hal terkait pelaksanaan Pilkada.
“Hak pilih kita sangat menentukan masa depan bangsa dan negara. Karenanya, pada 27 November 2024 nanti kita harus menggunakan hak pilih kita dengan benar,” ujarnya.
Dia juga menekankan agar masyarakat bisa menjadi pemilih cerdas. Selain terdaftar sebagai pemilih juga peduli terhadap isu-isu yang sedang berkembang. Misalnya, kata Hendra, mengenali calon-calon peserta Pilkada, serta memahami visi, misi, dan program calon kepala daerah.
Para peserta antusiasi mengikuti sosialisasi tersebut. Banyak yang memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya secara langsung, khususnya kepada komisioner KIP.
Mereka juga menyampaikan keresahan mengenai fasilitas di TPS yang belum ramah terhadap disabilitas. Juga tentang politik uang yang menjadi “tradisi” lima tahunan, serta berbagai masalah dan kesulitan lainnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy