Pagi masih buta di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Saat embun masih tebal menyelimuti dedaunan, Nurhasanah (60-an) sudah memanggul asa di pundaknya yang tak lagi muda. Dengan langkah pasti, ia menyusuri jalan setapak menuju kebun kakao yang menjadi saksi bisu perjuangannya menyambung nyawa.
Nurhasanah bukan sekadar petani. Ia adalah satu dari sekian banyak perempuan di utara Sumatra yang terpaksa memegang kemudi nasib sebagai kepala keluarga. Di Aceh, mereka dikenal dengan sebutan Inong Balee—para perempuan tangguh yang menolak menyerah pada keadaan.
Luka Lama dan Harapan Baru
Bagi Nurhasanah, masa lalu adalah kenangan pahit yang ia simpan rapat. Suaminya tewas dalam kontak senjata bertahun-tahun silam, meninggalkan dirinya dengan anak-anak yang masih kecil. Demi sesuap nasi, pekerjaan kasar apa pun ia lakoni; mulai dari buruh tani hingga menjadi kuli panggul batu sungai yang menguras tenaga.
“Dulu saya panggul batu ke dalam truk di Sungai Krueng Kereuto. Upahnya pas-pasan hanya untuk makan hari itu,” kenangnya dengan mata menerawang, saat ditemui oleh Jefri Susetio, Humas Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, belum lama ini.
Hasil kebun kakao peninggalan suaminya pun kala itu tak bisa diandalkan. Pohon-pohon tua yang mulai meranggas dan minimnya pengetahuan teknik bertani membuat panen selalu mengecewakan. “Kami cuma tahu panen lalu jual, tidak tahu kualitas,” tambahnya.
Transformasi Kelompok Inong Balee
Titik balik itu datang melalui sentuhan pemberdayaan dari Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera Offshore (NSO). Nurhasanah bersama 18 perempuan kepala keluarga lainnya dibimbing dalam Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga. Mereka diajarkan ‘sekolah lapang’: cara merawat pohon, melakukan peremajaan, hingga memahami kualitas biji kakao.
Hasilnya luar biasa. Empat hektare lahan kritis kini telah terestorasi. Sebanyak 600 bibit baru tertanam dan 1.700 pohon lama kembali produktif.
“Dulu satu pohon cuma dapat satu kilogram, harganya pun murah. Sekarang, satu pohon bisa menghasilkan tiga sampai lima kilogram,” ujar Nurhasanah dengan senyum sumringah.
Kesejahteraannya meningkat drastis; dari harga Rp13.000, kini nilai ekonomi hasil kebunnya berkali lipat lebih tinggi.
Dari Hama Menjadi Rezeki di Langkat
Perjuangan serupa namun tak sama juga berdenyut di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Langkat. Di tangan Sabariah dan Kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama, ikan baronang yang dulunya hanya dianggap sebagai pakan ternak, kini ‘naik kelas’.
Didukung oleh PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field (bagian dari PHR Zona 1), para ibu di sini mengubah ikan tersebut menjadi camilan bergizi: Baronang Crispy. Inovasi ini tak hanya menambah pundi-pundi rupiah hingga Rp6 juta per bulan, tapi juga menjadi senjata lokal melawan stunting pada balita.
Memutus Rantai Kemiskinan
Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1, menegaskan langkah ini adalah bagian dari komitmen perusahaan mendukung pemerintah mengentaskan kemiskinan.
“Pemberdayaan ini didasarkan pada pertimbangan sosial dan ekonomi. Kami ingin meningkatkan kapasitas diri mereka agar mandiri secara ekonomi, sehingga mereka bisa membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya,” jelas Iwan.
Nurhasanah, Sabariah, dan para Inong Balee lainnya adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah tembok penghalang. Di bawah rimbunnya daun kakao dan di antara aroma gurih camilan ikan, mereka sedang menulis ulang takdir: bahwa perempuan kepala keluarga adalah tiang yang tak hanya kokoh menyangga rumah, tapi juga ekonomi bangsa.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy