Lhoksukon – Sebuah plang nama dayah berdiri miring dalam parit di muka Gampong Kambam, Muara Batu, Aceh Utara, Sabtu, 6 Desember 2025.
Ibu-ibu bermukena sedang berkumpul di sebuah bale. Seutas kabel listrik melintang di tengah jalan gampong.
Bau lumpur menyengat hidung. Jejaknya menempel di batang pohon, dedaunan, dan dinding rumah.
Di halaman-halaman rumah, lapisan lumpur sisa banjir bandang mulai mengering. Sebagian lumpur dihela dari dalam rumah.
Baju, kasur, perabotan, dijemur di tempat-tempat yang tidak dihinggapi lumpur. Listrik masih padam.
Teungku Razi, pengajar di Dayah Rauhul Maarif (Rama) Kambam bercerita. Selasa malam, 25 November 2025, air mulai naik sebetis. Tapi belum ada warga yang mengungsi. Ada yang mengira banjir seperti tahun 2000 lalu. Kala itu genangan banjir hanya sepinggang.
Tapi hujan terus turun malam itu. Sesekali berhenti tetapi intensitasnya sangat lebat.
Lihat: [Foto] Jalan Menuju Bandara Malikussaleh di Bungkaih Aceh Utara Lumpuh
Besok pagi, cerita menjadi lain. Dari belakang kebun kelapa yang bersisian dengan sawah, air mulai “pecah” dari arah SDN 13 Muara Batu. Bersamaan dengan itu, di sisi timur kampung, Krueng Bungkaih perlahan meluap.
Dari ketinggian selutut, air naik sepinggang lalu sedada. Arusnya perlahan bertambah deras. Razi dan istrinya menuju sebuah rumah berlantai dua. Di sana, banyak warga telah berkumpul.
Tiba-tiba ia teringat belum menutup jendela rumahnya. Lemari berisi kitab-kitab juga belum terkunci rapat. Sepeda motornya terparkir di ruang tamu. Di dalam jok ada dompet berisi KTP dan ATM.
Ia dan istrinya bersepakat kembali ke rumah. Namun, beberapa meter sebelum mencapai lorong, mereka disambut air bah dari arah kebun kelapa.
Ketinggian air dua meter lebih. Ukurannya dari pijakan kaki yang tak lagi menyentuh jalan. Sepintas ia menengok ke arah sungai, sebuah rumah di situ hanya tampak atap. Brek (pabrik) bata depan lorong tak tampak atap. Pucuk-pucuk pohon pisang tinggal sejengkal.
Razi memilih mengurungkan niatnya. Dia dan istrinya kembali ke rumah tadi, berdesakan bersama warga lainnya. Kian malam, air bukannya surut. Razi dan beberapa warga terpaksa naik ke loteng rumah lalu atap. Di sana mereka bertahan hingga Sabtu, 29 November 2025, dengan stok makanan seadanya dan baju basah yang melekat di badan.
Hari ini, sepekan lebih setelah banjir, dapur umum telah didirikan di Jalan Bandara Malikussaleh, yang membentang di sisi barat Kambam. Tukang masaknya bapak-bapak, juga yang membagi-bagikan. Tiga kali sehari, warga Kambam mengantre untuk mendapatkan makanan.
Bantuan logistik mulai masuk, kata Razi. Indomie, telur, dan beras. Gas elpiji telah tersedia. BBM aman. Sepeda motor juga telah “hidup” lagi setelah dibawa ke bengkel.
“Sinyal HP yang hilang timbul, cuma mau ngecas di mana?” ujarnya sambil menunjuk jejak genangan air di dinding. Tingginya tiga meter lebih.
Warga Kambam mulai membersihkan rumah dengan sisa air dari sumur seadanya. Yang tidak punya persediaan air bersih, mengupah beberapa pemuda dengan tarif antara Rp100-250 ribu, tergantung luas rumah yang dibersihkan.
Sementara di ujung Kambam dekat sungai, Riki telah membersihkan rumahnya yang kini miring. Sebagian rumah Riki amblas akibat bandang dari luapan Krueng Bungkaih. Di depan rumah, air menggenangi pohon jambu di antara sisa-sisa lumpur.
Walaupun dilumat bencana, warga Kambam tak menyurai diri. Tadi siang, misalnya, ibu-ibu menggelar samadiah di tengah kampung yang porak-poranda itu, untuk seorang warga yang meninggal dunia bukan karena banjir.
Air mata telah mengering, celetuk seorang ibu yang kehilangan 20 anggota keluarganya di kampung sebelah. Satu orang di antaranya belum ditemukan. “Cuma KTP-nya yang dapat di [Lapangan] PBI [Ulee Madon]”.[] Foto-foto: Line1.News/Sha









Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy