Kemacetan lalu lintas di pusat kota Pyongyang. Foto: VK via news.naver.com
Moskow – Seorang blogger traveler Rusia membagikan cerita perjalanannya ke Korea Utara (Korut). Dia mengaku disensor dan dicegah mengambil foto oleh agen keamanan Korut yang menyamar sebagai pemandu wisata.
Blogger bernama Maxim Golyshev itu mengunggah catatan perjalanannya di VK, media sosial Rusia.
Melansir portal Korea Selatan, Naver, Golyshev tiba di Pyongyang setelah naik pesawat dari Vladivostok pada awal 2025. Selain dia, ada delapan orang lain yang ikut dalam tur tersebut.
Pesawat yang mereka tumpangi sudah usang dan tua, jenis Tupolev Tu-154 buatan tahun 1976. Untungnya, kata Golyshev, pesawat itu mendarat dengan selamat di Bandara Pyongyang Sunan. Sementara saat kembali ke Rusia, ia menggunakan pesawat model tahun 1983.
Pesawat buatan tahun 1983 yang mengangkut wisatawan Rusia dari Pyongyang. Foto: VK via news.naver.com
Di dalam pesawat Tupolev itu, juga ada sekitar 30 warga Korut. Mereka mengenakan pakaian yang sama dan mengikuti pemandu dengan tertib setelah mendarat. Setelah itu rombongan tersebut tak terlihat lagi.
Setibanya di Pyongyang, Golyshev ditemani dua pemandu. Salah satu dari mereka adalah pemandu wisata biasa, tetapi yang lain, Golyshev berspekulasi, kemungkinan adalah agen Dinas Keamanan Korut.
Secara khusus, kata Golyshev, pemandu wisata yang diyakininya sebagai mata-mata itu, dengan cermat memastikan wisatawan hanya akan melihat sisi positif Korut dan menyensor foto-foto yang diambil.
Sebelum meninggalkan Rusia, Golyshev diperingatkan seorang karyawan agen perjalanan Rusia untuk Korut bahwa ia “tidak boleh memfilmkan pekerja Korut saat bekerja”.
Bahkan selama tur berlangsung, pemandu wisata membatasi pengambilan gambar karena berbagai alasan. Salah satu alasan si pemandu, “orang Korut tidak suka difoto”.
Namun, Golyshev mencoba menghindari penyensoran terhadap foto-fotonya pada hari terakhir tur.
Ia menjepret suasana jalanan di pusat kota Pyongyang yang disaksikannya selama perjalanan.
Golyshev menggambarkan Pyongyang sebagai kota yang sangat gelap. Lampu jalan yang gelap tidak diterangi dengan baik dan hampir tidak ada lampu menyala di dalam gedung.
Bahkan, lampu di jendela gedung-gedung perumahan tampak redup. Selain itu, papan tanda pusat perbelanjaan yang terang benderang pun tidak terlihat.
Satu-satunya cahaya yang menerangi jalan-jalan Pyongyang pada malam hari adalah lampu depan mobil. Hal ini bertentangan dengan stereotip bahwa hanya ada sedikit mobil di Korut. Tapi Golyshev merekam kemacetan lalu lintas di siang hari.
Perjalanan tiga hari ke Pyongyang sebagian besar dihabiskan dengan bepergian menggunakan mobil. Pemandu memberikan pengantar dan mengambil gambar sambil melihat pemandangan di luar jendela mobil.
“Ada perbedaan antara memandang kota dari jendela mobil dan berjalan-jalan di sekitar kota dan melihat berbagai pemandangan dan artefaknya. Sayangnya, tidak ada yang dapat Anda lakukan di Pyongyang tanpa mengemudi,” ujar Golyshev.
Antrean penduduk yang membeli bir. Foto: VK via news.naver.com
Saat bus sedang melewati sekitar kota Pyongyang, dia melihat antrean sekitar 100 orang penduduk yang menunggu di depan toko untuk membeli bir.
“Ini mengingatkan saya pada kedai bir di era Soviet, tetapi saya belum pernah melihat antrean sepanjang itu hanya untuk membeli segelas bir,” ujarnya.
Kebingungannya bertambah ketika mobil rombongan mengunjungi sebuah kebun binatang di Pyongyang, yang memamerkan sekitar 100 anjing dari 30 ras berbeda.
“Saya tidak mengerti mengapa mereka memamerkan anjing di kebun binatang.”
Anjing yang dipamerkan di kebun binatang. Foto: VK via news.naver.com
Korut membuka kembali gerbang perbatasannya–yang ditutup sejak pandemi Covid-19–dan menerima kunjungan wisatawan Rusia sejak tahun lalu. Namun, jumlah orang Rusia yang mengunjungi Korea Utara tergolong rendah, hanya 881 orang.
Andrei Lankov, pakar Korut-Rusia dan profesor di Universitas Kookmin, mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa saat sebagian orang ingin mengunjungi Korut karena rasa ingin tahu, sebagian besar orang Rusia tidak menganggap negara itu sebagai tempat yang baik untuk wisata.
Profesor Lankov menambahkan, alasan orang Rusia menghindari kunjungan wisata ke Korut karena pengawasan yang sangat ketat dan lingkungan perjalanan yang terbatas.[]
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy