Harum Bambu di Krueng Beukah: Abdya Cetak Rekor Dunia Lewat 15 Ribu Leumang

Bakar lemang di Meuseuraya Thet Leumang Abdya
Aksi warga dan ibu-ibu saat menjaga nyala api untuk memastikan 15 ribu leumang matang sempurna dalam Meuseuraya Thoet Leumang Abdya, Sabtu, 25 April 2026. Foto: Fakhrurrazi/Line1.News

Blangpidie, Line1.News – Asap putih membubung tinggi, menyelimuti bantaran Krueng Beukah yang berubah menjadi dapur raksasa. Di bawah terik matahari, Sabtu, 25 April 2026, ramai warga Aceh Barat Daya (Abdya) jongkok dengan khusyuk di depan barisan bambu yang tegak berjajar. Aroma gurih santan yang mendidih bercampur dengan harum kayu bakar yang meletup-letup, menandai sebuah sejarah baru bagi kabupaten berjuluk “Kota Dagang” tersebut.

Dalam rangkaian HUT ke-24, Pemkab Abdya sukses menyabet dua rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sekaligus: pembakaran 15 ribu batang leumang secara serentak dan penyajian 35 ribu porsi tape. Piagam penghargaan dunia ini diterima langsung oleh Bupati Abdya, Safaruddin, di lokasi kegiatan yang dipadati lautan manusia.

Sinergi dalam Asap dan Api

Pemandangan di Gampong Lhung Tarok hari itu menunjukkan wajah asli gotong royong. Dari lensa kamera, tampak barisan bambu hijau yang masih segar disandarkan pada bilah kayu, sementara api dari sabut dan kayu kering terus dijaga agar tetap menyala stabil. Tidak ada sekat pembatas; warga biasa melebur bersama aparatur pemerintah.

Salah satu momen yang tertangkap adalah partisipasi aktif dari berbagai instansi, termasuk UPTD Puskesmas Sangkalan. Para tenaga kesehatan yang biasanya berkutat dengan alat medis, hari itu tampak cekatan mengawal deretan bambu leumang di bawah tenda-tenda darurat. Kehadiran berbagai SKPK hingga pihak swasta menunjukkan bahwa rekor ini adalah hasil kolaborasi besar seluruh elemen masyarakat.

Lebih dari Sekadar Rekor

[Sinergi tanpa batas: Tenaga kesehatan dari UPTD Puskesmas Sangkalan turut ambil bagian dalam kemeriahan Meuseuraya Thoet Leumang Abdya, Sabtu, 25 April 2026. Foto: Fakhrurrazi/Line1.News]

Bupati Safaruddin, dengan medali MURI yang dikalungkan di lehernya, tidak bisa menyembunyikan rasa bangga. Baginya, angka belasan ribu itu hanyalah bonus dari sebuah nilai yang lebih besar: persatuan.

“Alhamdulillah, kita hari ini bukan hanya memecahkan rekor Indonesia, tapi dunia. Ini bukan sekadar [mengejar] prestasi, tapi menunjukkan bahwa Abdya sedang berkolaborasi hebat. Saya melihat kekompakan yang riil, masyarakat tidak lagi terbelah antara kekuatan menang dan kalah dalam episode kemenangan yang kita dapatkan [pascapolitik],” ungkap Safaruddin dengan penuh haru.

Tradisi MeuseurayaThoet Leumang” sendiri merupakan warisan budaya yang lekat dengan nilai syukur, terutama saat menyambut hari-hari besar Islam. Filosofi leumang yang membutuhkan kesabaran dan kerja sama tim dalam proses pembakarannya dianggap sangat relevan dengan tatanan kehidupan masyarakat Abdya.

Denyut Ekonomi Lokal

Tak hanya soal tradisi, kegiatan kolosal ini turut menggerakkan urat nadi ekonomi lokal secara dahsyat. Pasokan 7,5 ton beras ketan, belasan ribu batang bambu, hingga ribuan kelapa diserap langsung dari hasil bumi petani setempat.

“Saya masih merasa ada denyut kehidupan yang luar biasa. Ini adalah animo paling dahsyat yang pernah saya lihat. Ada perputaran ekonomi yang nyata bagi masyarakat kita,” tambah Safaruddin.

Kini, harum leumang dari Krueng Beukah tidak hanya tinggal di lidah para warga, tetapi telah tercatat dalam tinta emas sejarah dunia. Abdya membuktikan bahwa dengan menjaga akar budaya, mereka mampu terbang tinggi menjangkau prestasi dunia.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy