Lhokseumawe – Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe Tahun 2024 akan sangat meriah jika kontes demokrasi ini menampilkan lebih dari dua pasangan calon. Selain Sayuti Abubakar dan Husaini POM sebagai pasangan kandidat diusung Partai Aceh (PA), beberapa nama lain disebut-sebut bakal maju bertarung di Pilkada Lhokseumawe. Ismail A. Manaf diisukan sedang melobi Partai Nasdem. Sementara Fathani katanya akan mengendarai Partai Golkar. Ada juga Azhari yang memakai PAN untuk mencalonkan diri lewat koalisi dengan sejumlah partai lain.
Namun, nama-nama tersebut belum mengabarkan ke publik perihal pencalonan diri mereka. Deklarasi belum digelar. Cuma baliho yang bertebaran rata sagoe. Ada kesan, nama-nama tersebut belum pede mengumbar pencalonan diri sebagai wali kota lewat deklarasi resmi karena sebagian partai politik pemenang Pemilu di Lhokseumawe cenderung “main aman”.
Karena itu, pengamat Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), Taufik Abdullah, melihat dinamika di Lhokseumawe menuju Pilkada serentak terasa adem ayem lantaran baru PA yang mendeklarasikan pasangan bakal calon. Sedangkan sejumlah partai politik lainnya, kata dia, tampaknya menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan pasangan kandidat.
Selain itu, Taufik menilai sejauh ini para kandidat yang berhasrat memimpin Kota Lhokseumawe lima tahun ke depan, belum menunjukkan wacana konkret untuk menjawab harapan masyarakat, sehingga ruang publik Pilkada masih terasa hampa.
Apa saja pandangan Taufik terhadap Pilkada Lhokseumawe? Berikut petikan wawancara Line1.News dengan Dosen Ilmu Politik Fisipol Unimal tersebut melalui sambungan telepon pada Selasa, 16 Juli 2024:
Sejauh ini baru Partai Aceh (PA) yang sudah mengumumkan pasangan bakal calon (bacalon) Wali Kota-Wakil Wali Kota Lhokseumawe untuk Pilkada 2024. Padahal, ada beberapa partai politik lainnya yang juga bisa mengusung pasangan bacalon secara mandiri maupun berkoalisi. Tapi mereka belum mengungkapkan pasangan bacalon kepada publik meskipun jadwal pendaftaran pasangan calon akan tiba sekitar 40 hari lagi. Bagaimana Anda melihat dinamika ini?
Pertama, dinamika di Lhokseumawe saya lihat agak adem ayem. Baru satu partai lokal dalam hal ini PA telah menggadang-gadang bakal calon. Persoalannya mengapa partai lain sejauh ini, baik partai nasional dan partai lokal lainnya, belum mengusung (mengumumkan) bakal calon. Ini tentu jadi pertanyaan publik.
Menurut saya, partai politik yang belum mengusung calonnya, melihat situasi dan kondisi. Artinya, tidak terlalu dipaksakan (untuk segera dideklarasikan), padahal kader-kader partai cukup potensial. Untuk mencari kader potensial ini memang butuh waktu. Karena itu, bisa jadi di luar PA yang sudah mengusung pasangan calon (paslon), partai lain melihat timing yang tepat. Boleh jadi partai lainnya masih melakukan upaya pembentukan koalisi sehingga ada calon yang potensial, yang lebih layak.
Yang kedua, dinamika itu terjadi bisa saja disebabkan oleh situasi di mana masyarakat Lhokseumawe sepertinya apatis menyongsong Pilkada 2024 dengan perkembangan politik yang ada. Sehingga ini dilihat oleh partai politik lain di luar PA, belum tepat waktunya, timing-nya belum tepat.
Boleh jadi partai lain akan memunculkan calon dalam waktu yang ditentukan nantinya sehingga ada semacam dadakan (kejutan), sehingga ini akan menimbulkan impact. Jadi yang dimunculkan ini yang terbaik sehingga akan menimbulkan efek besar terhadap partai itu. Maka saya lihat tidak serta merta, satu sisi ada proses mendalami situasi masyarakat yang apatis, di sisi lain sedang menggali calon potensial. Boleh jadi sudah ada calon wali kota, namun untuk menemukan pasangan yang tepat inikan butuh waktu. Sehingga nanti ketika muncul calon lain selain dari PA, akan menimbulkan efek besar.
Ketiga, paslon yang diusung PA ini menjadi diskusi, sehingga ini menjadi plus-minus kalau PA tidak bisa memanfaatkan situasi dalam menggiring optimisme masyarakat Lhokseumawe, bisa saja momentum ini akan diambil oleh partai koalisi yang muncul kemudian.
Jadi saya lihat ada sebuah prakondisi silent (diam-diam) dan reaktif. Pertama ada upaya konsolidasi secara silent yang kemudian ini akan menimbulkan reaksi yang positif apabila muncul kandidat lain selain (yang diusung) PA. Ini tentu akan memberikan dinamika yang baik di tengah apatisnya masyarakat Kota Lhokseumawe saat ini.
Menurut perkiraan Anda, sejumlah partai lain akan mendeklarasikan pasangan kandidat Wali Kota-Wakil Wali Kota ketika semakin dekat masa pendaftaran paslon ke KIP Lhokseumawe?
Sudah pasti, karena partai politik yang belum membangun koalisinya—selain PA—harus mengusung kandidatnya masing-masing, itu sebuah keniscayaan. Hanya saja inikan butuh timing yang tepat dengan kondisi yang ada, sehingga nanti ketika ada calon yang dimunculkan selain dari PA akan menimbulkan efek besar terhadap calon itu.
Tadi Anda menyinggung soal pemilihan calon wakil wali kota, dan sejauh ini memang yang sudah banyak disebut-sebut adalah calon wali kota. Selain Sayuti Abubakar, kabarnya yang akan maju sebagai calon wali kota adalah Ismail A. Manaf, Fatani, dan lainnya. Ada pandangan dari sejumlah masyarakat Lhokseumawe bahwa jika dipilih calon wakil wali kota yang tepat mendampingi tiga kandidat wali kota itu akan sangat berpengaruh terhadap hasil Pilkada nantinya. Bagaimana menurut Anda?
Ya, calon wakil wali kota itu akan memberikan kekuatan tersendiri, daya tarik tersendiri terhadap pasangan calon. Jadi, kalau calon wakil tidak populis, elektabilitasnya juga rendah, inikan sama saja “beli kucing dalam karung”. Artinya, ini tidak akan berefek terhadap calon wali kota, dan tidak mempunyai efek juga bagi partai politik. Itu yang pertama.
Yang kedua, boleh jadi partai politik sulit menemukan calon terbaik untuk wakil wali kota. Yang ketiga, calon wakil ini juga harus memberikan daya tarik tersendiri dari sisi kapasitas dan track record, sehingga akan memberi amunisi lebih. Kalau sekadar pas-pasan, tidak mempunyai efek besar terhadap calon wali kota.
Seterusnya, apakah calon wali kota dan wakilnya sudah ada (meskipun belum diumumkan), tapi penting untuk meningkatkan dinamika, daya kritis, optimisme pemilih atau masyarakat Kota Lhokseumawe, juga sangat tergantung upaya mereka dalam mengeksplorasi isu-isu strategis di Kota Lhokseumawe.
Sejauh ini saya lihat, bakal calon maupun partai politik belum mengangkat isu strategis, apa yang menjadi tuntutan atau kebutuhan realistis dalam melihat pembangunan di Lhokseumawe. Ini belum terangkat, sehingga ini tidak menimbulkan daya tarik. Karena itu, harapan saya kepada partai politik yang belum mengusulkan calonnya itu harus dibarengi dengan pressure (tekanan) bahwa isu-isu strategis Kota Lhokseumawe itu jauh lebih penting dari sekadar hanya mengusung calon.
Artinya, wacana atau pandangan konkret terhadap perubahan ke arah lebih baik bagi Kota Lhokseumawe, bukan sekadar menyampaikan pandangan bersifat normatif yang lazim muncul jelang Pilkada?
Iya, isu-isu yang substansial, dan (menjawab) harapan masyarakat Kota Lhokseumawe. Jadi, kandidat (yang sudah muncul atau disebut-sebut akan maju di Pilkada) ini belum menangkap apa yang menjadi harapan masyarakat Kota Lhokseumawe, sehingga ruang publik masih hampa. Kita berharap ada calon yang mampu membangun situasi supaya dinamis, sehingga mereka bisa memberikan sebuah wacana yang konkret, ini lho, kebutuhan realitas yang harus mendapat perhatian khusus dari calon yang akan maju.
Artinya, bukan sekadar mengangkat isu, tapi ada semacam eksplorasi perjalanan kepemimpinan di Kota Lhokseumawe dengan berbagai karakteristik masyarakat, tingkatan pemilih, dan berbagai fenomena pemerintahan selama ini. Sehingga ada hal-hal yang spesifik, yang menarik. Saya melihat ini yang menjadi alpa bagi bakal calon wali kota maupun partai politik yang belum mengusung calonnya.
Mereka terkesan hanya membentuk opini publik sekadar selebrasi di ruang publik, di ruang medsos, ya. Sehingga tidak menyentuh apa hal yang paling mendasar, substansial, yang harus mendapat respons mereka dari awal.
Baik, tapi bukankah seharusnya partai yang akan mengusung calonnya di Pilkada 2024 segera mendeklarasikan agar kemudian para paslon bisa adu argumen di ruang publik. Sehingga selain memberikan pendidikan politik kepada para pemilih, masyarakat juga akan mendapatkan gambaran lebih terang bagaimana sebenarnya pandangan dari setiap paslon. Komentar Anda?
Iya, semestinya pasangan calon yang sudah kita lihat selama ini dalam hal ini calon diusung PA, seharusnya mereka lebih awal mengambil start untuk mengelaborasi apa sih hasrat politik mereka, keinginan mereka dalam “menyulap” Kota Lhokseumawe lebih baik ke depan. Jadi, ini yang belum dimunculkan.
Sementara partai lain, satu sisi sedang membangun koalisi taktis, di sisi lain juga sedang melihat bagaimana PA membangun situasi. Sehingga saya lihat partai lokal ini terutama PA jika lamban dalam mengartikulasi harapan-harapan publik dan ketika muncul calon di luar PA dan bisa memunculkan hal-hal yang sangat principle (prinsip, dasar), saya pikir pandangan publik akan berubah. Sehingga tidak bisa ada pihak yang mengatakan bahwa calon di luar PA itu merasa tidak populis, ketinggalan kereta, tidak, ini hanya persoalan timing saya lihat.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy