Pecatan Marinir TNI AL Gabung Rusia, Berapa Gaji Tentara Bayaran?

Satriya Kumbara, eks Marinir yang bertempur bersama tentara Rusia
Satriya Kumbara, eks Marinir yang bertempur bersama tentara Rusia. Foto: TikTok @zstorm689

Jakarta – Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menduga motif ekonomi melatarbelakangi keputusan Satriya Arta Kumbara, mantan marinir Indonesia yang bergabung dengan militer Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Merujuk Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2024, gaji pokok tentara berpangkat sersan dua seperti Satriya berkisar antara Rp2.272.100 hingga Rp3.733.700.

Selain itu, kata Fahmi, ada fenomena di lingkungan militer ketika prajurit bintara dan tamtama memilih keluar TNI saat berusia produktif demi mencari peluang penghidupan lebih baik.

“Ketika mereka masih cukup sehat, cukup produktif begitu, mereka sudah bisa beraktivitas untuk meningkatkan kesehatan dengan aktivitas-aktivitas bisnis di luar TNI,” ujar Fahmi dikutip dari BBC News Indonesia, Senin, 19 Mei 2025.

Namun, kata Khairul, ada faktor lain yang memicu mereka ingin ikut berperang di luar negeri, seperti keinginan mempraktikkan keterampilan yang mereka punya.

“Mereka jadi tentara tapi kayaknya kita (Indonesia) tidak pernah perang. Mereka mungkin merasa tidak cukup bisa berkembang dengan apa yang mereka dapatkan atau apa yang mereka rasakan di Tanah Air,” ujarnya.

Bergabung dengan Rusia, Satriya kemungkinan menjadi tentara bayaran. Berapa gaji yang ia dapatkan?

Fahmi mencatat upah tentara bayaran atau mercenary bergantung pada negara penempatan, jenis konflik dan risiko, spesialisasi prajurit, dan durasi penugasan.

Dia mencontohkan tentara bayaran yang bergabung untuk perusahaan militer swasta, seperti Wagner Group asal Rusia, atau Black Water asal Amerika Serikat, bisa mendapat gaji ribuan dollar AS per bulannya.

Menurut catatan ISESS pada 2015, personel yang bergabung di dua perusahaan itu, bisa menerima rata-rata USD 5.000-10.000 (sekitar Rp82-164 juta) per bulan, tergantung peran dan latar belakang militernya.

Baca juga: Gabung Tentara Rusia, Serda Marinir TNI AL Dipecat dan Hilang Status WNI

Dalam konflik intensitas tinggi, pendapatan tentara bayaran bisa lebih tinggi, menjadi USD 15.000–20.000 (sekitar Rp246-329 juta) juta per bulan, terutama untuk spesialis tempur dan pelatih.

Menurut perhitungan hari ini, kata Fahmi, mungkin pendapatannya bisa lebih. Ketika tentara bayaran terlibat dalam perang, gaji mereka bisa naik dua kali dari gaji ketika dalam posisi standby force atau pasukan siaga.

Selain itu, kata Fahmi, ada juga pekerjaan yang dikategorikan sebagai “sukarelawan asing”, dengan gaji sekitar USD1.000-3.000 (sekitar Rp16-49 juta).

“Tidak semuanya terikat kontrak resmi atau dapat asuransi atau jaminan keselamatan,” ujarnya.

Kelompok bayaran tak resmi atau separatis, bisa jauh lebih kecil, antara USD 300–1.000 (sekitar Rp4,9-16 juta) per bulan.

“Tapi disertai janji bonus hasil rampasan atau akses ekonomi pascaperang,” jelas Fahmi.

Biarpun ada iming-iming kesejahteraan, kata dia, realitanya tidak selalu menjanjikan. Banyak tentara bayaran yang terlantar, tidak dibayar, atau bahkan tewas tanpa identitas dan status kewarganegaraan yang jelas.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy