Kisah Darul Kamal dan Makota Alam yang Bersatu di Bawah Bendera Aceh Darussalam

Kisah Darul Kamal dan Makota Alam yang Melebur Menjadi Aceh Darussalam
Kompleks pemakaman keluarga dan kerabat Istana Kerajaan Aceh Darussalam Abad 16-17 M di Darul Kamal, Aceh Besar. Foto: Mapesa Aceh/Iqbal Langdon

Jantho – Memperingati 79 tahun kemerdekaan RI, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Darul Kamal melakukan ziarah dan doa bersama di kompleks makam Raja-Raja Darul Kamal yang berada di Gampong Biluy, Aceh Besar. Doa dan ziarah juga diikuti para siswa dalam wilayah kecamatan itu.

Camat Darul Kamal Subhan mengatakan ziarah dan doa bersama itu sebagai tanda cinta dan penghargaan kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Menurut Subhan, dulu di wilayah Darul Kamal pernah lahir memerintah beberapa raja. Tanpa kehadiran dan perjuangan dari para raja Darul Kamal, kata Subhan, mungkin kondisi masyarakat masih di luar Islam. “Namun, berkat perjuangan mereka, kita ada di dalam Islam,” ujarnya Jumat dikutip Sabtu, 17 Agustus 2024.

Asal Usul Darul Kamal

Darul Kamal dulunya sebuah kerajaan yang berada di kawasan Aceh Besar, tepatnya di Kecamatan Darul Imarah dan Darul Kamal.

Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad menyebutkan Darul Kamal muncul setelah melemahnya Kerajaan Lamuri yang berada di sekitar Gmpong Lamreh, Aceh Besar. Saat itu, Lamuri diserang Kerajaan Cola dari India Selatan pada 1024 masehi. Lalu sekitar 1099 diserang lagi oleh Majapahit, menyusul Laksamana Cheng Ho pada 1414.

Ada versi yang menyebutkan, pada akhir abad 15, pusat Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Makota atau Meukuta Alam (Kuta Alam, Banda Aceh sekarang), karena adanya serangan dari Kerajaan Pedir di Pidie. Sejak pemindahan ibu kota itu, Lamuri lebih dikenal sebagai Kerajaan Makota Alam.

Namun, tulis Mohammad Said, setelah lenyapnya Kerajaan Lamuri muncul beberapa kerajaan seperti Darul Kamal, Meukuta Alam, Aceh (Darussalam), dan Darud Dunia.

Sementara menurut Teuku Iskandar dalam Aceh Dalam Lintas Sejarah, sebelum Kerajaan Aceh Darussalam, pada pengujung abad XV ada dua kerajaan yang berdiri, yaitu Meukuta Alam dan Darul Kamal.

Kedua kerajaan itu dipisahkan aliran Krueng Aceh. Meukuta Alam berada di sebelah utara sungai sedangkan Darul Kamal di sisi selatan, yang sekarang masuk kawasan Aceh Besar.

Pendiri dan Sultan Darul Kamal

Kerajaan Darul Kamal didirikan oleh Sultan Malik Firman Syah. Setelah Sultan Malik mangkat pada 1280 masehi, posisinya digantikan secara berturut-turut oleh Sultan Alaiddin Mahmud, Seri Maharaja Pitri, Sultan Alaiddin Mansur Syah, Sultan Mahmud Syah, Sultan Nuruddin Al-Mau’qub, Sultan Husein Riayat Syah, hingga Sultan Alaiddin Abdullah Malikul Mubin, mangkat pada 1422.

Kerajaan Meukuta Alam dan Darul Kamal sering cekcok. Padahal, keduanya berasal dari satu keluarga. Keduanya kerap berperang walaupun sering berakhir imbang.

Diketahui kemudian Raja Meukuta Alam, Syamsu Syah, menikahkan putranya, Ali Mughayat Syah dengan Putri Setia Indra, anak Sultan Inayat Syah dari Kerajaan Darul Kamal.

Saat mengantar pengantin laki-laki ke Darul Kamal, seperangkat senjata dimasukkan dalam arak-arakan dan terjadilan perang. Dalam pertempuran tersebut Muzafar Syah, putera Inayat Syah, gugur dan dimakamkan di Biluy. Darul Kamal pun dapat ditaklukkan.

Walaupun terjadi perang, tulis Teuku Iskandar, perkawinan Ali Mughayat Syah dan Setia Indra menyatukan dua kerajaan itu menjadi kerajaan baru yang disebut Aceh Darussalam.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy