Polemik 4 Pulau di Singkil, Zuriah Raja Peureulak ‘Warning’ Pusat: Kami Siap Perang!

Teungku Popon
Keturunan Raja Peureulak ke-27, Dr Teuku Muhammad Nurdin atau Tgk Popon. Foto: Istimewa

Idi – Zuriah Raja Peureulak ke-27, Teuku Muhammad Nurdin atau Teungku Popon menyebutkan, jika merujuk tapal batas Aceh 1956, perbatasan wilayah Aceh hingga Gebang di Langkat, Sumut.

“Bahkan ada monumennya, apalagi kalau merujuk pada peta Aceh masa kerajaan, perbatasan wilayah Aceh sampai ke Bengkulu, dan kami keturunan raja memiliki peta itu,” ujar Popon menanggapi pemindahan empat pulau di Singkil ke wilayah Sumut, Senin 16 Juni 2025.

“Tetapi kami tidak serakah dan mau mengalah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jadi tolong jangan lagi hari ini wilayah kami kembali ‘diperkosa’. Kami siap dengan kondisi apapun,” imbuhnya.

Baca juga: ‘Rebut Kembali’ 4 Pulau, Pemerintah Aceh Siapkan Langkah Ini

Sebagai keturunan raja, kata Popon, dia mengingatkan kembali pemerintah pusat bagaimana Aceh berkorban untuk kemerdekaan republik ini.

“Bagaimana sumbangsih kami terhadap perjuangan bangsa ini, kami yakin Menteri Dalam Negeri Bapak Tito Karnavian tahu akan sejarah Aceh, dan kami yakin beliau tidak buta akan sejarah, jadi tolong jangan semena-mena terhadap Bangsa Aceh,” ujarnya.

Aceh merupakan daerah dengan sejarah konflik lumayan panjang hingga lahirnya perjanjian damai MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Baca juga: ‘GAM’ Demo Kantor Gubernur, Tolak 4 Pulau Aceh Masuk Sumut dan Copot Mendagri

Seharusnya, kata Popon, pemerintah pusat menyadari bila wilayah Aceh dirampas akan memantik konflik horizontal baru.

“Hal ini harus diwaspadai oleh pemerintah pusat karena akan menimbulkan krisis kepercayaan kepada Presiden Prabowo,” ujarnya.

Semestinya, tambah Popon, pemerintah pusat mengapresiasi dan bangga terhadap eks kombatan GAM dan rakyat Aceh yang hingga kini masih merawat perdamaian dengan pemerintah Indonesia.

Baca juga: Bertemu Mualem, Ijeck Ajak Warga Aceh dan Sumut Bersabar Soal Polemik 4 Pulau

“Padahal jika kita lihat secara nyata, banyak sekali butir-butir MoU Helsinki yang tidak terealisasi sesuai dengan komitmen dan perjanjian, maka jangan tambahkan luka baru dengan merampas wilayah Aceh,” ujarnya.

Dirinya bersama zuriah sembilan Negeri Aceh, kata Popon, sudah berkomunikasi aktif untuk bersama-sama mempertahankan empat pulau di Singkil dengan cara apapun.

“Sebagai ‘warning’, kami bangsa Aceh pastikan akan terjadi peperangan jika empat pulau tersebut sah menjadi wilayah administrasi Sumut. Kami rakyat Aceh akan merespons cepat menanggapi masalah serius ini.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy