Jemaah Islamiyah Umumkan Pembubaran Organisasi

Pimpinan Al-Jamaah Al Islamiyah umumkan pembubaran JI. Foto: kemenag.go.id
Pimpinan Al-Jamaah Al Islamiyah umumkan pembubaran JI. Foto: kemenag.go.id

Jakarta – Para petinggi Al-Jamaah Al-Islamiyah atau Jemaah Islamiyah (JI) sepakat membubarkan organisasi tersebut dan kembali ke pangkuan NKRI.

Pembubaran ini disampaikan melalui rekaman video yang memuat pernyataan hasil kesepakatan majelis para senior dengan para pimpinan lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang berafiliasi dengan JI.

Dikutip dari laman Kemenag, pembubaran yang dilakukan di Bogor, pada 30 Juni 2024, memuat enam pernyataan sikap yang disampaikan atas nama 16 orang yang diumumkan dalam rekaman video tersebut.

Selain membubarkan diri, JI juga menegaskan kesiapan mereka mengikuti peraturan hukum yang berlaku di NKRI beserta konsekuensi logisnya. Mereka juga menegaskan kesiapan untuk terlibat aktif mengisi kemerdekaan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

Staf Khusus Menteri Agama bidang Radikalisme dan Intoleransi Nuruzzaman menyambut baik pengumuman terbuka pembubaran JI. Nuruzzaman mengapresiasi pendekatan deradikalisasi yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror Polri.

“Kami mengapresiasi Densus 88 Polri atas capaiannya, deradikalisasi dan soft approach yang berhasil hingga Jamaah Islamiyah membubarkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI,” kata Nuruzzaman dikutip dari laman Kemenag, Sabtu, 7 Juli 2024.

Pria yang juga akrab disapa Bib Zaman ini berharap Densus 88 dapat terus mengawal hingga proses deradikalisasi ini hingga sampai akar rumput simpatisan JI.

“Para petinggi JI sudah menyatakan bahwa selama ini mereka khilaf dan paham mereka salah. Saya kira sikap tegas JI untuk kembali ke NKRI patut diapresiasi, tidak ngambang seperti HTI [Hizbut Tahrir Indonesia],” ujar Bib Zaman.

Dia meminta jajaran Kementerian Agama dan stakeholders Pendidikan Islam untuk mendampingi sejumlah pesantren yang selama ini terafiliasi dengan JI.

“Pesantren dan Lembaga Pendidikan yang selama ini terafiliasi dengan JI juga sudah menyatakan kesiapannya untuk menggunakan kurikulum pendidikan yang dirumuskan negara. Ini perlu didampingi oleh jajaran Kementerian Agama,” ujar Bib Zaman.

Menurutnya, proses pendampingan dan pendekatan perlu terus dilakukan agar kembalinya JI ke NKRI tidak hanya pada level pimpinan tapi juga hingga ke seluruh anggotanya di akar rumput.

Berikut enam poin pernyataan JI:

  • Menyatakan pembubaran Al Jamaah Al Islamiyah dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • Menjamin kurikulum dan materi ajar terbebas dari sikap tatharruf dan merujuk kepada paham Ahli Sunnah wal Jamaah;
  • Membentuk tim pengkajian kurikulum dan materi ajar;
  • Siap untuk terlibat aktif mengisi kemerdekaan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat;
  • Siap mengikuti peraturan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia serta berkomitmen dan konsisten untuk menjalankan hal-hal yang merupakan konsekuensi logisnya;
  • Hal-hal yang berkaitan dengan kesepakatan di atas akan dibicarakan dengan negara melalui Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Adapun yang membuat pernyataan adalah Abu Rusydan, Bara Wijayanto, Zarkasyi, Abu Fatih, Abu Mahmudah, Solahuddin, Saptono Munadi, Fahim, Bambang Sukirno, Qodri Fathurrahman, Imtihan Syafii, Hamad Nur Syahid, Mustaqim Safar, Abu Dujana, Tengku Azhar, dan Bahruddin Rohmat.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy