Di jantung kota suci Makkah, sekitar dua kilometer dari Masjidil Haram, terbentang kawasan bernama Al-Misfalah. Secara topografi, Misfalah berada di bagian yang menurun dari Masjidil Haram. Karena itu, penyebutan Misfalah dibedakan dari kawasan Ma’la yang berada di sisi atas dari Masjidil Haram.
Tahun ini, Misfalah kembali menyambut para tamu Allah dari Nusantara, termasuk jamaah haji asal Aceh. Sebanyak 12 kelompok terbang jamaah Aceh akan tinggal di tiga hotel di kawasan itu: Awqaf Al Mufti, Abeer Alfadila, dan Al Zaayir Al Akhyar—semuanya berada di Jalan Ibrahim Al Khalily.
Mereka ditempatkan dalam Sektor 9 dan berada di bawah syarikah yang sama. Penempatan itu, menurut Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh Azhari, didasarkan pada pembagian kelompok terbang, hotel, dan maktab.
Baca juga: Jamaah Haji Aceh Ditempatkan di Pemondokan Misfalah
Dahulu, Misfalah bukanlah sekadar tempat bermalam para jamaah haji. Dalam khazanah Islam, khususnya bagi masyarakat Indonesia, kawasan itu ibarat “dayah”. Sebab, di sanalah para ulama Nusantara tempo dulu belajar ilmu agama.
Melansir Laman MUI, Al-Azraqi dalam History of Makkah menyebutkan, Distrik Misfalah membentang dari As-Safa hingga Ajiadin di bawahnya.
Sejarawan Makkah Ibnu Rajih al-Abdali mencatat, dulunya wilayah itu pernah menjadi tempat tinggal sahabat Nabi, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kabilah-kabilah besar Arab lainnya seperti Bani Tamim, Bani ‘Adi, dan Bani Hasyim juga pernah mendiami Misfalah.
Bani Hasyim merupakan salah satu klan dalam suku Quraisy yang merujuk kepada Hasyim bin Abdul Manaf. Hasyim adalah buyut Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abu Thalib.
Bani Hasyim mendapatkan amanah melayani para jamaah haji yang datang setiap tahun. Mereka bertanggung jawab atas penyediaan air minum (siqayah) dan makanan (rifadah)—bagian dari tugas mulia menjaga kehormatan kota suci Makkah.
Di kemudian hari, Misfalah menjadi rumah bagi para penuntut ilmu dari Nusantara. Jejaknya tersisa hingga kini, salah satunya Zaqaq Jawa atau Gang Jawa. Di sinilah para ulama Nusantara menetap sembari mengaji.
Ulama Indonesia dulunya menimba ilmu kepada Syaikh Ismail Zein al-Yamani atau kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, sebelum keduanya pindah ke Rushaifah.
Sejak abad ke-18, ulama Indonesia telah menetap dan berkiprah di Makkah. Tiga di antaranya menjadi pilar penting dalam sejarah Islam Indonesia, yakni Syekh Junaid Al-Batawi, Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, dan Syekh Nawawi al Bantani.
Melansir NU Online, Syekh Junaid lahir di Pekojan, Jakarta Barat. Orientalis asal Belanda C Snouck Hurgronje yang menyusup ke Makkah pada 21 Januari 1885, dalam jurnalnya Mecca In The Latter Part Of 19th Century menuliskan, di Makkah pada perempat ketiga Abad 19, ada “sesepuh” para ulama Jawa bernama Junaid yang sudah menetap selama 50 tahun. Perkiraan sementara, Syekh Junaid sudah bermukim di Makkah sejak 1834, tanpa diketahui secara pasti kapan waktu hijrahnya.
Sementara Syekh Ahmad Khatib dilahirkan di Koto Tuo, Sumatra Barat, pada Senin, 6 Dzulhijjah 1276 Hijriah atau 26 Juni 1860. Pada 1287 Hijriah, ia diajak ayahnya Abdul Lathif menunaikan ibadah haji ke Makkah. Setelah rangkaian ibadah haji ditunaikan, Lathif kembali ke Sumbar. Ahmad Khatib tetap tinggal untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Makkah, terutama yang mengajar di Masjidil Haram.
Baca juga: Sosok Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi: Guru Ulama Pendiri NU, Muhammadiyah, dan PERTI
Adapun Syekh Nawawi al-Bantani lahir di Tanara, Serang, Banten, sekitar tahun 1230 Hijriyah atau 1813 Masehi. Syekh Nawawi menunaikan haji pada usia 15 tahun. Ia kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Makkah saat itu. Syekh Nawawi wafat di Mekkah, Hijaz, sekitar tahun 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi.
Pada generasi berikutnya, muncul ulama monumental asal Indonesia yang justru lahir di Misfalah: Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani. Ia dikenal sebagai pakar hadis dan sanad, serta menjadi guru bagi banyak tokoh besar dunia Islam—termasuk Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Habib Umar bin Hafidz, KH Maimoen Zubair, dan KH Sahal Mahfudz.
Kini, wajah Misfalah telah berubah. Gedung-gedung tinggi menggusur ruang-ruang sunyi tempat ulama dahulu bertafakur, berganti hotel bertingkat dan lahan parkir. Namun, lebih dari sekadar pemondokan, Misfalah ibarat rumah ilmu, tempat menyambung sanad ke negeri-negeri jauh, termasuk Serambi Mekkah: Aceh.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy