Khutbah Jumat: Idul Adha, Saatnya Iman dan Syukur Diuji

Ilustrasi hewan aqiqah. Foto: NU Online
Ilustrasi hewan aqiqah. Foto: NU Online

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita patut bersyukur masih diberi umur dan kesehatan, hingga bisa menunaikan salat Jumat hari ini. Kita juga bersiap menyambut bulan Dzulhijjah, bulan mulia yang di dalamnya terdapat Idul Adha.

Idul Adha adalah momentum penting. Kita diajak meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan ketundukan Nabi Ismail. Ibadah kurban dan haji yang dilakukan di bulan ini menjadi bentuk pengorbanan sekaligus wujud syukur kepada Allah.

Keduanya menuntut kesiapan, bukan hanya niat. Ibadah haji, misalnya, memerlukan biaya besar. Karena itu, kewajiban ini hanya berlaku bagi yang mampu (istitha’ah). Allah berfirman dalam QS Ali ‘Imran ayat 97:

“Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.”

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Selain ibadah haji, kita juga disyariatkan mengorbankan sebagian harta dengan menyembelih hewan qurban. Ibadah ini juga membutuhkan keikhlasan dan keimanan. Kita harus rela mengeluarkan harta untuk membeli hewan kurban yang dagingnya akan dibagikan kepada orang lain.

Bukan hewan sembarangan yang bisa menjadi hewan kurban. Kita diminta menyembelih hewan yang layak, sehat, dan berkualitas. Kita dianjurkan memilih hewan kurban terbaik dan telah memenuhi persyaratan sesuai syariat. Jika tidak sesuai persyaratan, kurban kita bisa jadi tidak sah.

Rasulullah bersabda:

“Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban: pertama yang matanya jelas-jelas buta, kedua yang fisiknya jelas-jelas sakit, ketiga yang kakinya jelas-jelas pincang, dan keempat yang badannya kurus lagi tak berlemak.” (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dengan syarat-syarat ini, maka jelas bisa dipahami bahwa kita harus merogoh kantong saku lebih dalam untuk menyiapkan uang dan benar-benar menguatkan tekad dan keimanan untuk membeli hewan kurban ini.

Pengorbanan dalam bentuk harta ini menunjukkan seberapa besar iman dan syukur kita. Harta bukan untuk disimpan semata, tapi digunakan di jalan Allah. Idul Adha mengingatkan kita untuk lebih dekat kepada-Nya dan memperkuat komitmen ibadah, termasuk kurban dan haji.

Karena itu, mari kita wujudkan rasa syukur dengan menguatkan komitmen untuk bisa beribadah kurban dan juga haji. Insya Allah kita termasuk golongan orang-orang yang beriman dan pandai bersyukur. Aamiin.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy