Salah satu produk hijab motif byLilu, dengan motif Rempah Bumo Aceh. Foto: Instagram/@bylilu_
Di tengah arus globalisasi yang tak terhindarkan, identitas nasional seringkali terasa kabur. Terancam oleh gelombang homogenisasi budaya, namun dari jantung Aceh muncul secercah harapan. ByLilu sebuah entitas bisnis lokal yang secara inovatif melestarikan dan menyebarkan kekayaan budaya bangsa.
Lebih dari sekadar merek fesyen hijab byLilu bertransformasi menjadi platform digital yang aktif “menenun” identitas nasional melalui representasi motif budaya Aceh yang tinggi mutunya, menjangkau khalayak luas di era digital yang serba terkoneksi.
Bagaimana mungkin sehelai kain, produk fesyen yang tampak sederhana, mampu memainkan peran krusial dalam membentuk dan memperkuat identitas nasional di ranah siber? Inilah kisah byLilu.
Produk jilbab bylilu. Foto: Instagram @bylilu_
Lahir dari Kolaborasi Milenial Aceh
Inisiatif byLilu lahir dari kolaborasi dua milenial Aceh, Lidya dan Lusi yang memahami betul signifikansi visual dan narasi di era digital. Bermula pada tahun 2019 dengan produksi hijab polos melalui online shop, byLilu kemudian memperluas jangkauannya dengan membuka gerai fisik setahun berselang.
Namun lompatan transformatif terjadi ketika mereka memperkenalkan inovasi hijab bermotif budaya Aceh. Langkah strategis ini bukan sekedar ekspansi produk, melainkan sebuah deklarasi identitas yang terkonseptualisasi dengan matang, sebuah narasi visual yang siap dibagikan kepada dunia.
Lebih dari sekadar ornamen, setiap motif pada hijab byLilu menyimpan cerita dan akar historis hingga kultural yang kuat. Lidya pun menjelaskan secara detail mengenai motif hijab yang byLilu memiliki motif Masjid Islamic Center Lhokseumawe yang merupakan salah satu ikon kota Lhokseumawe Aceh. Bukan hanya indah dipandang tetapi juga merefleksikan nilai-nilai keislaman yang mendalam dan kebanggaan akan warisan peradaban lokal.
Lidya dan Lusi pemilik bylilu. Foto: Istimewa
Begitu pula dengan motif Rempah Bumo Aceh dalam desain ini byLilu membangkitkan memori rempah Aceh yang melegenda, dimana Nanggroe Aceh Darussalam pernah menjadi salah satu titik jalur rempah nusantara.
Motif Inai hadir sebagai representasi tradisi lazim yang dilakukan masyarakat Aceh terhadap pengantin mempelai wanita atau disebut Dara Baro dengan memberi tanda di tangan dan jemari menggunakan tanaman Lawsonia Inermis juga dikenal dengan daun pacar atau inai. Tujuan agar Dara Baro terlihat menarik dan sebagai tanda mengakhiri masa lajang dengan do’a selamat.
Sementara motif bunga yang digunakan byLilu yaitu Seulanga yang menampilkan keindahan bunganya yang unik pada hijab Aceh memiliki makna budaya yang mendalam, jauh melampaui fungsi estetika semata. Bunga Seulanga dengan harum dan kelembutannya menjadi perlambang keindahan, kemuliaan dan keanggunan wanita Aceh.
Penggunaan motif Seulanga juga dapat dilihat sebagai apresiasi terhadap alam Aceh yang merupakan tempat bunga ini tumbuh subur. Selain bunga byLilu juga menggunakan motif Seuke ialah salah satu daun yang dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan baku anyaman, biasanya dianyam menjadi tikar alas duduk untuk memuliakan tamu.
Motifnya yang khas menjadi inspirasi byLilu untuk memodifikasikannya dalam desain hijab dengan tetap menjaga kearifan lokal dan juga menjadikan anyaman seuke sebagai packaging hijabnya juga, sehingga melalui motif ini byLilu mengajak pembeli untuk memajukan pengrajin lokal.
Kreativitas yang dimiliki byLilu berusaha Out Of The Box mengapa demikian?
“Karena byLilu juga memiliki inovasi yang sangat tidak terduga termasuk salah satu motif hijab yang satu ini yaitu mengenai keindahan arsitektur rumah tradisional Aceh terinspirasi dari ukiran menawan di setiap sudut rumah aceh sehingga dinamakan motif Meusago Aceh,” ungkap Lidya saat ditemui di kediamannya di Lhokseumawe, Banda Sakti, Lhokseumawe, Selasa, 12 Mei 2025.
Langkah byLilu menawarkan perspektif menarik, mereka tidak hanya memproduksi komoditas tetapi juga aktif menciptakan dan menyebarkan pesan-pesan kultural. Ornamen pada hijab bertransformasi menjadi medium komunikasi visual yang efektif.
Lusi, yang fokus pada strategi pemasaran digital memanfaatkan platform online untuk mengekspansi narasi budaya ini melampaui batas geografis Aceh. Contohnya, Instagram byLilu menjadi galeri virtual yang memamerkan keindahan visual motif dan merangkai narasi di baliknya, membangun interaksi dengan konsumen dari berbagai penjuru negeri bahkan di kanca Internasional.
Hal tersebut diketahui melalui salah satu postingannya di Instagram byLilu: “Masyaallah sekali antusias pembeli di acara FESyar kemarin, byLilu merambah kepelanggan yang berasal dari Malaysia, Singapore, Batam, Jakarta, dan masih banyak lagi. Semoga pasar byLilu semakin meluas ke mancanegara.”
Kegiatan byLilu. Foto: Instagram/@bylilu_
Kisah suskses byLilu menggarisbawahi peran krusial media dalam konstruksi identitas nasional. Di era digital, media tidak hanya berfungsi sebagai kanal distribusi dan promosi tetapi sebagai arena representasi budaya.
Hijab dengan sentuhan motif budaya byLilu menjelma menjadi artefak visual yang membawa pesan identitas Aceh kepada khalayak yang heterogen. Setiap individu yang mengenakannya tidak sekadar berbusana, melainkan turut serta membawa fragmen narasi budaya Aceh, berkontribusi pada visualisasi dan pemahaman akan pluralitas budaya Indonesia di ranah siber.
Fenomena byLilu juga selaras dengan konsepsi identitas nasional yang dinamis dan adaptif di era digital. Identitas tidak lagi hanya ditentukan oleh cerita-cerita besar yang dikelola negara atau media arus utama.
Kini setiap individu ataupun kelompok dapat menampilkan identitasnya melalui berbagai platform digital. byLilu sebagai bisnis yang berakar di daerah telah berhasil memanfaatkan ruang ini untuk memperkenalkan dan mempopulerkan keunikan budaya Aceh sebagai kontribusi penting bagi keragaman identitas nasional.
Meskipun demikian apabila kita kilas balik pada konteks Sistem Komunikasi Indonesia, terutama dalam memahami peran media dalam konstruksi identitas nasional dan tantangan signifikan mengemuka.
Produk hijab motif Bylilu. Foto: Instagram @bylilu_
Kita perlu menyadari kemungkinan pertanyaan krusial yang akan terlontarkan seperti bagaimana media termasuk platform digital yang dimanfaatkan oleh inisiatif seperti byLilu, dapat secara bertanggung jawab menjaga keaslian representasi budaya Aceh di tengah gelombang representasi media, dimana platform harus mengedepankan akurasi, konteks historis, dan nilai-nilai budaya yang mendasarinya alih-alih sekadar mengejar keuntungan ekonomi.
Kendati demikian, inisiatif byLilu setidak nya menawarkan perspektif optimis mengenai bagaimana semangat kewirausahaan kreatif, dengan memanfaatkan kekuatan media digital dapat menjadi model pemberdayaan budaya yang konstruktif dalam ranah identitas nasional.
Namun keberhasilan sangat bergantung pada kesadaran kolektif para pelaku media untuk memprioritaskan representasi budaya yang autentik dan bertanggung jawab, sehingga kontribusi terhadap pembentukan identitas nasional yang kaya, inklusif dan lestari dapat terwujud.
Kisah inspiratif byLilu adalah contoh nyata bagaimana inisiatif berbasis kearifan lokal dipadukan dengan kreativitas dan pemanfaatan strategis medium digital dapat memberikan kontribusi substansial dalam “menenun” identitas nasional yang beragam dan inklusif.
Lebih dari sekedar tren fesyen sesaat, hijab bermotif budaya byLilu adalah manifestasi visual dari kekayaan Aceh yang kini dapat dinikmati dan diapresiasi oleh spektrum khalayak yang lebih luas.
Harapannya, inisiatif serupa akan tumbuh subur di berbagai penjuru Indonesia dengan memberdayakan kekuatan media digital untuk melestarikan dan merayakan keunikan budaya sebagai fondasi yang kokoh bagi identitas nasional di era global yang penuh dinamika.
Oleh: Siti Nurhaliza br Sinaga | 220240114 | Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Malikussaleh Angkatan 2022
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy