Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami penurunan signifikan, mencapai level terendahnya sejak krisis ekonomi Asia 1998 pada Selasa, 25 Maret 2025.
Rupiah diperdagangkan di angka 16.640 per dolar AS, mencatatkan penurunan hampir 3 persen dalam sebulan terakhir.
Menanggapi kondisi itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan fundamental ekonomi di Indonesia saat ini dalam kondisi kuat.
Baca juga: Rupiah Ambruk 40 Poin Setelah The Fed Naikkan Suku Bunga
Dia juga mengungkit pasar modal yang sudah kembali rebound.
“Ya kan ini harian kan, nanti kita lihat. Kan fundamental ekonomi kuat, pasar juga sudah rebound. Kemarin ekspektasi mengenai RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Mandiri dan BRI kan baik outcome-nya,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 26 Maret 2025, dilansir dari Kompas.com.
Saat ditanya apakah pemerintah akan mencari penyebab dari anjloknya rupiah, Airlangga hanya membeberkan bahwa masih ada beberapa faktor sentimental luar.
Baca juga: Rupiah Turun ke Rp16.300, Sedikit Lagi Mirip Krisis 1998
Dia juga enggan membocorkan apakah akan membahas kondisi rupiah ini dengan Presiden Prabowo Subianto atau tidak.
“Kalau rupiah kan naik turun, biasa saja,” ucapnya.
Sementara itu, Airlangga mengungkit bahwa Bank Indonesia telah mengambil langkah demi stabilitas rupiah.
Pada Selasa, mata uang Garuda sempat turun 0,5 persen ke level 16.640 per dollar AS dan terus melemah hingga penutupan perdagangan di level Rp 16.611 per dollar AS, atau turun 0,27 persen (44 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sejauh ini, mata uang rupiah telah melemah 4,79 persen selama setahun terakhir. Meski demikian, pelemahan nilai tukar pada Selasa kemarin tidak hanya terjadi pada rupiah.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy