Idi – Sebanyak 10 orang yang tergabung dalam kelompok pengungsi Rohingya mendarat di Pantai Sembilang, Desa Alue Bu Jalan Baroh, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, meninggal dunia.
“Awalnya mereka berjumlah 274 orang, tetapi 10 orang di antaranya telah meninggal dunia,” ujar Humanitarian Coordinator Yayasan Geuntayoe, Nasruddin M Is, dalam keterangan tertulis dikutip Line1.News, Selasa, 7 Januari 2025.
Nasruddin tidak merincikan penyebab dan di mana para pengungsi itu meninggal dunia. Dia hanya menyebutkan, para pengungsi itu menempuh perjalanan selama 15 hari di laut untuk menyelamatkan diri dari situasi bergejolak di Myanmar.
“Dari total 264 pengungsi, di antaranya 114 anak-anak dan 66 perempuan, mereka telah berada di laut sekitar 15 hari, dengan menggunakan dua boat (kapal),” ujarnya.
Para pengungsi itu tiba di Pantai Sembilang, pada Minggu malam, 5 Januari 2025, sekira pukul 21.00 atau 22.00 waktu Aceh. Saat ini, mereka telah dipindahkan ke kamp pengungsian Seunebok Rawang.
Baca Juga: Ratusan Pengungsi Rohingya Kembali Mendarat di Aceh Timur
Apresiasi Pemda dan TNI-Polri
Yayasan Geutanyoe mengapresiasi kerja cepat Pemerintah Aceh Timur, TNI-Polri, dan lembaga-lembaga kemanusiaan dalam menangani pengungsi Rohingya yang baru berlabuh itu.
“Kerja cepat Pemerintah Daerah Aceh Timur, Kepolisian dan TNI dalam penanganan ini patut diacungi jempol,” ujar Nasruddin.
Dalam durasi waktu yang cepat, kata dia, pegungsi Rohingya yang telah didata langsung dibawa dengan lima truk ke kamp pengungsian Seunebok Rawang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur. Di sana, mereka akan bergabung dengan pengungsi lama yang telah tiba setahun atau beberapa bulan lalu.
“Krisis kemanusiaan yang melanda Myanmar perlu intervensi dari berbagai dunia internasional agar etnis Rohingya dan etnis lainnya bisa diselamatkan dari kematian,” ujar Nasruddin.
Krisis kemanusiaan Myanmar, kata dia, hari ini telah berdampak terhadap negara lain termasuk Indonesia. Aceh sendiri yang kini menampung hampir seribu pengungsi asal Myanmar, kata Nasruddin, mengalami beberapa kendala seperti tempat penampungan, pendidikan, dan kesehatan.
“Saat ini pengungsi tersebar di beberapa daerah, di antaranya dua titik di Pidie, satu titik di Lhokseumawe, dan satu titik di Aceh Timur. Ini sangat menguras tenaga maupun finansial,” ungkapnya.
Sementara untuk pengungsi yang baru mendarat di Aceh Timur, Yayasan Geutanyoe telah menyalurkan bantuan masa panik berupa roti, popok, hygiene kits, dan susu.
“Bantuan tersebut diprioritaskan untuk perempuan dan anak-anak yang baru datang. Sementara bantuan yang mendesak saat ini adalah selimut, menstruasi pad, tenda, kelambu, sandal, popok, dan pakaian layak pakai.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy