Di Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, ada Junaidi, perajin rapai yang memproduksi sejak 1990-an. Dulu, kata Junaidi, alat musik tabuh itu dibuat dengan peralatan tradisional. “Sekarang sudah dikombinasikan dengan alat-alat moderen,” ujarnya.
Alas tabuhan rapai memakai kulit kambing betina yang sudah beranak. “Harus diasapi hingga delapan bulan,” ujar Junaidi. Kalau tidak dilakukan seperti itu, atau memakai kulit binatang lain, Junaidi yakin hasilnya tidak bagus.
Beberapa referensi menyebutkan, rapai diciptakan oleh Syekh Ahmad Rifa’i, pendiri tarekat rifa’iyah. “Adat budaya Aceh ini kalau tidak dibudidayakan suatu hari akan hilang,” pungkas Junaidi.

Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy