Parah! Kerusakan Rawa Tripa Makin Luas akibat Perambahan

Ekskavator sedang merambah hutan lindung di kawasan Rawa Tripa, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Foto: Antara/Dokumentasi Apel Green Aceh
Ekskavator sedang merambah hutan lindung di kawasan Rawa Tripa, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Foto: Antara/Dokumentasi Apel Green Aceh

Suka Makmue – Kerusakan Rawa Tripa di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, makin meluas. Yayasan Apel Green Aceh menyebutkan luas kerusakan hutan lindung Rawa Tripa telah mencapai 608,81 hektare.

“Apabila perambahan hutan lindung ini terus dilakukan, maka luas ekosistem lindung yang rusak semakin luas,” ujar Direktur Yayasan Apel Green Aceh, Rahmat Syukur dikutip dari Antara, Minggu, 7 Juli 2024.

Perambahan yang marak di kawasan lindung gambut di Rawa Tripa, kata Syukur, telah merembet masuk hingga ke daerah Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru atau PIPPIB. Seharusnya, kata dia, daerah PIPPIB tak boleh dirambah dan dimanfaatkan untuk menanam sawit.

Yang sangat mengkhawatirkan, kata Syukur, perambahan hutan di Rawa Tripa dilakukan terang-terangan. “Hasil kayu curian bahkan dikumpulkan dan dibawa secara terbuka, seakan-akan aktivitas ini menjadi legal,” ujarnya.

Dari investigasi Apel Green Aceh, ditemukan alat berat yang sedang membersihkan lahan di kawasan lindung gambut.

Padahal, tambah dia, penebangan kayu ilegal melanggar Pasal 50 ayat 3 huruf e Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999. Beleid ini menyebutkan, setiap orang dilarang menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di
dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang. Adapun Pasal 78 ayat 5 menyebut ancaman pidana bagi pelanggar hingga 10 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.

“Daerah Rawa Tripa adalah kawasan habitat satwa kunci Sumatra seperti orangutan dan harimau. Jika perambahan hutan rawa gambut semakin merajalela dan tidak ada tindakan oleh aparat penegak hukum, maka satwa lindung di Rawa Tripa semakin terancam punah,” ujar Syukur.

Apel Green Aceh meminta aparat penegak hukum, baik kepolisian, Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan otoritas terkait lainnya, tidak tutup mata terhadap perambahan yang telah berlangsung lama. Pembabatan hutan secara ilegal di Rawa Tripa, kata Syukur, harus ditindak dan diberi sanksi tegas.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy