Leumang, Makanan Raja Aceh dan Menu Primadona Berbuka Puasa

Pemanggang lemang
Pekerja mengatur bara api di lapak Mak Leumang milik Hafsah Abbas di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa, 11 Maret 2025.

Banda Aceh – Bunyi gemeretak kayu pertanda sudah berubah menjadi bara kian bersahutan. Dua pekerja sibuk mengorek bara api. Di sekelilingnya berjejer potongan bambu buluh seukuran lengan manusia. Bambu-bambu itu berisi campuran beras, ubi, dan ketan hitam; cikal bakal leumang atau lemang.

Siang itu, asap membubung tinggi memenuhi atap gubuk kecil yang dijadikan lokasi memanggang lemang, kuliner khas Aceh yang diminati masyarakat saat puasa Ramadan.

Sabar dan Fitra, dua pekerja di lapak Mak Leumang milik Hafsah Abbas, terus memantau semua bambu. Mereka bergulat dengan puluhan batang bambu dan bara api setiap hari.

Mereka mulai memanggang bambu muda itu dengan bara api sejak pukul 09.00 waktu Aceh. Proses ini harus terus diperhatikan agar bara api merata dan tingkat kematangan lemang juga sempurna serta rasanya juga nikmat.

Satu batang bambu buluh dipotong dengan panjang sekitar 40-80 sentimeter bahkan lebih. Bambu ini diisi beras ketan dan santan lalu dibakar pada bara api yang banyak dalam posisi berdiri dengan sudut kemiringan kira-kira 80 derajat.

Sebelum dimasukkan beras ketan atau ubi kayu, dinding bambu buluh itu dilapisi daun pisang muda atau lebih tipis, sehingga memudahkan saat mengambil ketan yang telah masak di dalamnya.

Usaha Turun Temurun

Lemang merupakan jajanan yang banyak ditemukan di beberapa daerah di Sumatra termasuk Aceh. Menikmati jajanan yang dimasak di dalam tabung bambu ini akan semakin nikmat jika disantap saat hangat.

Makanan ini sering dijumpai saat bulan puasa dan Idulfitri. Di Aceh, meulumang (berlemang) sudah menjadi tradisi masyarakat. Saban perayaan hari besar keagamaan lemang pasti jadi kudapan utama.

Hafsah Abbas, 75 tahun, pemilik Lapak Mak Leumang berada di Gampong (Desa) Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, ini sudah berjualan sejak tahun 2000 atau sebelum musibah gempa dan tsunami Aceh.

“Ini usaha turun temurun dari keluarga di Pidie. Saya mulai jualan di sini sejak tahun 2000, sebelum tsunami,” ujar Hafsah kepada Line1.News sambil mengaduk selai srikaya, Selasa, 11 Maret 2025.

Hafsah menuturkan, bulan puasa Ramadan merupakan momen yang sangat dinantikan oleh para pedagang takjil, terutama lemang. Pedagang musiman ini akan kebanjiran omzet selama bulan puasa.

Dia menyebut lemang buatannya diminati banyak orang. Bahkan, “diekspor” hingga ke Pulau Jawa dan negeri jiran Malaysia.

“Lemang ini khas Pidie, tapi banyak yang pesan dari luar. Katanya, rasa lemang yang saya buat berbeda,” jelas Hafsah.

Saban sore, saat sirine berbuka puasa masih lama berbunyi, pembeli akan berjubel di depan lapak Hafsah, mengantre membeli lemang sebagai salah satu menu berbuka puasa. Dan Hafsah yang dibekali pengalaman bertahun-tahun akan melayani mereka satu persatu dengan sabar dan telaten.

Harga lemang di lapak Hafsah dijual bervariasi. Per porsi dibanderol Rp5.000 hingga Rp10.000. Sementara lemang utuh dalam satu bambu dijual mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran.

Tak cuma lemang tok, Hafsah juga menjual selai srikaya sebagai “topping”. Paling sedap, panganan khas Tanah Rencong ini memang disantap dengan selai srikaya.

Di lapak jualannya, ibu dua anak ini dibantu beberapa orang sanak dan kerabat untuk memanggang lemang. Karena itu, Hafsah tiba pada kesimpulan: bisnis Lemang bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Lemang Makanan Pendatang

Pemerhati sejarah dan budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid atau Cek Midi, mengatakan lemang tidak pernah absen dalam kegiatan keagamaan dan hari-hari besar dalam budaya serta adat Aceh.

“Apalagi di saat bulan puasa. Itu semua dilakukan semata-mata untuk peumulia jamee (memuliakan tamu),” ujar Cek Midi kepada Line1.News, Selasa, 11 Maret 2025.

Walaupun banyak terdapat di Nusantara, kata dia, asal usul makanan berbahan baku ketan tersebut dari negeri Melayu.

Di Serambi Mekkah sendiri, lemang merupakan pendatang, kemudian menetap dan menjadi makanan khas Aceh untuk jamuan istimewa Kesultanan Aceh pada masa itu.

Menurut Cek Midi, Aceh merupakan daerah peradaban dan pusat perdagangan dunia, terutama rempah-rempah. Saat para pendatang tiba di Aceh, masing-masing membawa tradisi makanannya tersendiri untuk dikembangkan.

“Banyak para pendatang yang notabenenya berdagang membawa kulinernya lalu menetap dan menikah dengan orang Aceh, sehingga makanan yang dibawanya tersebut menjadi milik orang Aceh,” ungkapnya.

Kolektor manuskrip kuno ini mengatakan, lemang ini adalah makanan raja-raja pada masa kesultanan. Ketika raja menerima tamu, maka lemang menjadi hidangan utama. Tidak hanya itu, di setiap acara keagamaan, lemang selalu hadir sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan itu.

“Di samping juga ada makanan khas Aceh lainnya. Begitu juga dalam acara keagamaan,” tutur Cek Midi.

Dia mengatakan, sebagai makanan yang lazim dijumpai di bulan Ramadan, lemang ini dibuat oleh orang-orang berpengalaman. Biasanya, resep membuat lemang di dapat secara turun menurun.

Selain itu, kunci membuat lemang adalah kesabaran. Proses pembuatannya memerlukan ketelitian sehingga lemang yang dihasilkan benar-benar memiliki rasa yang lezat.

Seorang yang membuat lemang tidak hanya memerlukan keahlian meramu bahan dengan tepat. Mereka juga harus mampu mengatur suhu bara api yang sebagian besar ditentukan dengan naluri si pembuat.

“Pembakaran dan suhu bara yang tepat sangat memengaruhi tingkat kematangan dan kesempurnaan lemang.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy