Kisah Abu Ayyub, Tabi’in yang Menghindar dari Zina

Ilustrasi: freepik.com
Ilustrasi: freepik.com

Pada tahun 34 Hijriyah, di masa akhir kekhilafahan Utsman bin Affan, lahir seorang tabi’in bernama Sulaiman bin Yasar Al Hilali Al Madani. Sulaiman bin Yasar yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Abu Ayyub merupakan maula atau budak yang dimerdekakan oleh Maimunah binti Al Harits, salah seorang istri Nabi Muhammad Saw.

Menurut Imam Adz Dzahabi, Abu Ayyub adalah ahli Fikih, imam, sekaligus mufti bagi penduduk Madinah. Ada kisah menarik tentang Abu Ayyub yang dituliskan Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, jilid III, halaman 105.

Suatu hari, saat Abu Ayyub sendirian di rumahnya, tiba-tiba seorang perempuan cantik datang. Dia mengajak Abu Ayyub bersetubuh dengannya. Namun, Abu Ayyub langsung menolak ajakan itu dan lari dari rumahnya meninggalkan perempuan tersebut.

Malamnya, Abu Ayyub bermimpi bertemu Nabi Yusuf. DI tengah ragu ia sempat bertanya, “Apakah engkau adalah Nabi Yusuf?”. Lalu Nabi Yusuf menjawab, “Iya. Saya adalah Nabi Yusuf yang menghendaki dan menyukai Zulaikha, dan kamu adalah Sulaiman yang tidak menghendaki perempuan yang menggodamu”. Ungkapan Nabi Yusuf di atas menunjukkan kekagumannya terhadap Abu Ayyub.

Setelah mimpi itu, Abu Ayyub mengalami peristiwa kedua yang serupa. Suatu hari, saat ia bersama temannya keluar dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan haji, di tengah perjalanan keduanya berhenti di Al Abwa’. Mereka mendirikan tenda di tempat itu.

Setelah itu, temannya pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. Sementara Abu Ayyub tetap tinggal di tendanya sendirian. Tak lama, ada perempuan Badui cantik yang mengetahui keberadaan Abu Ayyub dan tergoda dengan ketampanannya. Perempuan ini mendatanginya dan langsung membuka cadar supaya kecantikan wajahnya terlihat.

“Wahai tuan, buatlah aku merasa senang!”. Dari ungkapan tersebut, Abu Ayyub menyangka perempuan itu menginginkan makanan. Lalu dia langsung mengambil makanan tersebut dan memberikannya.

Namun, perempuan menjelaskan maksudnya dengan berkata, “Aku tidak menginginkan makanan ini, melainkan aku ingin engkau menyetubuhiku sebagaimana hubungan yang dilakukan oleh suami dengan istrinya”. Mendengar perkataan itu, Abu Ayyub langsung berkata kepadanya, “Bersiaplah bertemu dengan iblis!”. Lalu ia menaruh kepalanya di antara dua lututnya sembari menangis ketakutan.

Melihat sikap Abu Ayyub, perempuan Badui tersebut langsung menutup kembali wajahnya dengan cadar, lalu pergi meninggalkan tenda itu.

Tak lama, temannya kembali dari pasar melihat Abu Ayyub sedang menangis. Temannya bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”. Abu Ayyub menjawab dan membohonginya, “Sesuatu yang baik, aku merindukan anak perempuanku”.

Namun, temannya tidak percaya sehingga terus mendesak Abu Ayyub menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Akhirnya Abu Ayyub menceritakan peristiwa yang barusan ia alami.

Setelah mendengar itu, temannya langsung menangis. Melihat temannya menangis, Abu Ayyub bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”, temannya menjawab, “Aku yang lebih berhak menangis dibanding kamu, karena merasa takut, seandainya aku yang berada di posisimu maka aku tidak bisa menahan nafsuku, sehingga aku menuruti ajakan perempuan Badui tersebut”. Lalu, mereka berdua sama-sama menangis.

Sesampainya di Makkah, keduanya menunaikan rangkaian ibadah haji. Di tengah-tengah itu, Abu Ayyub menyempatkan diri mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. Lalu dia duduk di bawah Hajar Aswad dengan posisi memeluk lutut sambil menyelimutkan kain pada punggung kakinya. Tak lama, ia tertidur.

Di dalam tidurnya, Abu Ayyub bermimpi bertemu seorang lelaki tampan dan wangi. Lelaki ini berkata kepadanya, “Semoga Allah Swt merahmatimu wahai Sulaiman”. Abu Ayyub bertanya, “Kamu siapa?”. Lelaki tersebut menjawab, “Aku adalah Yusuf”. Abu Ayyub menegaskan, “Apakah yang kamu maksud adalah Nabi Yusuf?”, laki-laki tersebut menjawab, “Iya”.

Mendengar itu, Abu Ayyub langsung mengungkapkan kekagumannya kepada Nabi Yusuf, sebab dia mampu menahan nafsu saat digoda oleh Zulaikha. Namun, Nabi Yusuf menjawab dengan ungkapan bahwa peristiwa yang dialami Abu Ayyub dan perempuan Badui saat berada di Abwa’, lebih mengagumkan ketimbang yang dialaminya dengan Zulaikha.

Imam Al Ghazali menyebutkan Abu Ayyub laki-laki berparas tampan dan memiliki sifat wara’. Sehingga tidak heran jika banyak perempuan yang menyukainya dan ingin dijadikan sebagai istrinya.

Imam Al Ghazali menyebut dua kisah Abu Ayyub di atas dalam pembahasan “Keutamaan Seseorang yang Mampu Melawan Syahwat Kemaluan dan Matanya”. Imam Al Ghazali menyebutkan beberapa hadis yang berkaitan dua kisah Abu Ayyub tersebut, di antaranya: “Rasulullah Saw berkata: Barang siapa mencintai seseorang, namun dia menjauhkan diri darinya dan menyimpan perasaannya, lalu dia meninggal dunia, maka dia tergolong orang yang mati syahid.” (HR Hakim).

Dan hadis: “Terdapat tujuh golongan manusia, yang nanti akan dinaungi Allah Swt dalam naungan ‘arasy-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan Allah Swt, di antara dari mereka adalah seorang laki-laki yang diajak berhubungan badan oleh seorang perempuan cantik, lalu dia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah Swt, Tuhan semesta alam.” (H.R. Bukhari).

Dua kisah Sulaiman bin Yasar ini, menunjukkan bahwa ulama terdahulu memiliki sifat iffah atau menjauhkan diri dari kemaksiatan yang sangat kuat. Meskipun dalam keadaan memiliki kesempatan untuk berzina, mereka masih mampu untuk menahan nafsunya. Termasuk hadiah yang diberikan oleh Allah Swt kepada orang-orang tersebut adalah dianggap sebagai orang yang mati syahid dan mendapatkan naungan-Nya di hari tiada naungan selain naungan Allah Swt.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy