Isra Mi’raj dan Kepemimpinan Nabi SAW

Ilustrasi Israk Mikraj
Ilustrasi - Isra Mi'raj. Foto: Freepik

Oleh: Ustaz Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Kaum Muslimin akan kembali memperingati Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Isra Mi’raj adalah Nabi SAW didaulat untuk menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu di Masjidil Aqsha (HR Bukhari dan Muslim).

Hal ini menjadi bukti pengakuan para nabi atas kepemimpinan Nabi SAW. Oleh karena itu, sudah seharusnya apabila para pemimpin di semua tingkatan di negeri ini mau meneladani kepemimpinan Nabi SAW dalam membangun Indonesia agar menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Nabi Muhammad SAW merupakan pemimpin paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia. Hal ini diakui Michael Hart oleh seorang penulis Barat dalam bukunya The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History, dengan sangat obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah.

Hal itu menunjukkan bahwa Nabi SAW memiliki kecerdasan manajerial yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam berbagai posisi sesuai tingkat kemampuannya, sehingga dapat mencapai tujuan utama, yaitu membangun masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nabi SAW selalu mengedepankan akhlak mulia. Hal ini diakui oleh Husain bin Ali sebagai cucu Nabi SAW. Bahwa beliau adalah pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Orang-orang yang bersikap obyektif dari kalangan non-Muslim pun mengakuinya. Washington Irfing, seorang orientalis dan salah seorang penulis besar Amerika yang menjadi kebanggaan Amerika Serikat dan negara-negara lain di abad sembilan belas Masehi, lahir tahun 1832 M di kota Washington dan meninggal tahun 1892 M. Dia berkata, ”Muhammad adalah penutup para nabi, rasul paling agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menyeru manusia kepada penyembahan kepada Allah.”

George Bernard Shaw, seorang Filosof Inggris dan penulis alur cerita film di Inggris yang terkenal, lahir di Irlandia, meraih Nobel di bidang sastra tahun 1920 M. Dia berkata, ”Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia.” Dan masih banyak lagi pengakuan orang-orang non-Muslim terkait keluhuran akhlak Rasulullah SAW (lihat dalam Pesona Akhlak dan Kekuatan Pribadi Manusia Teragung Sepanjang Masa, karya Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy, alih bahasa Izzudin Karimi).

Nabi SAW memiliki rasa empati yang tinggi dalam memimpin. Beliau tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali bermanfaat. Kalau beliau berbicara, maka yang lain diam menunduk seperti ada burung di atas kepalanya, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, dan tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi).

Nabi SAW mengedepankan keteladanan dalam memimpin. Dikisahkan dari Al-Barra bin Adzib, ia berkata: “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”

Nabi SAW adalah sosok pemimpin yang mengedepankan kebersamaan. Beliau mengusulkan sebuah ide win-win solution dalam penyelesaian masalah peletakkan hajar aswad. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Dengan cara seperti itu, tidak ada satupun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat untuk menggelari beliau sebagai al-Amin (orang yang terpercaya).

Jadi, kekuatan akhlak inilah yang menjadi fondasi kepemimpinan Nabi SAW. Allah SWT berfirman, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 4). Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Nabi SAW, ia pun menjawab bahwa akhlak Nabi adalah Alquran (HR Muslim).

Tegas dan bijak

Nabi SAW sangat tegas dalam masalah penegakan hukum. Tidak pernah menetapkan hukum dengan rasa belas kasihan, pilih kasih, atau tebang pilih. Tidak memihak siapa pun, baik pada pejabat pemerintahannya, sahabatnya, masyarakat kecil maupun anggota keluarganya sendiri, termasuk anaknya. Hal itu ditunjukkan dengan sikap tegasnya, “Demi Allah, andai Fatimah Putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Selain dikenal sebagai figur yang tegas, juga dikenal sebagai sosok yang bijak dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan suatu perkara, beliau selalu memikirkannya secara matang, dan mengacu kepada kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam Alquran. Misalnya pada saat beliau memutuskan sanksi rajam terhadap pelaku perzinahan.

Dalam Shahih Muslim diceritakan, suatu waktu ada seorang wanita dari suku Ghamidiyyah menghadap Nabi SAW. Dia berkata, ”Ya Rasululah, sungguh aku telah berbuat lacur. Maka, aku mohon bersihkanlah aku.” Nabi dengan arif menolak pengaduan tulus wanita tersebut.

Karena penasaran pertemuannya dengan Nabi SAW tidak membawa hasil, si perempuan Ghamidiyyah kembali mendatangi beliau keesokan harinya seraya berkata, ”Ya Rasulullah mengapa engkau tidak menjawab pengaduanku? Apa barangkali engkau meragukanku sebagaimana engkau meragukan pengaduan Ma’iz? Demi Allah, aku sekarang sedang hamil.” Kali ini Nabi menjawab, ”Datanglah sesudah kamu melahirkan.”

Beberapa bulan kemudian, perempuan Ghamidiyyah itu melahirkan anak yang dikandungnya, lalu dia menghadap Nabi. Sambil membawa serta si jabang bayi dalam gendongannya dia berkata, ”Rasulullah, aku telah melahirkan.” Nabi menjawab dengan ramah, ”Pergilah kamu menyusui anakmu hingga kamu menyapihnya.”

Setelah masa menyusui anaknya berakhir, ia kembali menghadap Nabi SAW. ”Wahai Nabi Allah, ini aku. Sekarang anakku telah kusapih dan dia pun sudah bisa makan.” Berikutnya si anak yang masih kecil tersebut diserahkan kepada seseorang dari kaum Muslimin dan akhirnya Nabi memutuskan agar wanita tersebut dirajam, sebagai hukuman atas perbuatan zina yang dilakukannya.

Demikianlah sebagian kunci sukses kepemimpinan Nabi SAW. Masih banyak lagi kunci-kunci sukses lainnya yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, yang semestinya terus digali dan diimplementasikan untuk memimpin bangsa dan negara. Wallahu a’lam.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy