Banda Aceh, Line1.News – Siapa bilang musik Jazz itu berat? Buktinya, Ballroom Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat malam, 1 Mei 2026 kemarin mendadak jadi pusat energi yang hangat dan berkelas. Gelaran Khanduri Jazz 2026 sukses menyihir penonton dengan paduan harmoni instrumen yang ciamik sekaligus pesan kemanusiaan yang mendalam.
Bukan sekadar konser biasa, acara besutan Radio Antero, Aceh Jazz Community, dan Sekolah Musik Moritza ini merupakan bagian dari perayaan International Jazz Day. Tahun ini, rangkaian Khanduri Jazz terbagi dalam dua agenda utama: Khanduri Jazz Solidarity for Humanity pada 30 April dan Khanduri Jazz Signature Concert pada 1 Mei.
Sekda Aceh: “Kalau Bisa Tiga Bulan Sekali!”
Apresiasi datang dari Sekda Aceh, M. Nasir Syamaun. Saking terpukaunya dengan atmosfer malam itu, Nasir berharap vibes positif seperti ini jangan cuma setahun sekali.
“Khanduri Jazz luar biasa! Ke depan, kalau bisa digelar rutin tiap tiga bulan sekali. Selain buat hiburan, ini tempat paling keren untuk memancing bibit-bibit musisi baru di Aceh,” cetusnya penuh semangat. Ia juga optimis ajang ini bisa jadi daya tarik wisata baru yang bikin Banda Aceh makin dilirik pelancong.
Dari Nostalgia 2003 Hingga Panggung Global
Uzair, sang founder Khanduri Jazz, menceritakan bahwa perjalanan festival ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2003. Meski sempat vakum, kini Khanduri Jazz kembali tegak berdiri sebagai bagian dari perayaan global UNESCO yang dirayakan serentak di 190 negara.
“Tahun ini kami mengangkat tema Jazz for Humanity sebagai bentuk apresiasi kepada para pekerja kemanusiaan dan relawan, sekaligus momentum kebangkitan pascabencana ekologis,” ungkap Uzair.
Panggung Bertabur Talenta Lokal dan Senior
Malam itu, telinga penonton dimanjakan oleh barisan musisi Aceh Jazz Community seperti Moritza Thaher, Afrizal, Yudi Amirul, Akhyar, Teuku Mahfud, Erwinsyah, hingga Teuku Dedenio. Tak ketinggalan, kehadiran musisi tamu Deddy Syukur dan Yudi Kurnia menambah tekstur musik jadi makin kaya.
Muddasir, salah satu penonton, mengaku paling terkesan saat melihat anak-anak muda tampil di panggung. “Seru banget! Bikin wawasan musik jadi makin luas,” ujarnya. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan.
Sementara Rita, penggemar jazz sejak SMP, merasa acara ini adalah “ruang bernapas” yang sangat dibutuhkan untuk edukasi musik di Aceh.
Sejarah Panjang yang Terus Berdenyut
Mengingat kembali ke belakang, Khanduri Jazz punya sejarah panjang yang legendaris. Mulai dari panggung pertama di Kuala Tripa (2003), kolaborasi internasional dengan Lou G Band dari Belanda di Gedung Sultan Selim II (2008), hingga pernah menghadirkan mendiang legenda Utha Likumahuwa (2010).
Kini, memasuki tahun 2026, Khanduri Jazz bukan lagi sekadar konser, melainkan tradisi tahunan setiap 30 April yang menyatukan Aceh dengan telinga dunia.
Sampai jumpa di grooving berikutnya![]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy