4 Keutamaan Dzulqa’dah dan 4 Peristiwa Penting

Ilustrasi nama bulan Dzulqadah
Ilustrasi Dzulqadah. Foto: NU Online

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah mengumumkan bahwa awal bulan Dzulqa’dah 1447 H jatuh pada Ahad, 19 April 2026. “Awal bulan Dzulqa’dah 1447 H bertepatan dengan Ahad Legi 19 April 2026 M (mulai malam Ahad) atas dasar rukyah,” bunyi petikan Pengumuman Nomor 137/PB.08/A.II.11.13/13/04/2026 yang dikeluarkan pada Sabtu (18/4).

Keputusan didasarkan pada hasil rukyatul hilal, bahwa ada lokasi yang melaporkan melihat hilal 1 Dzulqa’dah 1447 H pada Sabtu, 29 Syawal 1447 H bertepatan 18 April 2026 M.

“Telah dilaporkan penyelenggaraan rukyatul hilal pada Sabtu Kliwon, 29 Syawal 1447 H / 18 April 2026 M,” tulis pengumuman itu.

Dzulqa’dah merupakan salah satu dari empat bulan haram (mulia), bersama dengan Muharram, Rajab, dan Dzulhijjah. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kezaliman serta permusuhan.

Sebagai salah satu bulan mulia, bulan kesebelas ini mengandung berbagai macam kemuliaan. Ustaz Muhammad Sunandar menyebut setidaknya, ada empat kemuliaan pada Dzulqa’dah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam tulisannya berjudul Bulan Dzulqa’dah dan Keutamaannya yang dikutip pada Ahad (19/4).

Pertama, Dzulqa’dah, satu dari empat bulan haram. Sunandar menjelaskan Dzulqa’dah termasuk empat bulan haram, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36.

Maksud dari bulan haram dalam ayat ini, jelas Sunandar, adalah bulan yang di dalamnya diharamkan melakukan semua bentuk kezaliman dan aniaya. Segala dosa dan juga pahala menjadi amat besar di bulan-bulan ini dibanding bulan lainnya, sehingga bulan haram begitu mulia di sisi Allah.

Kedua, Dzulqa’dah tergolong dalam tiga bulan haji. Sunandar mengutip Tafsir Jalalain bahwa yang dimaksud dengan bulan haji dalam Surat Al-Baqarah ayat 197 adalah Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah (10 hari pertama).

Ketiga, langganan waktu umrah Rasulullah. Sunandar mengutip pendapat Imam Assyaukani dalam kitab Nailul Authar yang menyatakan bahwa silang pendapat tentang bulan terbaik pelaksanaan umrah, apakah di bulan Ramadhan atau di tiga bulan haji? Alasannya, karena Rasulullah tak pernah menunaikan umrah kecuali di Dzulqa’dah.

Keempat, janji Allah kepada Nabi Musa. Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 142: “Dan kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan padanya kitab Taurat setelah berlalu 30 malam.”

“Diriwayatkan dari Imam ‘Ata bahwa yang dimaksud dengan 30 malam dalam ayat tersebut adalah bulan Dzulqa’dah,” jelas Sunandar, mengutip pendapat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Adhim.

Dzulqa’dah juga memiliki beberapa peristiwa yang penting diketahui umat Islam. Ustaz Sunnatullah menyebut bahwa setidaknya, ada empat peritiwa penting di Bulan Dzulqa’dah yang bisa diambil ibrahnya.

Pertama, Perang Bani Quraizhah. Ustaz Sunnatullah mengutip pendapat Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Dzulqa’dah.

“Peperangan ini (Bani Quraizhah) terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kelima (hijriah),” tulis Sunnatullah, mengutip Syekh Al-Mubarakfuri, dalam artikelnya yang berjudul Empat Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Dzulqa’dah.

Kedua, Perjanjian Hudaibiyah. Ustaz Sunnatullah mengutip pernyataan Ali As-Shalabi dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durusun wa Ibarun fi Tarbiyatil Ummah, bahwa Rasulullah dan kafir Quraisy membuat kesepakatan damai, yang kemudian dikenal dengan istilah suluh hudaibiyah, yaitu perjanjian damai antara umat Islam dan kafir Quraisy yang berlangsung di Hudaibiyah pada tahun ketujuh Hijriah.

Ketiga, Rasulullah melaksanakan umrah empat kali. Ustadz Sunnatullah menjelaskan, Dzulqa’dah merupakan salah satu bulan yang sangat dekat dengan bulan haji. Oleh karenanya, pada bulan ini Rasulullah sangat sering melakukan umrah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah serta mempersiapkan diri menghadapi datangnya kewajiban rukun Islam yang kelima berupa ibadah haji.

Keempat, Allah swt berfirman kepada Nabi Musa. Pembicaraan Nabi Musa dengan Allah ini terjadi ketika menerima wahyu berupa kitab Taurat. Sunnatullah menyampaikan bahwa mengetahui peristiwa penting dalam bulan Dzulqa’dah dapat digunakan sebagai refleksi agar bisa berbuat lebih baik.

“Beragam peristiwa dan kejadian di bulan Dzulqa’dah sangat penting untuk diketahui umat Islam sebagai refleksi agar bisa berbuat lebih baik, dan tentunya bisa mengetahui sejarah dalam Islam. Dengan mengetahuinya, semangat ibadah dan melakukan kebaikan akan terus bertambah,” jelas Sunnatullah.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy