Banda Aceh – Cucu Sultan Aceh, Cut Putri, mengatakan Aceh dibangun oleh para sultan yang berasal dari Dinasti Syarief. Penyebutan Dinasti Syarief, kata dia, merujuk pada Sultan Aceh keturunan ulama yang diutus Syarief Mekkah, pemimpin Arab atau Negeri Haramain saat itu, untuk datang ke Kesultanan Aceh Darussalam.
Setelah era kekuasaan Sultanah Kamalat Syah (1688-1699 Masehi), kata Putri, Sultan Badrul Alam Syarief Hasyim (1699-1701 M) naik takhta. Disusul setelah itu Sultan Syarief Mutakwi Bin Syarief Ibrahim yang juga dikenal sebagai Sultan Perkasa Alam Syarief Lamtui (1701-1703 M).
“Kemudian setelah itu naiklah Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Johan Berdaulat, yang merupakan sultan ketiga dari Dinasti Syarief,” ujar Pemimpin Darud Donya Aceh ini dalam keterangan tertulis yang dikutip Line1.News, Selasa, 6 Agustus 2024.
Sultan Jamalul Alam Badrul Munir yang naik takhta pada 1703 hingga 1726 menjadi salah satu Sultan Aceh yang paling berpengaruh.

Dia berkuasa ketika Aceh bergejolak. Namun, Sultan Jamalul Alam berhasil memakmurkan kembali Aceh, memperkuat hukum, dan mengembalikan kejayaan Aceh Darussalam.
“Manuskrip sejarah Aceh banyak menulis tentang peran Sultan Jamalul Alam, atau yang biasa disebut dalam lughah atau lidah orang Aceh dengan sebutan mulia Poteu Jeumaloy,” tutur Cut Putri.
Poteu Jeumaloy juga mengamandemen kitab induk adat istiadat Aceh, seperti yang tercatat dalam Mabain Wassalatin. Kitab ini menuliskan ada empat sultan yang mengamandemen kitab induk Adat Istiadat Aceh yakni Sultan Sayyid Al Mukammil, Sultan Iskandar Muda, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah Berdaulat, dan Sultan Jamalul Alam Johan Berdaulat Zilullahi Fil Alam.
Setelah amandemen itu, Sultan Jamalul Alam mengikuti kembali Qanun Meukuta Alam sebagai kitab induk konstitusi Kesultanan Aceh Darussalam seperti masa Sultan Iskandar Muda.
Sultan Jamalul Alam, kata Putri, juga memerintahkan Orang Kaya Maharaja Lela Panglima Bandar dan Penghulu Keurukon Raja Setia Muda untuk mencatat kembali khazanah, silsilah raja-raja, dan adat istiadat Aceh demi melindungi sejarah.
Semasa Poteu Jeumaloy berkuasa, banyak pedagang luar datang ke Aceh, sehingga sektor perdagangan berjaya. “Sultan juga mempersiapkan armada militer yang kuat untuk merebut Malaka dari tangan Belanda. Tapi Belanda yang ketakutan kemudian memilih berdamai dengan Aceh, sehingga Sultan tidak jadi menyerang Malaka,” ungkap Putri.
Hikayat Aceh menyebutkan Poteu Jeumaloy sebagai sultan yang aulia, saleh, dan bijaksana. “Perkataan beliau yang terkenal dalam sejarah Aceh adalah ‘tanda iseulam tulong mulong, ureung gampong mandum syedara, alang ta tulong teulangsong ta cok, meunankeuh nyang get ta meusyeedaraa’ (Tanda orang Islam adalah tolong menolong, orang sekampung semuanya saudara Orang yang kesulitan langsung dibantu, Begitulah cara yang baik dalam bersaudara).”
Selain itu, kata Putri, Poteu Jeumaloy terkenal karena kedermawanannya dalam membantu rakyat. Kehidupan Rakyat Aceh saat itu sangat senang dan makmur. Bahkan dalam hikayat, kata dia, sultan pernah membantu para Ulebalang dan rakyat Aceh dengan hadiah bergunca-gunca emas.
Sikap kedermawanan itu ditunjukkan kembali pada masa Perang Aceh-Belanda. Pada 10 Maret 1873, anak cucu keturunan Poteu Jeumaloy bahkan menyumbang 12 kilogram emas, untuk membantu biaya belanja peperangan Kesultanan Aceh melawan Belanda.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy