Kuala Lumpur – Kolektor manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid atau Cek Midi memamerkan sejumlah manuskrip peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam di pameran ‘Kejayaan Peradaban Islam Dunia Melayu dan Dunia Islam’ yang digelar Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM).
Salah satu koleksi utama yang dipamerkan adalah Tajus Salatin, sebuah kitab klasik asal Aceh yang dikenal luas sebagai ensiklopedia tata negara dalam tradisi Islam-Melayu.
Kitab itu, kata Cek Midi, menggambarkan kedalaman pemikiran politik, etika kepemimpinan, dan struktur sosial dalam sistem pemerintahan Islam di masa kejayaan Aceh.
Cek Midi juga memamerkan puluhan mushaf Al-Qur’an kuno dari Aceh, dengan corak iluminasi khas yakni dominasi warna emas, biru tua, dan merah marun, dengan ragam hias flora simetris nan anggun.
“Gaya ini telah lama dikenal dalam dunia filologi sebagai identitas kuat mushaf-mushaf Nusantara dari Aceh, yang menandakan adanya pusat penyalinan Al-Qur’an yang sangat maju di masa lampau,” ujar Cek Midi dalam keterangan tertulisnya, dikutip Line1.News, Sabtu, 10 Mei 2025.
Menurutnya, keindahan dan kekayaan intelektual yang terpancar dari mushaf-mushaf itu diakui para ilmuwan filologi dunia.
“Ini adalah bukti bahwa Aceh pernah menjadi mercusuar ilmu dan seni Islam di Asia Tenggara,” ujarnya.
Cek Midi mengaku terharu dan bangga nama Aceh bisa hadir dalam pameran bergengsi tersebut. Koleksi manuskrip kuno Aceh bahkan terpampang di galeri utama.
“Begitu masuk pintu galeri manuskrip, dengan mudah kita temukan nama Aceh terpampang jelas, beserta manuskrip-manuskrip asli yang mencerminkan kehebatan peradaban indatu kita,” ujarnya didampingi ilmuwan Aceh Teungku Fathurrahman dan Mahasiswa UUM Hasan Basri M Nur.
Pameran itu berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2025. Dalam kunjungannya ke Malaysia dan Thailand, Cek Midi juga merencanakan kerja sama dengan para pengelola museum Islam di kedua negara untuk bersinergi dengan Museum Manuskrip Aceh atau Rumoh Manuskrip Aceh yang ia kelola di Banda Aceh.
Ia juga mengajak Pemerintah Aceh mendukung inisiatif pelestarian warisan sejarah melalui pendidikan. Sudah waktunya, kata Cek Midi, sejarah kejayaan Aceh dimasukkan kembali sebagai materi pelajaran resmi di SD, SMP, SMA, hingga kampus.
“Di tengah derasnya arus globalisasi, kemegahan warisan Aceh yang kini dikagumi dunia menjadi penanda bahwa jati diri budaya dan intelektual kita masih hidup menunggu untuk dibangkitkan kembali oleh generasi penerus.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy