Setiap kali melewati pemeriksaan keamanan bandara, penumpang kerap diingatkan untuk melepas sepatu, mengeluarkan laptop, dan memisahkan cairan dalam kantong khusus. Aturan ini kerap membingungkan bagi mereka yang jarang bepergian. Namun ada alasan serius di balik perhatian khusus terhadap laptop.
Melansir Airportnerd.com, laptop harus dipisahkan dari tas saat dipindai karena perangkat ini berpotensi menghalangi hasil pemindaian x-ray. Pemisahan memudahkan petugas memastikan tidak ada barang terlarang yang tersembunyi di dalamnya, seperti bahan peledak atau narkoba. Di beberapa negara, penumpang bahkan bisa diminta menyalakan laptop untuk memastikan perangkat benar-benar berfungsi.
Meskipun dianggap merepotkan, aturan itu juga menyangkut keselamatan. Baterai litium pada laptop, misalnya, bisa memicu kebakaran dalam kasus langka. Karena itu, ada juga laptop yang tidak boleh ditaruh di bagasi terdaftar kecuali baterainya dilepas dan dibawa ke kabin.
Bagi penumpang bisnis maupun wisatawan, membawa laptop ke dalam kabin tetap pilihan terbaik. Selain lebih aman, perangkat juga bisa langsung digunakan selama perjalanan. Jadi, meski terlihat merepotkan, prosedur keamanan ini dirancang untuk melindungi penumpang dan penerbangan itu sendiri.
Namun, di beberapa bandara internasional saat ini tepalh dipasang teknologi baru berupa pemindai 3D berbasir CT (Computed Tomography). Dilansir BBC, bandara-bandara di Inggris seperti Heathrow dan Gatwick mulai menguji pemindai CT yang memungkinkan penumpang tidak perlu lagi mengeluarkan laptop maupun cairan.
Bandara Dublin menargetkan penerapan penuh teknologi ini pada 2025. Langkah serupa juga dilakukan Dubai International Airport, yang mengumumkan penumpang kini dapat membawa laptop dan cairan tetap di dalam tas. Di India, menurut Times of India, otoritas penerbangan bahkan mewajibkan bandara besar memasang mesin CT sebelum akhir tahun ini.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy