Hingga Juli, Kejaksaan Negeri Lhokseumawe Tangani 119 Perkara

Ilustrasi putusan hakim foto Shutterstock
Ilustrasi - putusan hakim. Foto: Shutterstock

Lhokseumawe – Kejaksaan Negeri Kota Lhokseumawe menangani 119 perkara pidana umum sejak Januari hingga Juli 2024.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Kota Lhokseumawe, Therry Gutama merincikan dari jumlah tersebut ada 54 perkara narkoba, 33 perkara pencurian atau penganiayaan, enam perkara yang menjadi perhatian publik (satu perkara restorative justice), tiga perkara restorative justice, dan 32 perkara lainnya.

“Dari total perkara pidana umum 2024 yang sudah putusan berkekuatan hukum tetap atau inkracht sebanyak 88 perkara,” ujar Therry kepada Line1.News, Selasa, 9 Juli 2024.

Restorative justice atau keadilan restoratif, kata Therry, merupakan pendekatan penegakan hukum untuk menyelesaikan perkara pidana dengan cara yang berbeda dari sistem peradilan pidana konvensional.

Dia memberikan catatan bahwa program restorative justice itu dilakukan berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.

“Adapun perkara yang menjadi perhatian publik, antara lain perkara Rohingya [Tindak Pidana Perdagangan Orang-TPPO] dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) lima tahun [penjara] dan putus dua tahun [penjara],” ujar Therry.

Selain itu, empat perkara narkotika dengan barang bukti 10 kilogram sabu-sabu dan pilyaba atau narkotika jenis baru sebanyak 6.000 butir. “Tuntutan dari JPU hukuman mati dan putusan hakim 20 tahun penjara.”

Perkara terakhir yang menjadi perhatian publik, kata Therry, penganiayaan oleh anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Lhokseumawe dalam operasi penegakan hukum, diselesaikan secara restorative justice.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy