Banda Aceh – Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi sambal rawit ijo khas Aceh, Capli, milik PT Rayeuk Aceh Utama mendapat apresiasi DPR RI.
Kamis kemarin, 23 Oktober 2025, rombongan Komisi VII DPR RI mengunjungi IKM yang terletak di Blang Oi, Banda Aceh, tersebut, sebagai bagian dari kunjungan kerja dari reses.
Ketua Komisi VII Saleh Partaonan Daulay mengatakan kedatangan ia dan rombongan untuk melihat langsung salah satu perusahaan yang disebutnya, benar-benar bekerja mengembangkan ekonomi masyarakat kecil.
“Modal awal mereka hanya sekitar Rp500 ribu, dan sekarang setiap bulan bisa mendapatkan keuntungan minimal Rp100 juta. Itu perkembangan yang luar biasa, kami apresiasi,” ujar Saleh dikutip dari Laman DPR RI, Jumat, 24 Oktober 2025.
Menurutnya, IKM Capli mampu menjadi contoh nyata penggerak ekonomi masyarakat di daerah.
Saleh menilai keberhasilan IKM Capli tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar 200 petani lokal telah terlibat dalam rantai pasok bahan baku cabai untuk produksi saus Capli.
“Para petani yang bekerja sama dengan perusahaan ini bisa mendapatkan penghasilan antara Rp600 ribu hingga Rp800 ribu per minggu. Artinya, usaha ini tidak hanya tumbuh, tetapi juga menyejahterakan banyak orang,” ujar politisi Fraksi PAN tersebut.
Di samping itu, Saleh menuturkan kualitas produk Capli sudah terbukti mampu menembus pasar luas, bahkan diminati hingga ke luar daerah.
Baca juga: Gagal 17 Kali, Yuliana Bangkit Jadi ‘Ratu Sambal Capli’
Ia menyebut, pabrik tersebut kini mampu memproduksi setidaknya 200 botol saus setiap hari, menandakan tingginya permintaan konsumen terhadap produk lokal tersebut.
“Kita berharap pemerintah provinsi dan kabupaten bisa ikut mempromosikan produk ini, tidak hanya di Aceh, tetapi juga ke kota-kota besar lain seperti Medan dan daerah sekitarnya. Produk seperti ini bisa menjadi kebanggaan daerah sekaligus bukti nyata bahwa UMKM mampu menjadi pilar ekonomi nasional.”
Murthala, pemilik PT Rayeuk Aceh Utama membalas apresiasi atas kunjungan Komisi VII.
“Dengan adanya kunjungan dari Komisi VII, kami berharap ada tindak lanjut nyata untuk mengatasi persoalan yang selama ini menjadi kendala pelaku UMKM, terutama dalam hal akses permodalan, pengembangan bisnis, serta kemudahan pengiriman bahan baku dan pemasaran produk,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Yedi Sabaryadi, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan dan peningkatan daya saing UMKM di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh.
“Semua persoalan yang disampaikan para pelaku UMKM akan kami tindak lanjuti. Pemerintah berkomitmen terus memberikan dukungan agar UMKM semakin berdaya saing. Ke depan para pelaku UMKM juga akan diberi akses untuk memperoleh perizinan dan sertifikasi agar bisa naik kelas menjadi industri besar yang mampu menembus pasar nasional hingga luar negeri.”
Turut serta dalam kunjungan itu Wakil Ketua Komisi VII Evita Nursanty (Fraksi PDIP) dan Chusnunia Chalim (Fraksi PKB). Selain itu, sejumlah nggota Komisi VII yakni Novita Hardini (Fraksi PDIP), Zulkarnaini Ampon Bang, Mujakkir Zuhri (Fraksi Golkar), Jamal Mirdad, Jefry Romdonny (Fraksi Gerindra), Siti Mukaromah (Fraksi PKB), Tifatul Sembiring (Fraksi PKS), dan Iman Adinugraha (Fraksi Demokrat).[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy