Debat Calon Wali Kota Lhokseumawe Dinilai Lebih Bermutu Ketimbang Debat Calon Gubernur Aceh

Teuku Kemal Fasya
Tim perumus debat pertama Pilkada Lhokseumawe, Teuku Kemal Pasya, yang juga Dosen Antropologi Unimal. Foto: unimal.ac.id

Lhokseumawe – Debat perdana Pilkada Lhokseumawe yang berlangsung pada Sabtu, 9 November 2024, di Aula IAIN Lhokseumawe, dinilai lebih berkualitas ketimbang debat-debat serupa di tempat lain di Aceh.

“Debat antarpaslon di Kota Lhokseumawe ini bahkan lebih bermutu dalam model debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh,” ujar salah satu tim perumus debat pertama Pilkada Lhokseumawe, Teuku Kemal Pasya kepada wartawan, Sabtu dikutip Minggu, 10 November 2024.

“Masing-masing paslon ada kemampuan untuk menjawab pertanyaan secara oral dan tidak membaca teks, itu yang kita lihat,” imbuhnya.

Baca Juga: KIP Lhokseumawe Gelar Debat Perdana Paslon Wali Kota-Wakil Wali Kota, Ini Nama-Nama Panelis

Walaupun terjadi juga gimik ataupun serangan sebagian personal, kata Kemal, secara umum hingga berakhirnya debat situasi tetap terkendali.

Dia juga melihat ada beberapa gagasan dari paslon harus dilaksanakan, siapapun yang nantinya terpilih sebagai wali kota dan wakil wali kota.

Kontestasi Pilkada Lhokseumawe, kata dia, tidak diwarnai dengan kehadiran paslon petahana. Karena itu, keempat paslon bisa memunculkan gagasan yang maju lima atau sepuluh tahun ke depan.

“Sebagai ide para paslon itu apa salahnya? Nanti masyarakat akan memilih siapa yang mereka anggap calon wali kota yang sangat konkret atau dapat menjalankan program-program yang lebih baik ke depan,” ujarnya.

Baca Juga: Pertarungan Azhari, Sayuti, Ismail, dan Fathani Soal Infrastruktur, Ekonomi Rakyat, dan Pemerintahan yang Bersih

Selain itu, kata Kemal, Lhokseumawe belum menjadi kota ideal. Dengan tidak adanya petahana, dia berharap bisa memberikan kesegaran baru. “Apalagi ada beberapa calon wali kota ini kan juga pengusaha, jadi mereka sudah tahulah bagaimana menjalankan manajemen penataan sebuah kota.”

Ekonomi Kreatif dan Budaya Tidak Tersentuh

Di sisi lain, Kemal juga melihat ada substansi yang belum disentuh para paslon dalam debat perdana itu, yakni sektor ekonomi kreatif dan budaya.

Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh ini menyebutkan, substansi yang disampaikan para paslon sebagian besar tentang masalah perekonomian. Mulai dari ide tentang pertumbuhan ekonomi, peningkatan Pendapatan Asli Daerah, pengurangan angka pengangguran, hingga pengentasan kemiskinan.

Baca Juga: Ketua KIP Lhokseumawe: Penting Bagi Masyarakat Ketahui Rekam Jejak Calon Wali Kota

Dari berbagai persoalan itu, kata Kemal, para paslon mengutarakan atau menjawab dalam debat publik ini. “Walaupun bagi saya mungkin sekitar 60-70 persen lah terjawab, belum cukup ideal. Padahal, ada sektor lain, misalnya, di ekonomi kreatif dan pengembangan Kota Lhokseumawe sebagai kota budaya dan seni itu kurang tersentuh,” ujarnya.

Bila melihat pertanyaan dari panelis, kata Kemal, mereka menginginkan ada pemantapan gagasan dari paslon terhadap infrastruktur kota. “Maupun bersifat penunjangan terhadap pengembangan sosial budaya. Itu yang tidak muncul dalam jawaban paslon.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy