Dalam khazanah Islam, sosok Umar Bin Khattab dikenal sebagai figur yang tegas, pemberani, dan tak kenal kompromi. Ketika Umar masuk Islam, kaum kafir Makkah ciut nyali bila berhadapan dengannya.
Tak hanya itu, setan dari kalangan bangsa Jin juga memilih kabur apabila bertemu Umar Bin Khattab. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis: “Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari Umar.” (HR. Tirmidzi).
Penyebab takutnya setan kepada Umar tentu bukan hanya dikarenakan keberaniannya. Umar dikenal memiliki iman yang kokoh dan tidak mau terperdaya oleh urusan dunia.
Namun, segarang-garangnya sang khalifah, perlakukan Umar terhadap istrinya sangatlah berbeda. Abu Lais as-Samarkandi dalam kitab Tanbih al-Ghafilin mengisahkan, suatu ketika ada tamu hendak menemui Umar bin Khattab di rumahnya. Tamu itu hendak mengadukan perihal istrinya.
Di depan pintu rumah, saat hendak menguluk salam, si tamu mendengar Ummu Kulsum, istri Umar bin Khattab, sedang menceramahi bahkan memarahi suaminya. Tamu tersebut mendengar Umar hanya diam saja tanpa membalas sepatah kata pun.
Karena situasi tersebut, tamu itu berniat pulang dan mengurungkan rencana mengadukan masalahnya. Namun, Umar keburu tahu kedatangan orang tersebut. Sang khalifah lantas memanggil tamunya itu dan bertanya.
“Apa tujuanmu ke sini?”
Si tamu menjawab, “Aku sebetulnya ingin berkonsultasi tentang urusan istriku, tapi mendengar kejadian tadi, akhirnya aku putuskan untuk pulang.”
Umar kemudian menjelaskan alasan kenapa ia memilih diam saat diceramahi istrinya.
Pertama, kata Umar Bin Khattab, seorang istri merupakan penjaga dirinya dari api neraka. “Maka hatiku selalu tenang terjaga dari hal-hal haram, misalnya dari perzinaan,” ucap Umar.
Kedua, sebut sang khalifah, seorang istri selalu menjaga hartanya tatkala ia sedang keluar dari rumah. “Ketiga, ia orang yang selalu mencuci bajuku. Keempat, ia selalu merawat anak-anakku. Kelima, ia selalu menyiapkan roti dan memasak untukku.”
Mendengar penjelasan Umar ini, orang tadi langsung memahami bahwa menghadapi seorang istri harus lebih banyak mendengar keluh kesahnya. Tak ada gunanya menanggapi istri yang sedang emosi. Itulah sifat terpuji sang khalifah, tegas dalam bertugas, serta santun dengan keluarga.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy