Banda Aceh – Ayam Tangkap, Gulai Ikan Tumis, hingga semur ayam dan rendang jadi sajian utama bagi jemaah haji Aceh selama berada di Asrama Embarkasi Aceh.
Menu “rumahan” bercita rasa lokal itu disiapkan khusus oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh agar sesuai selera dan menjaga kebugaran jemaah.
Ketua PPIH Embarkasi Aceh Azhari mengatakan pemilihan menu telah dirancang sejak awal musim haji. Mereka berkoordinasi dengan penyedia katering untuk menghadirkan makanan sehat, lezat, dan akrab bagi lidah warga Aceh.
“Menu kita kombinasikan antara menu nasional dan menu khas Aceh, agar sesuai dengan selera jemaah,” ujar Azhari, Sabtu siang, 24 Mei 2025, dikutip dari Laman Kemenang RI.
PPIH menyertakan berbagai kuliner khas Aceh dalam menu yang disajikan oleh CV Arnoby Bersaudara, penyedia katering di kawasan Kampung Mulia, Banda Aceh.
Pemiliknya, Rizki Permana, menuturkan bahwa mereka bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) untuk merancang menu yang akan disajikan.
Setiap kali makan, tersedia kombinasi menu nasional dan tradisional. Untuk sarapan pagi akan diberikan ayam semur, telu dadar, capcai, kerupuk, dan buah. Siangnya disajikan gulai ikan khas Aceh, rendang, sayur kuah bening, kerupuk, dan buah.
Lalu malam giliran ayam tangkap goreng, sop sayur, tempe-tahu, kerupuk, dan buah sebagai menu. Disediakan pula snack dan menu khusus untuk jemaah lansia seperti ayam fillet, daging cincang, dan nasi tim.
“Menunya sama terus tidak perlu diganti-ganti, karena jemaahnya kan setiap hari terus berganti, masuk dan berangkat, jadi tidak ada yang makan dengan menu yang sama,” ujar Rizki.
Jadwal makan ditetapkan rutin: pukul 07.00 waktu Aceh untuk sarapan, 12.30 makan siang, dan makan malam selepas salat Magrib.
Seluruh menu diperiksa oleh tim BKK sebelum dikirim ke asrama, guna menjamin keamanannya. Setiap hari, petugas mengambil sampel makanan dari dapur Arnoby Catering.
Kasi Pelaporan Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Aceh, Yusri Sulaiman, menyampaikan pentingnya prosedur pemeriksaan makanan.
“Kenapa harus diambil sampel dan periksa, karena makanan merupakan salah satu sarana untuk penularan dan penyebaran penyakit, serta menyebabkan penyakit terutama diare,” ujarnya.
Pemeriksaan dilakukan sebelum pengantaran setiap waktu makan—pagi, siang, dan malam—untuk memastikan makanan yang dikonsumsi jemaah sesuai standar dan aman.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy