Asal Usul Nama Sumatra, Adakah Hubungannya dengan Samudra Pasai?

Asal Usul Nama Sumatra, Benarkah Ada Hubungannya dengan Samudra Pasai?
Monumen Samudera Pasai di Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Foto: Dok Kejari Aceh Utara

Pada 1345 masehi, penjelajah asal Maghribi (Maroko), Ibnu Batutah, menginjakkan kaki di kawasan Pase, Kesultanan Samudra Pasai. Kala itu, Bandar Pase sangat maju. Merah Silu atau Al-Malikus-Saleh telah mangkat. Posisinya sebagai sultan digantikan sang anak, Al-MalikuzZahir.

“Tatkala dia hendak pergi ke benua Cina demikian juga tatkala pulangnya singgahlah Ibnu Batutah di Pase. Digambarkannya di dalam peringatan pelajaranja itu, bahwa pulau yang akan disinggahinya itu bernama Jawa dan negeri tempatnya akan berlabuh itu bernama Sumatera,” tulis Buya Hamka dalam Sedjarah Islam di Sumatera.

Menurut Hamka, ‘Sumatra’ yang diucapkan Ibnu Batutah itu asalnya dari ‘Samudra’, yang berarti lautan besar. “Tetapi orang ‘Arab tidak dapat membaca bahasa Sangsekerit dengan aslinya, melainkan bertukar menjadi Shumathra (dengan huruf shad dan thaa).”

Namun dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan, arti ‘Samudra’ adalah semut yang sangat besar. Merah Silu sendiri yang memberikan nama tersebut.

Melansir Wikipedia, Ibnu Bathutah dalam kitabnya Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) juga menuliskan pada 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Abad berikutnya, nama ini diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau Sumatra.

Selanjutnya nama ‘Sumatra’ mulai tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis.

Namun, sumber lain menyebutkan nama Sumatra telah dikenal sejak abad ke-11 di zaman Sriwijaya. Saat itu, ada seorang raja yang bergelar Sriwijaya Haji Sumatrabhumi atau Raja tanah Sumatra, yang pada 1017 mengirimkan utusan ke Cina.

Selain itu, ada juga seorang pendeta, Odorico da Pordenone, yang mengisahkan pelayarannya pada 1318 sampai di kerajaan Sumoltra.

Pada 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudra Hindia dan di sana tertulis pulau ‘Samatrah’. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro pada 1498 dan muncullah nama “Camatarra”.

Selanjutnya pada 1501, peta buatan Amerigo Vespucci–penjelajah dan pembuat peta asal Italia–mencantumkan nama ‘Samatara’, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama “Samatra”.

Ruy d’Araujo pada 1510 menyebut pulau itu ‘Camatra’, dan pelaut Portugis Alfonso Albuquerque pada 1512 menuliskannya ‘Camatora’. Sementara ilmuwan dan penjelajah Italia, Antonio Pigafetta, pada 1521 menuliskan ‘Somatra’.

Ada juga catatan dari banyak musafir yang menuliskan Sumatra dengan ‘Samoterra’, ‘Samotra’, ‘Sumotra’, hingga ‘Zamatra’ dan ‘Zamatora’.

Namun, dari catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak abad ke-16 selalu konsisten dalam penulisan Sumatra.

Lema inilah yang menjadi baku seperti termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), walaupun terkadang dieja dan ditulis dengan swarabakti menjadi ‘Sumatera’ karena dianggap berasal dari bahasa Nusantara.

Begitu juga untuk lampiran Nama Daerah Tingkat I dan II di Indonesia, KBBI memberikan panduan penulisan yang benar adalah ‘Sumatra’ bukan ‘Sumatera’.

Dan ‘Sumatra’ awalnya adalah eksonim atau nama sebutan yang tidak digunakan penduduk lokal. Sebab, sebelum kedatangan Ibnu Batutah, penghuni asli Sumatra menyebutkan pulau mereka dengan sebutan Perca dan Andalas.

Nama lain yang sempat disematkan terhadap Sumatra adalah Suwarnadwipa dan Suwarnabhumi, yang berarti Pulau Emas.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy