Lampung – Gagal bukan akhir cerita bagi Yuliana tetapi justru awal dari perjalanan luar biasa. CEO Capli ini pernah jatuh bangun 17 kali merintis usaha. Tapi kini, ia memimpin pabrik berkapasitas produksi 10 ribu botol sambal capli alias cabai per bulan.
Kisah itu dituturkan Yuliana saat menjadi pemateri talkshow Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera yang digelar Bank Indonesia (BI) di Lampung City Mall, Bandar Lampung, Sabtu, 21 Juni 2025.
Capli merupakan salah satu UMKM binaan BI Perwakilan Aceh. Ide usaha ini bermula dari pengalaman Yuliana saat menjadi tim survei inflasi BI.
Dari para petani, ia kerap mendengar satu keluhan berulang: saat panen melimpah, harga cabai jatuh drastis. Tak ingin keluhan itu hanya jadi catatan survei, Yuliana mengambil langkah nyata.
“Maka muncullah ide untuk menampung hasil produksi petani,” ujar Yuliana saat memaparkan materinya, Sabtu, 21 Juni 2025.
Dari dapur rumahnya, ia mulai meracik sambal capli khas dengan bahan lokal seperti asam sunti; bumbu masak khas Aceh dari belimbing wuluh yang diawetkan dengan cara dikeringkan dan diasinkan.
“Seiring berjalan waktu saya mendapatkan berbagai pelatihan dan peralatan yang canggih [dari BI] sehingga dapat meningkatkan hasil produksinya,” ungkapnya.
Lambat laun, usaha rumahan Yuliana pun tumbuh pesat hingga menjadi UMKM yang memiliki pabrik sendiri.
Capli kemudian menjadi gerakan sosial. Yuliana menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya kepada para petani. Sekarang, ‘Ratu Sambal Capli’ ini memiliki banyak petani binaan yang berada di bawah naungannya.
Bahkan, Yuliana juga menjalin kerja sama dengan pesantren untuk budidaya cabai rawit, bahan utama sambalnya.
“Karena saus cabai rawit menghadirkan cita rasa yang unik, karena ada bahan baku asam sunti. Sehingga produk ini sangat diminati oleh masyarakat khususnya pecinta rasa pedas.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy