Rupiah Terus Melemah, Banggar DPR: Kesampingkan Dulu Kepentingan Sesaat Antar Elit

Ilustrasi rupiah terus melemah. Foto: Antara/Kontan
Ilustrasi rupiah terus melemah. Foto: Antara/Kontan

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat menunjukkan tren pelemahan sejak awal 2024. Sebab itu, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah meminta pemangku kebijakan fiskal dan moneter memperkuat kebijakan struktural perekonomian nasional.

“Segenap kekuatan bangsa harus bersama-sama mengikatkan tali gotong royong. Di lain pihak, pemerintah harus mampu meningkatkan kepercayaan rakyat. Ucapan dan tindakan pemerintah dan pemimpin nasional harus bisa menjadi keteladanan dalam rangka membangun kepercayaan rakyat,” ujar Said dalam keterangan resminya, Selasa, dikutip Rabu, 19 Juni 2024.

Said menerangkan, sejumlah mata uang lokal, termasuk rupiah mengalami tekanan hebat sejak The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat memberlakukan suku bunga tinggi sebagai respons atas inflasi tinggi akibat kenaikan harga komoditas global.

Rupiah, kata Said, berada di level Rp15.317 hingga Rp16.483 per dolar AS. “Dibandingkan dengan tahun lalu, posisi rupiah malah minus 5,25 persen. Kecenderungan rupiah loyo disebabkan situasi eksternal dan internal,” ucapnya.

Menurutnya, belakangan investor menarik diri, khususnya dalam perannya sebagai buyer di Surat Berharga Negara atau SBN. Investor asing melepas SBN sejak pandemi covid-19.

Pada 2019, porsi asing dalam SBN sebanyak 38,5 persen, setahun kemudian tinggal 25,1 persen, dan akhir Mei 2024 tersisa 14 persen. Perginya investor asing pada SBN mengakibatkan kepemilikan dolar AS juga kian menurun.

Penyebab lainnya, harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara, dan CPO pada 2023 dan 2024 tidak setinggi 2022.

Sejak pertengahan 2023 hingga kini harga batu bara hanya berkisar USD 120-an per ton. Padahal awal kuartal II-2022 hingga kuartal I-2023 harga batu bara dilevel USD 400 per ton.

Selain itu, harga CPO pada 2022 di level MYR 4.200-4.400 per ton, sedangkan kini turun hanya MYR 3.800-3.900 per ton.

“Menurunnya dua komoditas andalan Indonesia ini tidak membuat dompet devisa negara tebal. Di saat yang sama, pemerintah malah membuka kran impor. Besarnya arus impor ini membuat arus dolar AS makin pergi,” ujarnya.

Said mengungkapkan hampir dipastikan The Fed masih akan bertahan di suku bunga tinggi, dan ketidakjelasan geopolitik global, akan mendorong kebijakan restriktif oleh masing-masing negara demi mengamankan kepentingan nasional,

“Ke depan, situasi kita tidak mudah, dan harus menjadikan keadaan itu sebagai national bonding. Kesampingkan terlebih dahulu kepentingan-kepentingan sesaat, di antara para elit. Sebab jika keadaan ekonomi ini semakin memburuk, lagi-lagi yang akan menerima resiko paling awal adalah rakyat kita sendiri.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy