Rumahnya Direnggut Banjir Bandang, Ratna Penyintas Banjir Lokop Melahirkan di Ruang Kelas

Ratna korban banjir di Lokop melahirkan di pengungsian
Ratna korban banjir Lokop yang melahirkan di pengungsian. Foto: Tangkapan Layar

Idi – Raut muka Ratna tampak letih. Kerah jaket coklat susu yang dikenakannya penuh bercak. Di dahinya, ramuan param atau pilis sebagian telah mengering.

Ratna membubuhkan ramuan herbal itu usai melahirkan anak ketiganya. Bayi laki-lakinya itu lahir bukan di rumah sakit atau klinik bersalin, melainkan di sebuah ruangan kelas SMK Negeri 1 Lokop, Serbajadi, Aceh Timur.

Sekolah tersebut kini menjadi tempat Ratna dan warga Lokop lainnya mengungsi, setelah banjir bandang mengamuk dan merenggut rumah-rumah mereka pada akhir November lalu.

“Kapan lahirnya?” tanya seorang anggota Tim Relawan Simpang Keuramat, Aceh Utara, yang menyambangi lokasi pengungsian itu, Minggu, 21 Desember 2025.

“Lahirnya hari Jumat,” jawab Ratna lirih, sembari menatap bayinya yang terbungkus kain bedong bermotif batik.

Bayi mungil itu terbaring di tikar yang sama tempat Ratna beristirahat. Di ujung tikar, tiga tonggak kayu dipacak untuk menggantung sebuah bola lampu. Kabel kecil menjuntai tersambung ke sebuah baterai motor sebagai sumber daya.

Ratna mengeluh perutnya masih terasa nyeri, sementara kedua kakinya agak kebas.

“Kita kasih obat darah tinggi, aman ya,” ujar Dokter Cut Nelisayanti, petugas medis Tim Relawan Simpang Keuramat, sambil memeriksa kondisi Ratna.

“Tinggi darah ini bisa karena menahan rasa sakit,” tambahnya.

Selain itu, Ratna juga mengalami gatal-gatal sejak masa kehamilan hingga sekarang. Namun, ia mengaku tak berani mengonsumsi obat.

Saat Ratna diperiksa, si bayi laki-laki mulai merengek. Ratna lalu membopongnya dan memberikan ASI.

“Berikan ASI setiap dua jam sekali ya, dibangunin, kalau memang nggak nangis tetap dibangunin, jangan sampai dia (bayi) dehidrasi,” pesan Nelisayanti.

Ratna dan bayinya
Ratna dan bayinya saat diperiksa Dokter Cut Nelisayanti, petugas medis Tim Relawan Simpang Keuramat. Foto: Tangkapan Layar

Tim relawan termasuk Abu Ih, Ulee Sagoe KPA Simpang Keuramat, dan Muhammadan, tokoh pemuda Simpang Keuramat, berangkat dari Simpang Keuramat menuju Lokop bakda Ashar pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Mereka mendampingi tim relawan medis Simpang Keuramat dipimpin Muhibudin, didampingi Dokter Cut Nelisayanti, Hambali, Taufik, Ruly, Jafar, Mulyadi, dan Maskur.

Perjalanan panjang membawa mereka tiba di Lokop sekira pukul 03.00 waktu Aceh.

“Kami istirahat [tidur sejenak] di pengungsian itu sambil menanti waktu Subuh,” kata Muhammadan.

Jembatan di Lokop
Kondisi sebuah jembatan di Lokop yang diseret banjir bandang. Foto: Tangkapan Layar

Paginya, sejak pukul 08.00 hingga tengah hari, tim medis memeriksa kesehatan dan memberikan obat-obatan kepada para pengungsi. Mereka juga menyerahkan bantuan susu bayi usia 0-6 bulan dan popok bayi kepada ibu korban banjir di pengungsian itu.

Berdasarkan data yang dihimpun relawan dari Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), jumlah pengungsi tersebar di beberapa titik.

Di SMK Negeri 1 Lokop ada 11 kepala keluarga (KK) atau 29 jiwa yang mengungsi. Lalu di SMP Negeri 1 Lokop 27 KK (117 jiwa), SD Negeri 3 Lokop 23 KK (92 jiwa), SD Negeri Lood Jering 20 KK (60 jiwa), Kantor Keuchik Lokop 6 KK (17 jiwa), dan Bunin Dusun Karang Kuda 20 KK (60 jiwa).

“Selebihnya mandah (berpindah) ke rumah saudara yang tidak terkena banjir,” tutur Muhammadan mengutip informasi dari pihak RAPI Aceh Timur.

Rumah Ratna tak tersisa. Bangunan itu hanyut disapu banjir bandang bersama seluruh isinya.

“Semua hilang, barang pun hilang semuanya tak bisa terambil,” ucap Ratna pelan, menatap anaknya yang sedang menyusu. Sebuah kehidupan baru kini hadir di tengah kehilangannya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy