Kisah Sahabat ‘Alqamah yang Terhalang Mengucap Syahadat karena Mementingkan Istri Ketimbang Ibunya

Ilustrasi
Ilustrasi kematian. Foto: nu.or.id

Dikisahkan tentang Sahabat Nabi bernama ‘Alqamah yang di penghujung hayatnya susah mengucap syahadat. Kisah ini disarikan dari kitab al-Kabair karya Syamsuddin Abu ‘Abdillah Adz-Dzahabi.

‘Alqamah seorang sahabat yang sangat taat. Ia tak pernah melalaikan salat fardhu dan sunat. Amalan puasa dan sedekah tak pernah terlewat.

Namun, suatu hari ‘Alqamah sakit keras. Istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah SAW untuk mengabarkan kondisi ‘Alqamah yang sedang kritis dan sepertinya sedang menghadapi sakaratul maut.

Begitu menerima kabar, Rasulullah langsung mengutus ‘Ammar, Bilal, dan Shuhaib untuk menjenguk ‘Alqamah dan mengajarinya mengucap kalimat tauhid, Lailahaillallah.

Namun, lisan ‘Alqamah kelu tak kuasa berucap. Para utusan kembali dan memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Beliau bertanya, “Apakah di antara kedua orang tuanya masih ada yang hidup?”

“Ada, wahai Rasul, ibunya. Ia sudah sangat sepuh.”

Rasulullah berkata, “Temuilah ibunya. Sampaikan, ‘jika engkau masih kuat, datanglah kepada Rasulullah. Jika tidak, diamlah di rumah. Dan Rasulullah yang akan menemuimu’.”

Utusan Rasulullah pun bergegas menemui ibunda ‘Alqamah. Namun, setelah pesan itu disampaikan, ibunda ‘Alqamah mengatakan, “Biarlah aku sendiri yang menemui Nabi. Aku lebih berhak menemuinya.”

Dengan bantuan tongkatnya, ibunda ‘Alqamah pun berangkat menemui Nabi. Setibanya, ia mengucap salam dan dijawab oleh Nabi.

Kemudian, Baginda Nabi bertanya, “Wahai ibunda ‘Alqamah, jujurlah kepadaku. Jika berbohong, wahyu Allah akan turun kepadaku. Bagaimana keadaan anakmu?”

Ibunda ‘Alqamah menjawab, “Wahai Rasul, anakku itu rajin salat, rajin puasa, dan banyak sedekah.”

“Lantas bagaimana keadaanmu kepadanya?” tanya Nabi.

“Aku tidak suka kepadanya. Karena ia lebih mementingkan istrinya, dan durhaka kepadaku.”

“Berarti, murka sang ibunda yang membuat ‘Alqamah terhalang mengucap syahadat,” ujar Rasulullah.

Beliau kemudian berkata kepada Bilal. “Hai Bilal, kumpulkanlah kayu bakar sebanyak-banyaknya.”

“Untuk apa, ya Rasul?” sela ibunda ‘Alqamah.

“Aku akan membakar ‘Alqamah,” ujar Rasulullah.

“Wahai Rasul, dia itu anakku. Hatiku tetap tak tega melihatmu membakar tubuhnya. Apalagi dilakukan di depan mataku sendiri,” rajuk ibunda ‘Alqamah.

“Wahai ibunda ‘Alqamah, azab Allah itu lebih berat dan lebih kekal. Jika engkau ingin Allah mengampuninya, maka ridhai dia. Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, salat, puasa, dan sedekah ‘Alqamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya,” jelas Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, di hadapan Allah, para malaikat-Nya, dan seluruh kaum Muslimin yang hadir, aku bersaksi bahwa aku meridhai anakku ‘Alqamah,” ikrar sang ibunda.

Kali ini, Nabi kembali memerintahkan Bilal. “Hai Bilal, pergi dan lihatlah ‘Alqamah. Apakah dia sudah bisa mengucap Lailahaillallah atau belum? Siapa tahu ibunda Alqamah mengucap sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hatinya karena malu kepadaku.”

Bilal pun menuju rumah ‘Alqamah. Dari luar rumah, ia mendengar ‘Alqamah mengucap Lailahaillallah.

Setelah itu, Bilal masuk ke dalam rumah dan menyampaikan, “Wahai semua yang hadir, sesungguhnya murka sang ibunda-lah yang membuat lisan ‘Alqamah terhalang mengucap syahadat. Setelah ibunya ridha, barulah lisan ‘Alqamah ringan mengucapnya.”

Pada hari itu juga ‘Alqamah mengembuskan napas terakhir. Tersiar kabar kematiannya, Rasulullah pun hadir bertakziah. Beliau memerintahkan agar jenazah ‘Alqamah segera dimandikan dan dikafani. Usai dikafani, bersama para sahabat, beliau menyalati jenazah ‘Alqamah.

Saat pemakaman, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pinggir lubang kubur dan berpidato.

“Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu, dan berusaha mengejar ridlanya. Sesungguhnya ridha Allah berada pada ridha ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.”

Semoga jadi pelajaran bagi kita semua, terutama bagi mereka yang masih memiliki kedua orang tua. Wallahu a’lam.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy