Khutbah Jumat: Tiga Metode Dakwah Rasulullah di Mekkah

Baba Marwan Abdullah
Baba Marwan Abdullah. Foto: Grandbaiturrahman.com

Oleh: Baba Marwan Abdullah (Pimpinan Dayah Darul ‘Ulum Al-Fata, Kayee Kunyet, Blang Bintang, Aceh Besar)

Puji syukur ke hadirat Allah Swt yang telah mengutus Rasul-Nya sebagai pembawa petunjuk dan membawa agama yang hak untuk menyelamatkan hamba-Nya di dunia dan akhirat.

Shalawat beriring salam kita sanjung sajikan ke pangkuan Rasulullah yang telah meninggalkan dua buah warisan-Nya kepada kita sebagai umatnya.

Barangsiapa berpegang teguh dengan dua warisan tersebut, maka dia akan bahagia dunia dan akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak berpegang dengan warisan tersebut, maka dia akan sesat selamanya, yaitu Al-Quran dan sunah.

Khatib mengajak kita semua untuk sama-sama menyambut bulan Rabiul Awal dengan penuh gembira serta lapang dada. Bulan lahirnya Rasulullah, pembawa rahmat untuk alam semesta, bulan berkah, bulan khanduri dan sedekah, juga sebagai bulan dakwah.

Setelah beliau dilantik menjadi Rasul, mulailah beliau berdakwah untuk membawa risalah Allah kepada umatnya dengan mentauhidkan Allah, beriman kepada Allah, beriman kepada Rasul, dan kebenaran dakwahnya.

Untuk pencerahan sistem atau mekanisme dakwah beliau, Allah Swt menuntun lewat firman-Nya yang diabadikan dalam Surah An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”

Al-Hikmah artinya kebijaksanaan dan argumen yang kuat dan jelas, yang dapat dipahami dan diterima oleh akal. Termasuk juga dalam hal ini adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, sehingga dakwah bisa disampaikan dengan tepat sesuai dengan kondisi dan kedudukan orang yang diajak. Metode ini cocok untuk orang-orang cendekiawan atau yang memiliki pengetahuan tinggi.

Sementara Al-Mauizhah Al-Hasanah berarti nasihat atau pelajaran yang baik, lemah lembut, dan menyejukkan hati. Tujuannya adalah untuk memengaruhi perasaan dan pikiran pendengar sehingga pesan dakwah dapat diterima dengan baik dan mampu menghasilkan tindakan yang baik. Metode ini sangat cocok untuk masyarakat awam, dengan memberikan nasihat, kisah teladan, atau perumpamaan yang menyentuh jiwa mereka dan tidak menimbulkan perselisihan.

Metode dakwah Rasulullah membagikan mauizah hasanah kepada 3 kategori: sir, jahar, dan bil qatal.

Pada awal kerasulannya, beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau memperhatikan siapa kiranya yang bisa dibisiki dakwahnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala.

Setelah tiga tahun beliau melalui dakwah secara sir, dan alhamdulillah hasil yang beliau dapatkan adalah berimannya Assabiqunal Awwalun, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Swt di Surah At-Taubah ayat 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Assabiqunal Awwalun yaitu Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Zaid bin Haritsah, Bilal bin Rabah, Ummu Aiman, Hamzah bin Abdul Muthalib, Utsman bin Affan. Juga banyak sahabat-sahabat yang lain, sehingga jalan dakwah Rasul semakin terbuka lebar.

Lalu Allah memerintahkan beliau untuk berdakwah secara terang-terangan sebagaimana yang telah diabadikan oleh Allah Swt dalam Al-Quran yang terdapat dalam Surah Al-Hijr ayat 94: “Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Setelah tiga tahun berdakwah secara bisirri, Rasulullah memasuki fase kedua, yaitu dakwah biljahar secara terang-terangan. Yang pertama beliau lakukan adalah mengumpulkan penduduk Mekkah di Jabal Qabis, mengajak mereka beriman kepada Allah, menjunjung perintah-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Yang secara langsung mendapat reaksi keras dari Abu Lahab sambil menunjuk tangan ke wajah Rasulullah. Lalu dia berkata: “Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”.

Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya untuk mencela Abu Lahab: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka). Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali sabut.”

Dalam dakwah jaharnya, Rasulullah di samping menekankan penduduk Mekkah sebagai umatnya untuk istiqamah dalam beriman kepada Allah Swt, beliau juga berdakwah untuk mengeluarkan mereka dari praktik-praktik jahiliahnya seperti riba, mabuk-mabukan, bunuh-membunuh, curi-mencuri, apalagi menyembah berhala, dan berbagai bentuk maksiat lainnya.

Tentang riba, Rasulullah menegaskan kepada mereka melalui firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 275: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Pada tahun keenam kenabiannya, Rasulullah makin bertambah cerah jalan dakwahnya seiring dengan memeluknya Islam orang yang sangat gagah dan sangat ditakuti, yaitu Sayyidina Umar bin Al Khattab Ra. Dengan tegas beliau membantu dakwah Rasulullah dengan mengucapkan siapa saja yang menentang Muhammad maka dia akan berhadapan dengan dirinya.

Masuknya Islam atau berimannya Sayyidina Umar merupakan tanda diterimanya doa Rasulullah ketika beliau mendapatkan kekerasan dari penduduk Thaif sehingga berdarah-darah kena lemparan batu, tahi unta, dan sebagainya. Lalu kemudian beliau memohon kepada Allah: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar, Umar bin Khattab atau Umar bin Hisyam.

Ternyata Allah memilih Umar bin Al Khattab untuk menguatkan Islam daripada memilih Umar bin Hisyam yaitu nama asli dari Abu Jahal.

Setelah berdakwah secara jahiriah selama tujuh tahun, masih juga ada penduduk Mekkah yang tidak beriman. Maka Rasulullah mulai memasuki dakwahnya ke dalam mauizah hasanah metode ketiga, yaitu dakwah bil qatli dengan peperangan.

Itu pun bukan pilihan beliau sendiri melainkan tuntutan/arahan dan amarah dari Allah Swt melalui firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 29: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk kepada Islam.”

Dari itu Rasulullah Saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, yaitu: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan salat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu Wa Taala.”

Dari ini jelaslah bahwa berperang untuk membela agama Allah adalah bagian dari mauizhatul hasanah, dan tidak terbatas mauizhatul hasanah itu hanya dengan lisan semata-mata.

Mari kita sambut Maulidur Rasul dengan penuh gembira, senang hati, dan suka cita. Mari kita isi bulan Maulid dengan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah, juga dengan berkhanduri, berbuat ihsan sesama, terutama kepada yatim piatu, fakir miskin, ibu-ibu tunggal, juga duafa-duafa lainnya.

Dari sekarang, mari kita tinggalkan praktik-praktik riba dalam muamalah dan usaha kita sehari-hari menuju rida Allah Swt.

Mari kita berdakwah dengan hikmah dan mauizhatil hasanah dan juga berjihad di jalan Allah dengan tanpa bosan seperti layaknya Rasulullah Saw. Dakwah dengan berperang tidak keluar dari makna mauizhah hasanah.

Semoga semua kita senantiasa mendapatkan rida Allah Swt mulai di dunia sampai di yaumil akhir kelak nantinya. Amin ya Rabbal Alamin.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy