Jembatan Ambruk di Rusip Antara Dibangun Tahun Depan Pakai APBN 2026

Pijas Visara
Pijas Visara (dua dari kanan) saat ditunjuk sebagai Plt Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Senin (04/08/2025). Foto: Istimewa via Lintasgayo.com

Takengon – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Tengah Pijas Visara menyebutkan jembatan gantung ambruk yang menghubungkan Kampung Tanjung dan Kampung Berandeh Paya di Kecamatan Rusip Antara akan dibangun tahun depan.

Kemungkinannya, kata Pijas, jembatan akan dibangun menggunakan APBN 2026.

“Insya Allah tahun 2026 mendatang jembatan itu akan dibangun kembali. Kita sudah mengusulkan [kepada] Kementerian PUPR dan mereka sudah survei ke lokasi,” ujar Pijas kepada Line1.News melalui WhatsApp, Kamis, 11 September 2025.

Informasi terakhir, kata dia, proses perencanaan pembangunan jembatan sedang dilakukan di Kementerian PUPR.

Namun, tambah Pijas, Pemkab Aceh Tengah melalui Dinas PUPR Aceh Tengah juga tetap mengusulkan pembangunan jembatan baru di kampung itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika Kementerian PUPR tidak jadi menganggarkan.

“Dinas PUPR [Aceh Tengah] sudah turun beberapa kali. Malah sebelum ambruk, kita sudah menyiapkan DED (Detail Engineering Design)nya. Kesimpulannya harus dibangun jembatan baru, kembali lagi [ketersediaan] anggarannya,” jelas Pijas.

Baca juga: Perjuangan Siswa Rusip Antara Seberangi Sungai dengan Rakit Drum Menuju Sekolah

Dia juga mengatakan ada dua opsi yang diusulkan, yakni jembatan rangka baja dan jembatan gantung. Jika nilainya “hanya” Rp1 miliar, ada kemungkinan bisa ditanggulangi dengan APBK. Kalau lebih dari itu, otomatis harus menggunakan APBN.

“Untuk jembatan rangka baja bentang 60 meter menelan anggaran Rp10 miliar. Namun untuk jembatan gantung yang baru kurang lebih Rp1 miliar.”

Jembatan gantung penghubung Kampung Tanjung dan Kampung Berandeh Paya di Kecamatan Rusip Antara ambruk sejak tujuh bulan lalu. Hingga kini, Pemkab Aceh Tengah tak kunjung memperbaikinya.

Heri, Reje Kampung Tanjung, mengeluhkan kondisi tersebut karena aktivitas warganya terganggu, terutama siswa saat pergi dan pulang sekolah. Kini, mereka terpaksa menaiki rakit drum yang dibuat seadanya memakai anggaran desa.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy