Takengon – Jembatan gantung penghubung Kampung Tanjung dan Kampung Berandeh Paya di Kecamatan Rusip Antara ambruk sejak tujuh bulan lalu. Hingga kini, Pemkab Aceh Tengah tak kunjung memperbaikinya.
Heri, Reje Kampung Tanjung, mengeluhkan kondisi tersebut karena aktivitas warganya terganggu. Terutama siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) saat pergi dan pulang sekolah. Kini, mereka terpaksa menaiki rakit drum yang dibuat seadanya.
Heri mengirimkan dua video yang memperlihatkan siswa dan warga menaiki rakit drum. Video ini direkam dua hari lalu atau pada Selasa, 9 September 2025.
Di sebuah video terlihat beberapa siswa berseragam SD duduk di atas rakit papan yang ditopang beberapa drum plastik biru. Seorang perempuan berdiri di tengah rakit menarik seutas tali yang menjuntai di antara kedua sisi sungai.
Perlahan-lahan, tali ditarik agar rakit bisa melaju ke seberang. Namun, rakit tak merapat persis di pinggir sungai yang lebarnya puluhan meter tersebut.
Beberapa meter sebelum tepi sungai, rakit berhenti. Para “penumpang” kemudian turun. Mereka telah membuka sepatunya agar tidak basah. Dua siswi yang memakai sandal plastik turun lebih dulu diikuti seorang ibu dan dua siswa lainnya.
Di video lainnya yang diberi latar lagu Rafly, seorang pria menarik rakit. Beberapa bocah–sepertinya hendak pergi mengaji–duduk di lantai rakit yang basah. Raut mereka sedikit tegang tapi seketika tersenyum ketika tahu dirinya sedang direkam.
Sementara di latar video terlihat jembatan gantung yang masih berada di tempatnya. Tapi penampakannya kini agak seram, mirip wahana roller coaster alias kereta luncur yang hancur karena lama tak terpakai.
Jembatan gantung itu termasuk “legenda” karena telah berdiri sejak 47 tahun lamanya. Tapi tujuh bulan lalu, air sungai yang meluap membuat sang legenda harus beristirahat sementara, mungkin untuk selama-lamanya.
Heri mengatakan jembatan itu sangat vital karena para siswa di Tanjung bersekolah di Berandeh Paya.
“Di kampung itu ada dua sekolah SD dan SMA. Itu jalur yang dekat menuju sekolah,” ujar Heri saat dihubungi Line1.News, Kamis, 11 September 2025.
Jalur alternatif memang ada tapi kondisinya rusak parah. “Bahkan jarak tempuhnya mencapai 25 hingga 30 kilometer,” ungkapnya.
Tak mau akses anak-anak mereka terhambat, aparatur gampong pun cepat-cepat membuat rakit seadanya. Biayanya menggunakan anggaran desa. Setiap orang yang hendak melintas tak perlu membayar: gratis.
Namun, rakit drum itu tak bisa diandalkan setiap saat. Ketika sungai meluap, terlalu berisiko untuk menyeberang, nyawa taruhannya.
“Kalau air besar, siswa SD dan SMA tidak bisa sekolah. Mereka harus menunggu air surut. Begitu juga kami para petani, sangat kesulitan kalau mau ke kebun atau sawah,” keluhanya.
Data dari Heri, Tanjung dan Berandeh Paya dihuni 390 keluarga. Dia tak merinci berapa keluarga per kampung. Namun, selain petani dan siswa, warga lain juga saat hendak beribadah ke masjid atau menghadiri kegiatan keagamaan seperti perayaan Maulid Nabi. Tak jarang mereka terpaksa menempuh jalur alternatif yang lebih jauh, hanya untuk bisa beraktivitas seperti biasa.
Kini, Heri berharap Pemkab Aceh Tengah dan pihak terkait segera segera mengambil langkah konkret untuk membangun kembali jembatan tersebut.
“Kami mohon kepada pemerintah agar memperhatikan kondisi kami. Supaya anak-anak bisa sekolah dengan lancar, para petani bisa ke kebun tanpa hambatan dan warga bisa beribadah.”
Dia menyebut Bupati Aceh Tengah Haili Yoga saat berkunjung di kampung itu pernah menjanjikan pembangunan kembali jembatan. Namun Heri tidak tahu kapan pembangunan dimaksud bakal terlaksana.[]
Melawan Arus dengan Rakit Drum, Asa Siswa di Bawah Jembatan ‘Roller Coaster’ Rusip Antara https://t.co/IdGDZoavaX pic.twitter.com/OU9JNb2QjV
— ®💤 (@RaziDotMuray) September 11, 2025


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy