Hipertensi ‘Hantui’ Remaja Kurang Tidur

Ilustrasi remaja mengantuk
Ilustrasi remaja mengantuk. Foto: unsplash.com @susserpepa

Tidur cukup bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan remaja kurang tidur berisiko mengalami hipertensi.

Hasil studi ini dipresentasikan dalam pertemuan American Heart Association di New Orleans pada 6-9 Maret 2025. Diungkapkan, remaja yang tidur kurang dari 7,7 jam memiliki risiko “dihantui” hipertensi lima kali lebih tinggi.

Menurut American Academy of Sleep Medicine, remaja idealnya membutuhkan tidur 8-10 jam. Namun diperkirakan banyak siswa sekolah menengah hanya tidur 6,5 jam per malam.

Dampak Serius Insomnia

Penelitian itu melibatkan sekitar 400 remaja yang melaporkan sendiri gejala insomnia mereka. Untuk hasil lebih akurat, sensor dipasang di kepala, wajah, dan tubuh peserta guna mengukur durasi tidur mereka.

“Kami tahu kurang tidur berkaitan dengan hipertensi pada orang dewasa, tapi kami belum tahu apakah ini juga terjadi pada remaja,” ujar Julio Fernandez-Mendoza, profesor psikiatri di Pennsylvania State University, dilansir dari Eurekalert.org, Sabtu, 8 Maret 2025.

Studi itu juga menemukan remaja yang hanya kurang tidur tanpa mengalami insomnia pun tetap berisiko tiga kali lipat mengalami tekanan darah tinggi.

Pentingnya Pola Tidur Sehat

Temuan itu menegaskan kombinasi insomnia dan kurang tidur bisa memperparah kondisi kesehatan. Karena itu, penting bagi remaja menjaga kualitas tidur sejak dini guna mencegah masalah jantung di masa depan.

Oleh sebab itu, meningkatkan kualitas tidur dapat dilakukan setiap orang untuk mendukung kesehatan kardiovaskular. Komponen lainnya adalah mengonsumsi makanan sehat, aktif secara fisik, tidak merokok, dan menjaga berat badan ideal.

”Temuan kami penting karena menarik perhatian pada kebutuhan remaja yang mengeluhkan gangguan tidur untuk memantau dan menilai tidur mereka secara obyektif. Hal ini juga membantu mereka meningkatkan kualitas tidur guna mencegah masalah jantung sejak dini,” kata penulis studi itu, Axel Robinson.

Meski begitu, penelitian tersebut memiliki keterbatasan karena dilakukan di laboratorium tidur, sehingga peserta mungkin tidak tidur senyaman di rumah. Namun, temuan ini tetap menjadi pengingat bahwa pola tidur sehat perlu diperhatikan sejak remaja.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy