Jakarta – Situasi global yang masih penuh ketidakpastian pada 2025 kemungkinan memberikan sejumlah risiko yang berpengaruh negatif terhadap perekonomian Indonesia.
“Saat ini dinamika global masih menjadi faktor yang turut pengaruhi perkembangan ekonomi [nasional] ke depan,” ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto usai High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat, Jumat dikutip Sabtu, 1 Februari 2025, dari CNBC Indonesia.
Saat ini, Airlangga memperkirakan ekonomi global masih lemah, yaitu 3,2 persen pada 2025. Akibatnya, Indonesia bakal menghadapi sejumlah risiko.
“Seperti volatilitas harga komoditas tingkat suku bunga tinggi dan tentunya kebijakan perdagangan dari pemerintahan Amerika Serikat yang sering kita sebut Trump 2.0, serta kerentanan pangan energi dan perubahan iklim,” ujarnya.
Namun, kata Airlangga, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh kuat di sekitar 5 persen. Bahkan dia mengklaim Indonesia sudah berada di peringkat delapan.
“Lebih tinggi dari Italia dan Prancis. Inflasi juga terjaga rendah pada level 1,57 persen. Tentu Indonesia harus jaga tetap pertumbuhan ekonomi.”
Hadir dalam pertemuan itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Pelaksana tuga Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy