Lhoksukon – Keuchik Gampong Lhok Pu’uk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, T Bahtiar berharap pemerintah kabupaten hingga pusat segera turun tangan membenahi infrastruktur desanya yang hancur dihantam gelombang pasang purnama.
“Pj Gubernur [Aceh], Pj Bupati [Aceh Utara], anggota dewan harus turun ke lapangan untuk melihat kondisi kami. Kami mohon. Dana tanggap darurat [yang ada] tolonglah [dipakai untuk] membantu kami yang sedang menderita ini,” ujar Bahtiar saat ditemui wartawan di lokasi terjangan pasang purnama Desa Lhok Pu’uk, Kamis, 19 September 2024.
Dengan suara serak Bahtiar mengatakan setelah bencana itu terjadi pemerintah belum turun ke sana. “[Seolah-olah] kami di sini tidak ada lagi pemerintah yang memperhatikan. Saya tidak bisa lagi berkalimat (berkata-kata), saya betul-betul sedih, selaku kepala desa di sini gak tahu lagi harus mengatakan apa, supaya pemerintah memperhatikan kami,” ujar Bahtiar.
Dia mengatakan gelombang laut akibat pasang purnama setiap tahun mengancam desa tersebut. Namun, tahun ini, kata Bahtiar, pasang purnama yang terjadi lebih parah dibandingkan sebelumnya. “Untuk kali ini sangat dahsyat,” ujarnya.
Saat gelombang pasang purnama melanda Lhok Pu’uk pada Selasa, 17 September 2024, kata Bahtiar, 29 rumah warga hancur setelah terseret air laut. Sementara hari ini, kata dia, pasang purnama memporak-porandakan 9 rumah warga. Sebagian badan jalan juga ikut hancur diterjang gelombang dan susah untuk dilalui.

Panjang garis pantai yang tergerus gelombang pasang purnama, kata Bahtiar, sekitar empat kilometer. “Jadi batu jeti yang sudah dipasang di laut itu, hingga hari ini sayapnya belum selesai, sehingga desa kami dibawa air setiap pasang purnama,” ungkapnya.
Warga Lhok Pu’uk, kata Bahtiar, telah lima kali merasakan kedahsyatan pasang purnama. Namun, kata dia, tanggul laut yang dibangun belum selesai juga.
“Pemerintah tidak melihat kami secara serius karena [pembangunan tanggul] selalu terkendala dengan hal-hal lain, DED (Detail Engineering Design)-lah, entah apa, kita orang awam yang tidak tahu kendala apa yang terjadi sehingga bantuan tidak sampai ke kami,” ujarnya.
Dia juga meminta pemerintah mencari solusi untuk membantu warga Lhok Pu’uk, yang rumahnya hancur akibat gelombang pasang. “Bagaimana caranya pemerintah agar membantu kami rakyat jelata di sini yang butuh sekali bantuan. Mata pencaharian masyarakat di sini nelayan tradisional, yang ketika tidak bisa melaut pastinya akan lapar.”
[FOTO] Suasana di Lhok Pu’uk Seunuddon Usai Diterjang Pasang Purnama
Hingga hari ini, warga yang didominasi anak-anak telah mengungsi ke Meunasah Lhok Pu’uk. Dari Dusun Barat 140 KK atau 500 jiwa dan Dusun Teungoh 64 KK atau 285 jiwa.
Nurlaila, seorang pengungsi yang ditemui di Meunasah Lhok Pu’uk mengatakan ia sudah dua hari meninggalkan rumahnya. “Sudah tidak berani lagi tinggal di rumah, rumah sudah roboh, siapa yang berani tinggal dengan kondisi seperti ini, gelombangnya meluap ke darat, jalan juga sudah putus, listrik juga mati,” ujarnya.
Nurlaila juga mengharapkan bantuan pemerintah, terutama untuk anak-anak, karena saat ini tidak mungkin lagi pulang ke rumah. Di meunasah tersebut, warga termasuk anak-anak sudah dua malam tidur di dalam dan depan bangunan meunasah. Untuk konsumsi, mereka memasak bersama-sama.
Nurlaila mengaku belum tahu caranya anak-anak Lhok Pu’uk yang mengungsi bisa pergi ke sekolah. “Belum tahu, sampai hari ini anak-anak tidak sekolah,” ujar Nurlaila yang sehari-hari bekerja sebagai pencari tiram di sungai. Dengan pasang purnama yang masih berlangsung, Nurlaila kini tak bisa lagi mencari nafkah seperti biasa.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy