Banda Aceh – Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB perkapita Aceh saat ini masih dalam kategori rendah atau penghasilan menengah bawah (lower middle income). Pertumbuhan ekonomi Aceh di bawah rata-rata nasional membuat provinsi di ujung Pulau Sumatra ini menghadapi kendala untuk keluar dari daerah berpendapatan menengah atau Middle Income Trap (MIT) menjadi berpenghasilan tinggi.
Lantas, apa strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Aceh ke depan?
Bank Indonesia (BI) membuat analisis identifikasi pertumbuhan ekonomi Aceh dalam kajian berjudul ‘Memantau Potensi Pertumbuhan Ekonomi Aceh Menggunakan Model IndoTerm Aceh’. Hasil analisis BI itu disajikan dalam ‘Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Agustus 2024’, yang dirilis pada 4 September 2024.
Berikut dikutip Line1.News selengkapnya hasil kajian BI itu:
Aspirasi Indonesia untuk keluar dari Middle Income Trap (MIT) dan menjadi negara berpenghasilan tinggi sebelum 100 tahun kemerdekaan terhambat karena defisit pertumbuhan ekonomi. Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun tetapi tumbuh hanya sekitar 5% per tahun, bahkan karena krisis Covid pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2010-2022 berada di angka 4,4 persen.
Saat ini Aceh, dari angka PDRB per kapitanya masih masuk ke kategori lower middle income, ketika Indonesia secara nasional sudah mencapai posisi upper middle income. Selain itu, prospek Aceh untuk keluar dari MIT lebih menghadapi kendala karena pertumbuhan ekonominya hampir selalu lebih kecil daripada pertumbuhan ekonomi nasional dengan kisaran sekitar 4%-an per tahun.
Dalam literatur ekonomi pembangunan jalan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi umumnya dilakukan melalui transformasi struktural yaitu perubahan struktur ekonomi dari sektor yang produktivitasnya rendah seperti pertanian menjadi non-pertanian misalnya industri. Proses ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini yang dilakukan di berbagai negara berkembang dan juga Indonesia, dimana prosesnya mencapai klimaks di era 1980-an dan 1990-an. Ada banyak kisah sukses dari jalan yang diambil ini baik oleh Indonesia maupun negara-negara lain seperti Taiwan,
Malaysia, Korea Selatan (yang dikenal dengan Asian Tiger).
Menariknya, struktur ekonomi Aceh saat ini hampir mirip dengan Indonesia di era 1980-an dengan dominasi sektor agraris yang cukup dominan. Pertanyaan kunci yang muncul adalah apakah Aceh mempunyai prospek untuk melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan cara yang sama dengan Indonesia di 1980-an melalui industrialisasi berbasis ekspor agar dapat mengenyam manfaat dari transformasi struktural? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh banyak negara-negara berpendapat rendah lainnya di dunia ini, dan jawabannya saat ini sangat tidak pasti.
Era industrialiasisi negara-negara Asian Tiger terjadi pada posisi historis yang sangat mungkin unik. Salah satunya adalah terjadi ketika raksasa ekonomi China belum melakukan liberalisasi ekonomi. Ketika China melakukan liberarisasi ekonomi di tahun 1990-an dan menjadi anggota WTO di tahun 2001, praktis produk-produk manufakturing China membanjiri pasar global dan mengurangi potensi negara-negara berpendapatan rendah lain untuk melakukan industrialisasi berbasis ekspor. Selain itu fenomena automasi, re-shoring (kembalinya manufakturing ke negara maju karena sifat manufaktur yang consumer-oriented) membuat era 2000-an menjadi era stagnasi industrialisasi untuk banyak negara berkembang. Banyak negara-negara berkembang bahkan mengalami deindustrialisasi prematur. Prospek industrialisasi sebagai akselerator growth menjadi tidak pasti. Indonesia sendiri mengalami stagnasi industrialisasi terutama di sektor manufakturnya di tahun 2000-an. Aceh bahkan mengalami penurunan share sektor manufaktur cukup signifikan dalam periode yang sama.
Latar belakang seperti ini membuat kita harus memikirkan strategi akselerasi pertumbuhan ekonomi Aceh yang konsisten dengan tantangan baru ini. Identifikasi strategi alternatif akselerasi pertumbuhan ekonomi Aceh ini mengambil kerangka konseptual yang diperkenalkan oleh Joseph Stiglitz (Pakar ekonomi peraih Nobel dari Columbia University, Amerika), yang ditulisnya pada tahun 2018. Strategi ini disebut dengan Multi-Pronged. Strategi ini menyarankan negara-negara yang mempunyai aspirasi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi untuk tidak terlalu mengandalkan sektor manufaktur saja, bahkan berharap bahwa mereka akan mendapat the Asian Miracle tahun 1990-an karena zaman sudah berubah. Strategi multi-pronged mendorong akselerasi dilakukan untuk semua sektor yang relevan dan dengan tetap mengandalkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh negara-negara tersebut. Sektor manufaktur tetap memainkan perannya tetapi juga memanfaatkan keunggulan komparatif dari sektor lain misalnya pertanian atau kalau perlu SDA. Melakukan modernisasi sektor pertanian dan melakukan transformasi pertanian yang baik yaitu optimalisasi on-farm (hulu) juga off-farm (hilir). Lalu terakhir melakukan skill-upgrading untuk mendukung sektor jasa menjadi lebih produktif dan lebih memberikan keadilan ekonomi.
Mengadopsi kerangka konseptual itu dibuatlah analisis identifikasi apa yang harus dilakukan sebagai strategi akselerator pertumbuhan ekonomi Aceh. Beberapa pertimbangan berikut menjadi basis untuk identifikasi. Pertama, ekonomi Aceh masih sangat agraris dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia. Dalam konteks transformasi ekonomi yang industry-driven ini merupakan disadvantage, tetapi dalam konteks global sekarang dan dalam strategi multi-pronged ini malah merupakan advantage karena bersifat keunggulan komparatif. Dengan pendapatan perkapita saat ini seharusnya share dari pertanian dalam PDRB Aceh sudah jauh lebih kecil, sehingga Aceh dapat dikatakan mengalami kelambatan dalam transformasi struktural. Besarnya ukuran dari sektor pertanian Aceh malah bisa digunakan sebagai faktor kunci dari akselerasi pertumbuhan jika ditopang dengan strategi yang tepat. Kedua, Aceh masih mempunyai ruang yang banyak untuk meningkatkan kualitas SDM-nya melalui pendidikan dan skill-upgrading. Jika ini dapat dilakukan dengan progresif dan diarahkan untuk mengembangkan sektor-sektor jasa modern maka Aceh bisa mengalami tersierisasi yang produktif.
Dari analisis itu diidentifikasilah tiga strategi utama yaitu (a) Strategi transformasi pertanian strategis; (b) strategi revitalisasi sumber daya alam; dan (c) strategi peningkatan SDM penopang tersierisasi.
Dalam strategi transformasi sektor pertanian strategis akselerasi pertumbuhan ekonomi ini, dilakukan melalui upaya-upaya ekstra peningkatan produktivitas sektor pertanian pada berbagai produk pertanian. Peningkatan produktivitas ini dilakukan melalui mekanisasi, penguatan teknologi juga peningkatan kualitas SDM di sektor pertanian. Secara natural penguatan produktivitas berbagai sektor-sektor pertanian ini juga akan mendorong industrialisasi di sektor manufaktur pengolah produk pertanian, sehingga sesuai dengan karakteristik strategi Multi-Pronged ala Stiglitz.
Strategi revitalisasi sumber daya alam juga dirumuskan karena bagaimanapun juga Aceh adalah daerah yang kaya dengan SDA terutama minyak dan gas bumi, dan baru-baru ini ditemukan cadangan Migas baru yang cukup berlimpah. Potensi akselerasi pertumbuhan ekonomi Aceh ke depan sebagai dampak dari potensi-potensi cadangan SDA baru ini juga perlu untuk diidentifikasi.
Sementara itu strategi peningkatan kualitas SDM penopang tersierisasi dilakukan melalui upaya tambahan untuk meningkatan akses ke sekolah menengah atas serta pendidikan tinggi agar Aceh sangat berpotensi untuk bisa mengejar pencapaian pendidikan di propinsi-propinsi yang lebih maju seperti Jakarta yang sudah mencapai 11,45 tahun misalnya. Penting juga untuk diutamakan peningkatan akses ke pendidikan tinggi karena tenaga kerja lulusan perguruan tinggi ternyata hampir semuanya bekerja di sektor jasa. Dengan strategi peningkatan kualitas pendidikan yang tepat ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja di sektor jasa yang saat ini relatif kurang produktif sehingga bisa tersierisasi yang terjadi bisa menjadi pengganti industrialisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Aceh ke depan.
Simulasi dengan model IndoTERM Aceh dilakukan dalam tiga simulasi utama yaitu Simulasi A di mana dalam skenario ini beberapa sektor pertanian utama mengalami tambahan peningkatan produktivitas, dalam hal ini all-factors-productivity, sebesar 1% pertahun yang bisa diupayakan melalui mekanisasi alat-alat pertanian, adopsi perkembangan teknologi baru, riset terutama yang didukung oleh negara untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, pelatihan-pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja di sektor pertanian. Diharapkan skenario ini mendorong adanya hilirisasi di sektor manufaktur. Simulasi tambahan dilakukan melalui investasi ekstra (tambahan 10% per tahun) untuk meningkatkan kapasitas produksi sektor pengolahan produk pertanian. Simulasi B dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi hulu gas alam sebesar dua kali lipat pada tahun 2028.
Dalam konteks mengeksplorasi potensi penguatan tersierisasi di Aceh dilakukan dua simulasi yaitu (a) Simulasi penguatan produktivitas tenaga kerja di sektor-sektor jasa utama modern. Penguatan produktivitas ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti meningkatan akses dan kualitas pendidikan terutama pendidikan tinggi di mana potensial Aceh masih banyak ruang untuk diupayakan. Tambahan produktivitas tenaga kerja di sektor jasa disimulasikan 2 kali lebih cepat (tambahan 3% per tahun) daripada skenario baseline standar model IndoTERM nasional. Sebagai tambahan karena sifat sektor jasa yang non-tradable juga disimulasikan pergeseran pola konsumsi masyarakat Aceh agar semakin berorientasi ke sektor jasa modern sebesar juga 3% per tahun.
Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa skenario-skenario yang diformulasikan, jika dilakukan secara bersama-sama cukup mampu untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Aceh secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi Aceh ke depan, dalam skenario BAU, diperkirakan hanya akan berada di seputaran 4%, 1% di bawah pertumbuhan ekonomi nasional (5%). Skenario transformasi pertanian dan hilirisasi strategis yang dikombinasikan dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja sektor jasa modern (melalui skill upgrading) dan juga dengan pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah sektor jasa (tersierisasi) mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Aceh dalam jangka panjang (2022-2040) dari 3,99% menjadi 5,19%, melampaui proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy