Baitul Mal dan Islamic Relief akan Bangun 50 Rumah Duafa di Lhokseumawe, Total Rp4,5 M

Sosialiasai bangun rumah dhuafa bantuan Baitul Mal dan YIRI
Penyerahan dana secara simbolis dari Yayasan Islamic Relief Indonesia kepada Pemko Lhokseumawe untuk pembangunan rumah kaum duafa pada acara sosialisasi program tersebut di Oproom Kantor Wali Kota, Sabtu, 2 Agustus 2025. Foto: Humas Lhokseumawe

Lhokseumawe – Pemko Lhokseumawe melalui Baitul Mal berkolaborasi dengan Yayasan Islamic Relief Indonesia akan membangun 50 rumah layak huni untuk kaum duafa.

Dana pembangunan rumah itu bersumber dari Baitul Mal Kota (BMK) Lhokseumawe senilai Rp25 juta perunit, total Rp1,25 miliar. Adapun dari Yayasan Islamic Relief Indonesia (YIRI) Rp65 juta perunit, total Rp3,25 miliar.

Dengan demikian, total anggaran perunit Rp90 juta, sehingga untuk 50 rumah mencapai Rp4,5 miliar. Data itu dilansir laman Pemko Lhokseumawe, Sabtu, 2 Agustus 2025.

Baca juga: Islamic Relief Indonesia akan Bangun 50 Rumah Duafa di Lhokseumawe

Sebelumnya, Pemko dan YIRI sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pembangunan 50 rumah duafa, di kantor pusat YIRI, Jakarta Selatan, Selasa, 22 Juli 2025.

Menindaklanjuti MoU itu, Pemko Lhokseumawe menggelar sosialisasi di Oproom Kantor Wali Kota, Sabtu (2/8). Sosialisasi diisi tiga narasumber, Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, CEO Islamic Relief Indonesia, Nanang Subana Dirja, dan Ketua Dewan Pengawas Syariah YIRI, Profesor Muhammad Said.

Para narasumber memperkenalkan konsep Islamic Ultra Poor Graduation (IUPG), sebuah strategi pengentasan kemiskinan ekstrem secara berkelanjutan.

Program ini disebut dirancang untuk mendorong para mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat), sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Kami ingin membuktikan bahwa zakat bukan hanya untuk membantu sesaat. Tapi bisa menjadi instrumen kuat dalam mengubah kehidupan masyarakat miskin secara permanen,” ujar Sayuti Abubakar.

Selain para pejabat Pemko Lhokseumawe, sosialisasi itu juga dihadiri Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, Teungku Abubakar Ismail atau Abati, dan Ketua Komisi D DPRK Lhokseumawe, Nurbayan.

Penerima Manfaat Awal

Seusai sosialisasi itu, rombongan meninjau lokasi awal pembangunan rumah. Tiga warga yang menjadi calon penerima manfaat awal ialah Ruqayah, warga Desa Cot Girek Kandang, Fakhrurrazi, warga Meunasah Blang, Kecamatan Muara Dua, dan Suryani, warga Paloh Punti, Kecamatan Muara Satu.

Nanang Subana Dirja menyampaikan pembangunan rumah itu akan berlangsung enam bulan. Masing-masing penerima manfaat juga akan mendapat dana Rp16 juta yang ditransfer ke rekening pribadi sebagai biaya ongkos tukang dan pekerja.

Waspadai Pungli

Wali Kota Sayuti menegaskan pembangunan rumah bantuan tersebut tidak dipungut biaya. Dia meminta masyarakat mewaspadai praktik pungutan liar atau pungli.

“Jika ada yang mengatasnamakan pemerintah atau Baitul Mal untuk meminta bayaran, segera laporkan. Ini program untuk rakyat miskin dan harus diberikan secara gratis,” tegas Sayuti.

Sayuti berharap semakin banyak pihak berkontribusi dalam program zakat melalui Baitul Mal. “Ke depan, kita ingin semakin banyak perusahaan yang menyalurkan zakatnya ke Baitul Mal. Zakat jangan hanya dianggap kewajiban individu, tapi juga menjadi tanggung jawab sosial korporasi,” ujarnya.

Ketua Dewan Pengawas Syariah YIRI, Muhammad Said berharap program ini menjadi percontohan nasional dalam mengintegrasikan pendekatan zakat, penguatan sosial, dan pemberdayaan ekonomi untuk menekan angka kemiskinan ekstrem secara signifikan.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy