Semarang – Seorang dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), AR, diduga bunuh diri karena mengalami bullying atau perundungan, saat mengikuti Program Studi Anestesi di RSUP dr. Kariadi Semarang.
Kementerian Kesehatan kini telah menghentikan program tersebut. Instruksi pemberhentian program itu dikeluarkan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Azhar Jaya melalui surat bernomor TK.02.02/D/44137/2024 yang ditujukan kepada Direktur Utama RSUP Dr Kariadi.
“Sehubungan dengan dugaan terjadinya perundungan di Program Studi Anestesi Universitas Diponegoro yang ada di RSUP dr. Kariadi yang menyebabkan terjadinya bunuh diri pada salah satu peserta didik program studi anestesi Universitas Diponegoro,” kata Azhar dalam surat tersebut.
“Maka disampaikan kepada saudara untuk menghentikan sementara program studi anestesi di RSUP Dr. Kariadi sampai dengan dilakukannya investigasi dan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan oleh jajaran Direksi Rumah Sakit Dr. Kariadi dan FK Undip.”
7 Laporan Perundungan di RSUP Kariadi
Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin geram lantaran kasus perundungan kembali terulang di lingkungan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Budi mengatakan kali ini akan memberikan sanksi yang lebih berat.
Kemungkinan besar, sanksi lebih keras akan diberikan kepada pelaku maupun institusi terkait.
“Sudah kita berikan sejak enam bulan yang lalu. Nggak kapok-kapok, akan kita berikan sanksi yang lebih keras,” ujarnya Rabu, dikutip dari detikcom, Kamis, 15 Agustus 2024.
Dalam catatan Kemenkes RI sebelumnya, ada 7 laporan terkait perundungan di RSUP Dr Kariadi. Namun, menkes belum merinci bentuk bullying yang dilakukan pelaku.
Rektor Undip Bantah Ada Perundungan
Rektor Undip Profesor Suhanomo membantah kematian AR karena dipicu masalah perundungan.
“Sehubungan dengan pemberitaan meninggalnya mahasiswi PPDS kami, dr Aulia Risma Lestari, pada media sosial dan media massa, berikut kami sampaikan tanggapan UNDIP,” ujarnya Suhanomo, Kamis.
“Pertama-tama kami menyampaikan turut berduka cita secara mendalam atas meninggalnya dr. Aulia Risma Lestari, anak didik kami pada PPDS,” tambahnya.
“Kami mendoakan semoga Almarhumah husnul khotimah, diterima segala amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran. Kami mengajak semua pihak terutama keluarga besar UNDIP turut memberikan dukungan moril bagi keluarga yang berduka,” bebernya.
Selanjutnya, Suhanomo menyampaikan dari investigasi internal Undip, meninggalnya korban bukan karena perundungan.
“Berdasarkan hasil investigasi internal kami, hal tersebut tidak benar,” ujar Suhanomo.
Dia juga mengatakan korban selama ini merupakan mahasiswi yang berdedikasi dalam pekerjaannya. Namun, kata Suhanomo, korban mempunyai problem kesehatan yang dapat mempengaruhi proses belajar yang sedang ditempuh.[]
Catatan Redaksi
Berita ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan hal serupa. Bila Anda atau teman Anda menunjukkan adanya gejala depresi yang mengarah ke bunuh diri, silakan menghubungi psikolog atau layanan kejiwaan terdekat. Anda juga bisa menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes di 1500-567.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy